PILKADA 2020: Coronavirus, Online Voting, dan Ancaman Keamanan Siber

Januari 14, 2021 7:55 am || By

Pandemi Coronavirus Disease 19 (COVID-19) memaksa manusia untuk beradaptasi dengan pola kehidupan baru dengan menyesuaikan diri agar terhindar dari penularan, termasuk dalam kontestasi politik. Pilkada serentak 2020 kali ini termasuk acara perhelatan besar yang akan melibatkan 224 wilayah kabupaten, dan untuk tingkat kota akan berlangsung di 37 kota, dan 9 provinsi. Dengan demikian, bisa disimpulkan pilkada kali ini melibatkan banyak manusia yang tentunya merupakan kabar buruk ditegah pengendalian penyebaran dari COVID-19.

Penyelenggaran Pilkada serentak 2020 di tengah Pandemi COVID-19 menjadi dilema pengambil kebijakan. Pasalnya, jika diselenggarakan secara normal hampir dipastikan akan mengakibatkan penyebaran penularan semakin tinggi. Setidaknya, ada tiga alternatif kebijakan yang bisa dipilih yaitu pertama, menunda penyelenggaraan sampai dengan keadaan normal kembali; kedua,  tetap menjalankan pemilihan dengan syarat menggunakan protokol kesehatan yang ketat; terakhir, mengadakan elektronik voting (e-voting) dengan metode penggunaan internet yang bisa memilih dari rumah dengan tujuan meminimalisir penyebaran.

Walaupun kita ketahui satu bulan lalu DPR memutuskan bahwa Pilkada akan tetap dijalankan pada tanggal 9 Desember 2020 dengan protokol kesehatan yang ketat, pada tulisan ini akan melihat kemungkinan lain yaitu penyelenggaraan Pilkada 2020 melalui online voting. Pertanyaan yang ingin dijawab pada tulisan ini yaitu apakah Pandemi COVID-19 meningkatkan dorongan untuk pemungutan E-voting ? Bagaimana resiko keamanan dari E-voting khususnya yang menggunakan metode internet voting? Tulisan ini bertujuan untuk melihat dorongan yang ditimbulkan akibat adanya Pandemi COVID-19 terhadap penyelenggaraan online voting sekaligus akan menjelaskan mengenai resiko keamanan.

E-Voting: Alasan Kesehatan dan Ekonomi

E-voting pertamakali muncul di Amerika Serikat pada tahun 1889 oleh Jacob H. Myers dengan mesin yang diberikan nama Myers Automotic Boots. Alasan besar dari pembuatan teknologi ini yaitu untuk mencegah terjadinya penggelembungan suara, mempercepat proses perhitungan, dan mengurangi suara yang tidak sah[[i]]. E-voting juga didefinisikan sebagai penggunaan komputer atau komputerisasi peralatan pemungutan suara untuk memberikan suara dalam pemilihan[[ii]].  E-voting dalam perkembangannya terbagi menjadi dua yaitu yang menggunakan internet dan tidak. E-voting yang menggunakan internet juga dibagi kembali menjadi tiga[[iii]]:

Tingkat kontrol infrastrukut oleh pihak otoritas penyelenggara pemiluInternetMesin Elektronik lain
TinggiInternet poll site votingMesin voting
SedangKios votingKomputer khusus yang ditempatkan di ruang publik tanpa pengawasan
RendahInternet votingSms text voting, telephone voting, interacsion voting

Dinamika yang terjadi beberapa bulan belakangan akibat adanya Pandemi COVID-19 membuat pilihan menggunakan E-voting dengan metode jarak jauh atau internet voting menjadi pilihan masuk akal. E-voting yang menggunakan sistem internet akan memungkinkan setiap pemilih untuk memilih pilihannya walaupun sedang berada dirumah dengan smartphone yang digunakan. Setidaknya ada dua hal yang mendorong penggunaan E-voting pada penyelenggaraan Pilkada. Pertama, mengurangi kontak langsung antar manusia. Memilih pilihan politik melalui rumah masing-masing menggunakan internet merupakan salah satu cara untuk meminimalisir adanya kontak fisik antara manusia. Dibandingkan dengan pemilihan langsung konvensional dalam keadaan normal atau menggunakan protokol kesehatan, e-voting jauh lebih aman karena tidak adanya kontak dan mobilitas secara besar dari satu tempat ke tempat lainnya.

