Pemilu Secara Online, Mungkinkah?

Januari 14, 2021 7:59 am || By

Ketika ada pemilu, umumnya kita harus hadir langsung ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Sebagian dari kita mungkin akan datang dengan senang hati. Namun, sebagian dari kita lebih memilih untuk golput, entah karena tidak tertarik atau karena tidak sempat. Untuk mengatasi alasan pertama, yaitu kurangnya minat sebagian warga untuk mencoblos, memang amatlah sulit, atau bahkan mustahil. Namun, membuat proses pemilu menjadi lebih praktis tidaklah mustahil.

Pemilu online (kadang disebut internet voting atau i-voting), adalah salah satu solusi yang bisa dilakukan untuk membuat pemilu menjadi lebih praktis. Pemilu online/i-voting berbeda dengan pemilu electronik/e-voting. Dalam pemilu online, para pemilih dapat mencoblos secara online dengan gadget masing-masing, tanpa harus hadir di TPS. Sementara itu, pemilu elektronik adalah istilah untuk penggunaan mesin untuk mencoblos ataupun menghitung suara. Para pemilih tetap perlu hadir di TPS.

Melalui pemilu online, para pemilih dapat mencoblos tanpa harus keluar rumah. Sebenarnya, teknologi untuk melakukan ini pun sudah ada. Estonia adalah salah satu negara yang berhasil menyelenggarakan pemilu, di mana sebagian pemilih dapat mencoblos secara online. Berkaca dari suksesnya Estonia, apakah sebaiknya kita juga memberlakukan pemilu online untuk pemilu selanjutnya?

Nyamannya Mencoblos Secara Online

Mencoblos secara online amatlah praktis. Para pemilih tidak perlu repot-repot datang ke TPS, sehingga para pemilih tidak bisa beralasan “tidak sempat”. Secara logis, semakin mudah untuk mencoblos, maka semakin banyak juga pemilih yang berpartisipasi dalam pemilu. Selain itu, voting online pun semakin dilirik selama pandemi Covid-19, karena para pemilih tidak perlu keluar rumah dan mengurangi kontak fisik dengan orang lain.

Efek dari pemilu online terhadap tingkat partisipasi masyarakat di pemilu bisa diamati dari studi kasus pemilu di Estonia. Estonia telah membolehkan pencoblosan secara online sejak 2005 dan adalah negara pertama di dunia yang memberlakukannya. Negara Baltik ini pertama kali mengizinkan mencoblos secara online pada pilkada tahun 2005. Menurut pemerintah Estonia, saat pilkada 2005, hanya 1.9% suara disalurkan secara online, namun naik secara drastis ke 5.5% pada pemilihan selanjutnya, yaitu pemilihan legislatif tahun 2007[i].

Jumlah suara yang disalurkan secara online di Estonia terus meningkat. Pada pemilu terakhir di Estonia, yaitu pemilihan anggota parlemen Eropa tahun 2019, jumlah suara online berada pada 46.7% dari seluruh suara dalam pemilihan tersebut[ii]. Ini berarti, hampir setengah dari seluruh suara dalam pemilihan tersebut disalurkan secara online. Bukan mustahil jika di masa depan, sebagian besar suara disalurkan secara online.

Selain itu, pada awal pengadaan pemilu online di Estonia, kebijakan ini berhasil meningkatkan minat masyarakat untuk ikut mencoblos. Pada pilkada tahun 2005, partisipasi masyarakat dalam pemilihan dalam berada pada angka 47.4%, dan meningkat hingga 60.6% di pilkada selanjutnya pada tahun 2009[iii]. Untuk pemilihan legislatif pun kasusnya serupa. Pada pemilihan legislatif tahun 2007, angka partisipasi masyarakat dalam pemilihan legislatif adalah sebesar 61.9%, dan meningkat ke 61.9% pada pemilihan legislatif 2011[iv]. Namun, setelah pemilihan ini, tidak ada pengikatan jumlah partisipasi masyarakat yang signifikan[v].

Bahaya dari Pemilu Online

Selain kelebihan, tentu saja pemilu online juga memiliki kekurangan. Kekurangan pertama dari pemilu online adalah pemilu online dapat menjadi sasaran serangan siber. Ada banyak jenis malware yang dapat dipakai untuk mengganggu pemilu online, seperti mengganti pilihan para pemilih, mencuri data, dan merusak gadget yang dipakai untuk mencoblos[vi].

Serangan siber dapat merusak integritas pemilu atau bahkan menggagalkannya, sehingga mengancam keamanan negara itu sendiri. Siapa pun dapat menjadi target serangan siber, baik para pemilih maupun para panitia pemilu.

