Membasmi Predator Seksual Daring: Apa Lagi yang Harus Dilakukan?

Maret 5, 2021 11:53 pm || By

Kejahatan di dunia maya sering kali dikaitkan dengan pencurian data dan privasi, yang cenderung membutuhkan keterampilan tinggi dalam meretas data seseorang. Namun, saat ini hampir semua orang dapat melakukan kejahatan dunia maya tanpa harus memiliki keahlian yang besar. Saat ini banyak sekali predator seksual yang menargetkan korbannya melalui media sosial. Lebih parah lagi, hal ini dilakukan pada anak-anak dan remaja yang masih dalam fase tumbuh kembang. Formulannya terdiri dari pemangsa yang adalah orang dewasa manipulatif, remaja yang belum dewasa dan internet di antara mereka. Predator biasanya menampilkan diri sebagai remaja, mendapatkan kontak personal dengan korban dan dari situ meminta hal-hal yang tidak patut. Mereka menemukan profil korbannya hanya dengan menguntitnya secara daring, sementara di sisi lain, remaja dengan mudahnya memposting kehidupan mereka secara publik, tanpa menyadari ancaman yang mereka timbulkan pada diri mereka sendiri. Kasus pelecehan daring seksual terhadap anak-anak seringkali tidak terlihat oleh anak-anak dan terutama oleh orang tua[1]. Hal ini juga terjadi pada anak laki-laki dan perempuan. Jadi bagaimana cara mengatasi masalah ini?

Sebelum membahas solusinya lebih lanjut, artikel ini akan membahas tentang kondisi dan tantangan yang ada. Pertama, predator daring bertemu mangsanya dari kenyamanan rumah mereka difasilitasi perkembangan media sosial dan teknologi. Selain itu, terkadang hal ini tidak terdeteksi di platform permainan daring seperti Roblox dan Clash of Clans[2]. Belum lagi anak-anak juga bermain dalam permainan populer yang seharusnya digunakan oleh orang dewasa dan dihadapkan pada konten dewasa. Strategi utama yang dilakukan predator online adalah dengan mendekati anak-anak dan mengambil kepercayaan mereka, sebagai teman atau sebagai membuat profil tepercaya[3].

Kedua, dalam menangani kasus predator online, tindakan pencegahan masih belum banyak dilakukan, dengan polisi atau aparat hukum yang berfokus pada penanganan insiden setelah terjadi daripada mencegahnya terjadi sejak awal. Sementara itu, karena kebebasan yang dibawa teknologi, ancaman predator daring meningkat secara signifikan. Ketiga, karena sifatnya yang daring dan dapat menyasar korban dari lokasi yang tersebar, polisi seringkali kesulitan mengidentifikasi korban pornografi daring, terutama yang menyangkut anak-anak[4].

Untuk mengatasi tindakan predator daring, perlu adanya peningkatan Peningkatan dapat diawali dengan memperketan keamanan terutama pada pengguna yang mendaftar untuk akun permainan daring. Misalnya, sebelum membuat akun, pengguna harus melakukan verifikasi identitas menggunakan tanda pengenal yang menunjukkan bahwa pengguna sudah memenuhi standar usia. Namun, ini harus disertai juga dengan perlindungan data yang aman contohnya enkripsi.

Selain itu, tindakan preventif harus dilakukan mulai dari memberikan edukasi tentang kasus predator daring di sekolah, keluarga, secara daring dan luring. Materi edukasi harus terdiri dari identifikasi masalah dan bagaimana anak-anak dapat menjaga diri. Saat ini, isu pornografi seringkali dianggap tabu. Sehingga, orang tua atau guru tidak memberi ruang pada anak untuk bertanya dengan leluasa. Dalam beberapa kasus, anak-anak mengakses internet untuk mencari informasi tentang masalah tersebut, dan alih-alih mendapatkan jawaban, mereka malah menjadi mangsa konten pornografi daring. Oleh karena itu, langkah terpenting adalah membangun kepercayaan antara orang tua dan anak.

Akhirnya, untuk membantu polisi mengidentifikasi korban dan melacak pergerakan anak-anak dengan lebih baik, kartu identitas untuk anak-anak dan remaja dapat diperkenalkan. Misalnya, tahun lalu, setelah menangkap predator seksual daring dengan korban anak-anak, polisi menghadapi kesulitan meskipun sudah mengumpulkan ribuan konten pornografi anak karena mereka tidak dapat mengidentifikasi bukti foto anak-anak ke dokumen identifikasi lainnya[5]. Saat ini anak-anak biasanya hanya memiliki akta kelahiran yang tidak dilengkapi dengan gambar. Oleh karena itu, adanya kartu identitas akan sangat membantu untuk mengidentifikasi kasus kejahatan dengan korban anak.

Secara keseluruhan, kasus pelecehan seksual anak-anak daring meningkat karena adanya teknologi. Namun, hal ini belum secara proporsional ditanggapi dengan tindakan preventif yang tepat untuk memerangi keberadaan predator seksual daring. Oleh karena itu, lebih banyak perbaikan harus dilakukan mulai dari keluarga, sekolah hingga masyarakat sipil, secara umum, untuk mendidik dan menciptakan lingkungan ruang yang aman bagi anak-anak untuk membekali mereka dengan sarana yang diperlukan untuk melindungi diri dari predator seksual daring.

Penulis: Theodore Great
Penyunting: Amelinda Pandu Kusumaningtyas


[1] FBI, 2016. Threat from Pedophiles Online is ‘Vast and Extensive’. [Story] Federal Bureau of Investigation. Available at: <https://www.fbi.gov/news/stories/threat-from-pedophiles-online-is-vast-and-extensive> [Accessed 8 Oct. 2020].

[2] Dewabrata, W.A., 2019. Paedofil Mencari Mangsa Melalui Permainan Daring. [online] Kompas.id. Available at: <https://kompas.id/baca/utama/2019/07/30/pedofil-mencari-mangsa-melalui-permainan-daring/> [Accessed 21 Dec. 2020].

[3] Anon 2019. Video games and online chats are ‘hunting grounds’ for sexual predators. [online] The Seattle Times. Available at: <https://www.seattletimes.com/nation-world/video-games-and-online-chats-are-hunting-grounds-for-sexual-predators/> [Accessed 16 Dec. 2020].

[4] Leba, E.E., 2020. Polisi Sulit Identifikasi Ratusan Korban Pedofil WNA Perancis. [online] Kompas.id. Available at: <https://kompas.id/baca/metro/2020/07/10/polisi-sulit-identifikasi-ratusan-korban-pedofil-wna-perancis/> [Accessed 21 Dec. 2020].

[5] Alfajri, I., 2019. Puluhan Anak Korban Pornografi Belum Teridentifikasi. [online] Kompas.id. Available at: <https://kompas.id/baca/utama/2019/07/22/puluhan-anak-korban-pornografi-belum-teridentifikasi/> [Accessed 21 Dec. 2020].

Tags: