[Agen Damai] Sensor dan Blokir: Benarkah Solusi Konten Pornografi?

Maret 23, 2021 12:12 pm || By

Segala-galanya yang bermuatan negatif disensor dan diblokir, tapi kenapa masalah pornografi tak kunjung selesai? 

Setahun belakangan ini, Kominfo menggencarkan aksi blokir konten-konten porno di Indonesia. Kominfo bahkan membuat artificial intelligence (AI) yang bisa menyensor konten pornografi secara otomatis di dunia maya sejak Januari 2018.

Berdasarkan data sampai November 2018, terdapat 883.348 situs bermuatan pornografi yang ditutup sejak 2010. Selain itu, terdapat 8.903 akun Instagram dan facebook, 4.985 akun twitter, serta 1.689 akun Youtube yang diblokir. Jumlah yang tidak sedikit ya, Agen Damai.

Tindakan ini sudah seharusnya dilakukan untuk membendung konten pornografi yang marak beredar. Internet merupakan ruang bersama. Penggunanya bukanlah hanya satu golongan usia sehingga internet harus menjadi tempat yang aman dan ramah bagi semua orang.

Namun, apakah masalah pornografi di dunia maya sudah selesai? Ternyata tidak.

Berdasarkan Database Trust Positif, konten pornografi merupakan konten dengan pertumbuhan terbanyak yang diblokir oleh Kominfo. Itu baru konten pornografi yang terlihat. Nyatanya, penyebaran konten pornografi pun terjadi dalam percakapan personal seperti melalui pesan WhatsApp.

Bukankah ini berarti semakin banyak konten pornografi yang diblokir dan disensor, justru konten-konten pornografi ini semakin banyak? Ibarat kata, mati satu tumbuh seribu. Lebih lagi ternyata sekarang semakin banyak konten pornoaksi yang melibatkan anak-anak!

Jika begini apakah tidak ada hal yang bisa kita lakukan?

Literasi digital sebagai solusi

Jangan keburu pesimis, Agen Damai!

Meski sulit, pemberantasan konten pornografi ini bisa lho dilakukan. Salah satu solusi yang bisa kita lakukan bersama adalah literasi digital. Lewat literasi digital, kita bisa mengedukasi pengguna internet untuk bersikap bijak. Bijak menggunakan gawai sesuai batasan yang ada. Bijak hanya mengakses konten yang sesuai dengan umurnya. Bijak bersikap dan bersosial media di dunia maya.

Literasi digital idealnya dimulai sedari dini. Terlebih lagi sekarang gawai dan internet merupakan hal lumrah bagi generasi alfa yang lahir di era serba digital. Sehingga orang tua dituntut untuk berperan aktif dalam aktivitas digital anak.

Pemahaman akan penggunaan internet yang bijak ini tentunya bukan hanya harus ditekankan kepada anak, melainkan kepada seluruh lapisan masyarakat. Nyatanya tidak sedikit orang dewasa yang tidak peduli dengan literasi digital.

Salah satu bentuk literasi digital yang mudah dilakukan adalah pemanfaatan fitur safety mode. Fitur ini memungkinkan anak untuk berselancar di dunia maya secara aman. Fitur ini juga mencegah anak apabila ingin mengunjungi situs berkonten negatif, khususnya konten pornografi.

Meski demikian, orang tua tetap diharap berperan aktif dalam segala aktivitas digital anak karena ada berbagai cara konten pornografi menyelip dalam konten khusus anak.

Proaktif laporkan konten

Satu hal lagi yang bisa kita lakukan bersama adalah melaporkan konten negatif, Agen Damai. Kominfo telah membuka kotak aduan di situs aduankonten.id untuk menjadi wadah pengaduan masyarakat. Lewat situs ini, kita bisa ikut berperan aktif memberantas konten-konten pornografi yang bisa jadi terlewat dari pemblokiran kecerdasan buatan Kominfo.

Semakin banyak masyarakat yang aktif melaporkan konten pornografi, tentunya internet bisa menjadi ruang yang semakin aman dan ramah terhadap segala golongan masyarakat. 

Solusi pemberantasan konten pornografi ini sejatinya tidak sulit. Dengan bergerak bersama pemerintah dan lapisan masyarakat, internet bebas pornografi bisa jadi bukanlah mimpi.

Penulis: Wardahtuljannah