Selain serangan siber, ancaman lainnya adalah social engineering. Sebenarnya, para pemilih pemilu konvensional pun dapat menjadi korban social engineering[vii]. Social engineering itu sendiri adalah istilah yang mengacu pada praktik memanipulasi seseorang untuk mengambil keuntungan[viii].

Berbagai macam social engineering dapat menyerang baik para pemilih maupun para panitia pemilu. Contohnya, sang pelaku social engineering dapat mengirim email yang mengatakan bahwa di dalam email tersebut terdapat link resmi untuk mencoblos (walaupun sebenarnya bukan) dan jika diklik dapat mengarah ke website palsu atau bahkan lebih parah lagi – memasukkan malware ke gadget korban[ix].

Apakah Sebaiknya Negara-Negara Lain Meniru Pemilu Online Estonia?

Apakah negara-negara lain sebaiknya meniru Estonia? Jawabannya tentu tergantung pada karakteristik dan kemampuan masing-masing negara. Keberhasilan pemilu online amatlah bergantung pada infrastruktur digital sebuah negara[x]. Umumnya, hanya negara-negara maju saja yang mampu melakukan pemilu online karena sudah memiliki infrastruktur digital yang layak.

Dibandingkan dengan negara-negara lain, Estonia sudah amat maju dalam bidang infrastruktur digital. Pada tahun 2019, 89.53% warga Estonia sudah menggunakan internet[xi]. Angka ini jauh lebih tinggi dari rata-rata dunia, yaitu 50.45% pada tahun 2018[xii].

Dibandingkan negara-negara Eropa lainnya, Estonia pun masih tergolong tinggi. Penetrasi internet rata-rata negara-negara Eropa berada adalah 80.35% pada tahun 2018[xiii]. Jika negara-negara lain ingin meniru pemilu online Estonia yang sukses, maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengingatkan tingkat penetrasi internet.

Selain itu, dalam sebuah negara, bahkan dalam sebuah negara maju sekalipun, umumnya masih ada kesenjangan literasi digital. Kesenjangan literasi digital ini biasanya disebabkan oleh faktor sosioekonomi, seperti jumlah penghasilan, tingkat pendidikan, etnis, dan umur[xiv]. Umumnya, mereka yang berpenghasilan lebih rendah dan juga mereka yang lebih tua, lebih jarang mencoblos secara online[xv].

Kesimpulan

Praktik pemilu online memiliki banyak potensi untuk dikembangkan. Pemilu secara online memiliki berbagai manfaat, seperti para pemilih tidak perlu keluar rumah dan datang ke TPS untuk mencoblos. Manfaat ini amatlah dibutuhkan sekarang, saat pandemi Covid-19 masih merajalela.

Namun, pemilu secara online juga masih dihantui berbagai risiko, seperti serangan siber dan social engineering. Bagaimanapun juga, Estonia telah mengizinkan para pemilih untuk mencoblos secara online dan kebijakan ini berhasil meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemilihan. Kesuksesan pemilihan secara online amatlah bergantung dari kesiapan infrastruktur digital sebuah negara – terutama tingkat penetrasi internet. Umumnya, negara-negara berkembang masih tertinggal dalam hal ini. Selain kesiapan infrastruktur digital, sebagian masyarakat masih pun belum menguasai teknologi dengan optimal.

Author: Ariq Dimitri Andrei
Editor: Amelinda Pandu Kusumaningtyas


[i] Valimised. 2020. Statistics About Internet Voting in Estonia. Accessed November 16, 2020. https://www.valimised.ee/en/archive/statistics-about-internet-voting-estonia.

[ii] Ibid

[iii] Ibid

[iv] Ibid

[v] Ibid

[vi] Rubin, Avi. 2001. Security Considerations for Remote Electronic Voting over the Internet. Accessed November 16, 2020. http://www.cs.jhu.edu/~rubin/courses/sp03/papers/e-voting.security.pdf.

[vii] Ibid

[viii] Ibid

[ix] Ibid

[x] Oostveen, Anne-Marie, and Peter van den Besselaar. 2003. E-Voting and Media Effects, An Exploratory Study. Accessed November 16, 2020. https://www.lse.ac.uk/media@lse/research/EMTEL/Conference/papers/Oostveen.pdf.

[xi] International Telecommunication Union. 2020. Individuals using the Internet. Accessed November 16, 2020. https://www.itu.int/net4/ITU-D/icteye/#/topics/2001.

[xii]Ibid

[xiii] Ibid

[xiv] Oostveen, Anne-Marie, and Peter van den Besselaar. 2003. E-Voting and Media Effects, An Exploratory Study. Accessed November 16, 2020. https://www.lse.ac.uk/media@lse/research/EMTEL/Conference/papers/Oostveen.pdf.

[xv] Ibid