[Agen Damai] Meski Berliku-Liku, Pro-Aktif Lawan Cyberbullying Jalan Terus!

Maret 23, 2021 1:45 pm || By

Cyberbullying adalah masalah serius, jadi jangan menganggapnya tak serius.  

Namanya juga manusia, kita tidak punya cukup waktu dan tenaga kalau harus meladeni semua hal satu-satu. Apalagi kalau yang dihadapi adalah cyberbullying yang terlanjur viral. Mau di-stop juga mustahil, bahkan sekali pun pelaku bullying-nya udah ngaku bersalah.

Kebayang kan berapa banyak mentions, retweets, hingga likes yang mungkin masuk terus-menerus? Rasanya nggak mungkin kalau harus report dan block seluruh ujaran destruktif yang dialamatkan—ke Agen Damai sendiri maupun ke orang lain. 

Oleh karenanya, dua langkah itu saja tak cukup; perlu dilakukan pendekatan proaktif tiga level: edukasi, kesadaran, dan dialog. 

1. Edukasi

Edukasi di sini bukanlah tentang sekolah formal, tetapi belajar menjadi netizen yang baik. Cara menjadi netizen yang baik harusnya tidak jauh beda dengan cara menjadi manusia yang baik. 

Agen Damai mesti paham bagaimana harus berperilaku dan berkomunikasi kepada pengguna lain di internet. Ya, mau gimana lagi? Kan di balik akun-akun “asli” di media sosial itu ada orang beneran, yang juga bisa sakit dan patah hati semisal diperlakukan seenaknya—apalagi sama orang yang sama sekali tak dikenalnya.

2. Kesadaran

Kesadaran (awareness) adalah salah satu kemampuan diri level dewa. Nggak semua orang bisa memiliki tingkat kesadaran yang tinggi terkait dunia maya. Masa, sih

Kesadaran yang dimiliki oleh Agen Damai akan membuat pikiran terbuka pada banyak hal, otomatis bakal membantu untuk berpikir jernih dalam menghadapi fenomena baru. 

Contohnya: kasus cyberbullying sedang marak; tanpa awareness yang baik, orang akan gampang panik dan bisa langsung menyalahkan teknologinya bahkan buru-buru melarang penggunaannya. 

Contoh lainnya: beberapa sekolah melarang penggunaan smartphone di lingkungannya; hal ini malah bisa jadi bumerang, sebab siswanya jadi memilih untuk menggunakannya diam-diam. 

Apakah dalam contoh kedua tersebut sekolah salah? Dulu mungkin tidak salah, tetapi tidak demikian dengan kondisi saat ini. Kenapa? Karena generasi muda sangat lekat dengan teknologi dan internet. Pelarangan di sekolah jadi kesannya sia-sia, toh mereka akan kembali asyik menggunakannya di luar sana. 

Justru, karena ada “jarak” antara sekolah dan smartphone itu, institusi pendidikan bisa tidak sadar/gagap dengan fenomena cyberbullying

3. Dialog

Berapa kali Agen Damai dengar kejadian ketika seseorang curhat terkait trauma pribadi tapi justru dibalas oleh lawan bicaranya dengan jawaban semacam “ah, itu tidak seberapa, masalahku lebih berat”?

Pada kasus cyberbullying bisa jadi jawabannya lebih sekenanya lagi, sebab internet dianggap sekadar sebagai dunia yang tidak nyata. 

Padahal, dengan jawaban yang lebih bijak, akan tercipta ruang dialog. Dialog ini penting untuk membuka rasa saling pengertian dan percaya, terutama bagi korban bullying.  

Menjadi korban bullying tidak pernah menyenangkan, apalagi di lingkungan maya yang masih sangat baru dan orang masih banyak yang awam akan fenomenanya seperti sekarang. Agen Damai bisa terlibat langsung buat membangun kultur anti-cyberbullying dengan “mengamalkan” tiga pendekatan di atas. Merasa tertantang? 

Penulis: Aef Anas