[Agen Damai] Ngerinya Cyberbullying: Bertopeng, Non-Stop, Bisa Viral Pula

Maret 23, 2021 1:41 pm || By

Akses internet membuat praktik cyberbullying tak terelakkan. Meski berat, Agen Damai wajib turun ke “medan perang” untuk gigih melawannya!

Mau itu di dunia nyata maupun di dunia siber, yang namanya bullying tetap saja bullying. Agen Damai pun pasti langsung sehati untuk mengutuk perilaku racun macam ini. 

Bagaimana nggak? Pelaku bullying umumnya memang punya niatan jahat terhadap targetnya. Ia akan melakukan aksinya berulang-ulang dan sangat mungkin berdampak ke trauma psikologis/fisik yang parah di sisi korban. 

Lebih sedihnya, korban bullying umumnya nggak berani curhat ke orang lain. “Luka” dan “ketakutannya” lebih sering dipendam sendiri. Tentu saja situasi cyberbullying pun lebih pelik dan ngeri, sebab serangannya bisa langsung dilancarkan lewat jalur pribadi—yang tidak bisa langsung disadari oleh orang lain. 

Setidaknya ada tiga alasan mengapa cyberbullying bisa dibilang lebih mengerikan:

1. Pelaku berlindung di balik topeng

Perundungan di dunia nyata bakal lebih mudah Agen Damai lacak karena biasanya konfrontasi berlangsung face to face. Lah, apa jadinya kalau ini terjadi di dunia siber? 

Di internet, pelaku bisa menyerang korban secara anonim. Dia bisa berpura-pura menjadi siapa pun. Kalau bullying-nya pakai telepon/SMS, dia bisa membeli kartu SIM sekali pakai. Kalau pakai media sosial, dia mungkin membuat sekian akun berbeda buat melancarkan aksinya. 

2. Terjadi non-stop

Sebelumnya, bullying terjadi di waktu-waktu tertentu. Misalnya di jam istirahat sekolah atau saat berpapasan di luar rumah. 

Sayangnya, cyberbullying tidak kenal batasan-batasan itu. Apalagi orang-orang banyak yang menghabiskan waktunya bersama smartphone yang dimiliki. Selama smartphone-nya menyala, korban rentan kena serangan. Betul-betul susah buat sembunyi.

3. Cyberbullying bahkan bisa viral

Semua hal bisa dibagikan dengan sangat cepat di internet. Nggak cuma yang baik-baik saja, bahkan yang jahat-jahat—termasuk bullying—bisa viral dalam sekejap. 

Serangannya bisa digiring, bahkan dilakukan secara berjamaah dengan membabi buta. Kesannya si pelaku memperoleh kepuasan berlebih ketika banyak orang berhasil dihasutnya. 

Agen Damai pasti masih ingat dengan ramainya kasus Audrey di media sosial beberapa bulan lalu—yang ternyata ada bagian yang dipelintir dan diperkeruh secara sepihak. Kasus ini sampai jadi perhatian internasional lewat hashtag justiceforaudrey

Parahnya, seringkali orang jadi lebih memilih ikut arus ketika kondisinya sudah viral begini. Kalau memang benar sih nggak apa-apa, lah kalau ternyata sebaliknya? Kok, ya, dilematis. Hal itulah yang membuat posisi korban sangat mungkin diperlakukan secara tidak objektif dan bisa semakin terkucilkan.

Pada akhirnya, harus kita akui bahwa cyberbullying ternyata memang lebih menyeramkan dan masih sulit dihindari sampai saat ini. Akan tetapi, Agen Damai jangan ciut! Justru ini bisa jadi momentum bagus untuk terus menyadarkan netizen akan pentingnya melawan segala bentuk perundungan.

Penulis: Aef Anas