[Agen Damai] Satu Jepretan Beribu Petaka.

Maret 23, 2021 12:09 pm || By

Mengambil gambar atau video terkait aktivitas privat bisa berujung petaka.

Bila kini Agen Damai berusia 25 tahun ke atas, pasti tahu bagaimana sulitnya mencari konten pornografi ketika masih kecil. Ini bukan bermaksud mengajak Agen Damai untuk mengakses konten tersebut ya, tetapi sebagai bahan refleksi saja. 

Banyak di antara kita pernah berusaha mengakses konten pornografi sewaktu kecil yang biasanya dilandasi rasa ingin tahu yang begitu tinggi–karena dianggap hal yang tabu, maka semakin penasaran dan tertantanglah kita. Berbeda dengan di era digital ini, justru kita yang menjadi sasaran konten pornografi. 

Kapan pun dan di mana pun, konten pornografi dapat dengan mudah diakses dan ditemukan terutama di media sosial. Bahkan kita pun dapat berkontribusi sebagai pembuat sekaligus penyebar konten pornografi. Kok bisa? 

Ya bisa dong. Hanya bermodalkan kamera ponsel dan internet saja, konten sudah tersebar luas ke seluruh pelosok. Tidak heran, kasus beredarnya foto dan video pornografi bisa terjadi di berbagai kalangan mulai dari pelajar, selebritas, aparat Kepolisian, hingga anggota DPR.

Dalam rentang tahun ini saja sudah muncul beberapa kasus pornografi yang viral. Ingat kasus prostitusi online yang menjerat artis Vanessa Angel? Artis yang kerap kali kita lihat wajahnya di layar televisi ini dianggap telah menunjukkan sisi sensualitas wanita melalui foto-foto yang dikirimkan melalui suatu aplikasi chatting

Agen Damai tentu juga pernah mendengar kasus video Vina Garut di mana video tersebut berisikan seorang perempuan bersama tiga orang laki-laki sedang melakukan tindakan asusila. Video tersebut bocor ke publik terutama di banyak grup WhatsApp. 

Bagaimana dengan kasus yang melibatkan dua mahasiswa yang berasal dari perguruan tinggi negeri di Yogyakarta? Tahu enggak sih, kasus ini berawal dari rasa sakit hati pelaku yang tidak disetujui hubungannya oleh pihak orang tua perempuan. Pelaku pun membeberkan video intim antara pelaku dan korban–dokumentasi lama yang mulanya ditujukan untuk koleksi pribadi–melalui media sosial Line dan WhatsApp. 

Kalau dipikir lagi, masih banyak cara rasional yang sebenarnya bisa dilakukan pelaku untuk memperjuangkan cintanya, kan? Menyebarkan video pornografi hanya akan menghancurkan reputasi baik pelaku maupun korban. 

Lalu dari ketiga kasus tersebut, bisakah Agen Damai menarik satu kesimpulan? Simpel saja, jangan bugil di depan kamera. Ketiga kasus tersebut memiliki persamaan yaitu menyimpan konten pornografi di dalam ponsel. Awalnya mungkin saja iseng foto atau video diri tengah bugil, kemudian menyimpannya untuk kebutuhan atau koleksi pribadi. Tetapi bagaimana pun, tetap saja berbahaya. Misal saja ponsel kita hilang dan ditemukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, bisa-bisa yang kita sebut koleksi pribadi menjadi konsumsi publik. 

Cuma disimpan sementara kok, setelah itu dihapus dari ponsel. Tetap saja berbahaya. Ingat, jejak digital itu tidak bisa hilang. Ahli IT dapat dengan mudah memunculkan kembali konten yang telah kita hapus sedemikian bersih hingga mengkilat. Agen Damai tentu tidak akan melakukan tindakan serampangan seperti ini, kan? Percaya deh, tidak akan ada untungnya.

Kasus pornografi sebenarnya bukanlah kasus yang baru. Di era media cetak, kita dapat menemukan konten semacam ini pada majalah khusus pria dewasa seperti Playboy. Hanya saja, penyebarannya tidak dapat mengalahkan masifnya penyebaran konten pornografi di internet karena penyebaran di media cetak dapat dibatasi dengan memberi batasan usia pembeli. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati saat menyimpan atau mendokumentasikan kegiatan privat kita karena dalam keadaan tertentu, foto tersebut bisa tersebar ke berbagai tempat.

Penulis: Aldila P.