Kedua, penghematan biaya pemilihan. Pandemi juga membawa negara pada keadaan ekonomi yang tidak bisa dikatakan bagus. Hal itu disebabkan oleh penyerapan anggaran kesehatan yang meningkat yang juga dibersamai oleh pendapatan negara yang menurun. Dengan demikian penyelenggara negara perlu memikirkan lebih keras mengenai penggunaan anggaran yang besar. E-voting dipercaya banyak pihak akan memotong anggaran dibandingkan metode konvensional[[iv]][[v]], disebabkan akan memotong biaya percetakan kertas suara yang menyedot anggaran paling besar. Walaupun demikian, asumsi ini perlu diuji lebih jauh karena menurut Luke Wawrzeniak biaya menyiapkan, memelihara, dan mengamankan e-voting mungkin lebih besar dibandingkan konvensional[[vi]].

Security dan Cyber Crime

E-voting tidak terlepas dari ancaman keamanan dari cyber crime. Cyber crime merupakan bagian yang tidak pernah lepas dari digitalisasi yang marak dalam segala bidang. Perihal keamanan E-voting penulis memberikan dua catatan kritis yaitu pertama, pemungutan suara melalui internet meningkatkan resiko cyber crime. E-voting akan memperluas kesempatan bagi penyerang untuk terlibat dalam gangguan yang merusak dan serangan terhadap sistem. Perusakan bertujuan untuk menonaktifkan sistem, melarang pemilih memberikan suara, dan merusak kepercayaan pemilih pada pemilu. Walaupun ada asumsi bahwa keseharian manusia saat ini sudah memanfaatkan teknologi digital, baik sektor perbankan atau aktivitas lainnya, bukan berarti E-voting aman dari serangan. Fakta diatas juga masih tergolong lemah disebabkan kejahatan digital dilaporkan terjadi secara global setiap 39 detik[[vii]].  

Kedua, peretasan pemilu mungkin tidak terdeteksi. Anonimitas pada kertas suara yang itu sesuai dengan asas pemilu juga membawa masalah dengan tidak bisanya dilakukan verifikasi pada setiap suara masuk, sehingga memungkinkan peretasan dilakukan tanpa terdeteksi. Surat suara hanya bisa diverifikasi secara kuantitas, tanpa bisa memverifikasi apakah setiap suara yang masuk merupakan suara yang asli dari pemilih.

Pandemi COVID-19 membawa kita terhadap kehidupan baru yang perlu banyak meninggalkan penyesuaian diberbagai bidang termasuk dalam kontestasi politik. Pandemi COVID-19 juga telah mendorong adanya pemungutan suara secara E-voting dengan pertimbangan kesehatan. Walaupun pada beberapa hal mengenai keamanan masih perlu dikaji lebih jauh mengenai kesiapan dan kelayakan. Semoga pandemi COVID-19 tidak hanya memaksa kita untuk beradaptasi dengan kondisi, tetapi tetap menjaga akal sehat manusia tindak tanduknya.

1.            Jones, Douglas W,. (2006) “Technologies as Political Reformers: Lessons From The Early History of Voting Machines.”. The Society for the History of Technology Annual Meeting, Las vegas. [22 October 2020]

2.            Cetinkaya, O., & Cetinkaya, D. (2007). Verification and validation issues in electronic voting. The Electronic Journal of E-Government, 5(2), 117–126. Retrieved from http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.90.155&rep=rep1 &type=pdf [Accessed: 22 October 2020]

3.            Kersting, N., & Baldersheim, H. (2004). Electronic Voting and Democracy. https://doi.org/10.1057/9780230523531 [Accessed: 23 October 2020]

4.            Riera, A., & Brown, P. (2003). Bringing Confidene to Electronic Voting. Electronic Journal of E-Government, 1(1), 43–50. Retrieved from http://www.ejeg.com/volume-1/volume1-issue-1/issue1-art5-abstract.html [Accessed: 23 October 2020]

5.            Sanjay, K., & Ekta, W. (2011). Analysis of Electronic Voting System in Various Countries. International Journal of Computer Science Engineering, 3(5), 1825–1830. Retrieved from http://www.enggjournals.com/ijcse/issue.html?issue=20110305 [Accessed: 23 October 2020]

6.            Wawrzeniak, Luke. (2020). 8 Cybersecuirity Reasons Why Online Voting May Never Happen. https://www.cylumena.com/insights/8-cybersecurity-reasons-online-voting-never-happen/  [Accessed: 23 October 2020]

7.            ibid


[v] Sanjay, K., & Ekta, W. (2011). Analysis of Electronic Voting System in Various Countries. International Journal of Computer Science Engineering, 3(5), 1825–1830. Retrieved from http://www.enggjournals.com/ijcse/issue.html?issue=20110305

[vi] Wawrzeniak, Luke. (2020). 8 Cybersecuirity Reasons Why Online Voting May Never Happen. https://www.cylumena.com/insights/8-cybersecurity-reasons-online-voting-never-happen/

[vii] ibid

Tags: