[Agen Damai] Speak Up! Kamu tidak Sendiri

Maret 23, 2021 12:30 pm || By

Meski sulit, speak up bisa menjadi akhir dari perundungan siber

Sekitar 37% remaja berusia 12-17 tahun di Amerika Serikat pernah mengalami perundungan siber dan 30% di antaranya mengalami lebih dari satu kali. MediaSmart melaporkan 23% pelajar mengaku telah mengatakan hal menyakitkan kepada orang lain secara online.

Data di atas menunjukkan bahwa perundungan siber adalah hal yang sudah biasa terjadi sekarang ini. Walaupun biasa terjadi, kita tidak boleh terus membiarkannya biasa terjadi kan, Agen Damai.

Satu hal sulit untuk menghentikan cyberbullying terjadi adalah tempat terjadinya hal tersebut. Perundungan di dunia maya terjadi di balik layar. Korban bisa jadi tidak mengetahui siapa yang melakukan perundungan padanya. Pelaku cyberbullying juga seringkali tidak merasa telah melakukan perundungan karena yang dilakukannya hanya sesederhana mengetik satu-dua kata. Bukan hanya itu, kadang pelaku juga tidak sadar bahwa tindakan yang dilakukannya di internet bisa diklasifikasikan sebagai tindakan perundungan.

Agen Damai tentunya sudah membaca artikel sebelum ini soal Berbagai Rupa Wajah Perundungan Siber, kan? Komentar sederhana yang dituliskan saat emosional bisa menjadi ujaran kebencian dan harassment. Lebih lagi jika akhirnya komentar awal kita ini membuat orang-orang lain ikut menghujat. Waduh, bisa berujung perundungan siber ramai-ramai.

Bagaimana dengan perundungan siber di Indonesia? Survei dari Asosiasi penyelenggara jasa Internet Indonesia atau APJII menunjukkan 49% pengguna internet pernah mengalami perundungan siber dalam bentuk ejekan dan pelecehan. Jelas sekali angka ini bukanlah angka yang sedikit, Agen Damai.

Perundungan di mana pun selalu punya satu ciri yang sama: membuat korban merasa terkucilkan. Alhasil tidak jarang korban merasa depresi dan berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Lantas, apakah tidak ada hal yang bisa kita lakukan?

Saatnya Speak Up

Hal ampuh yang bisa dilakukan untuk menghentikan perundungan adalah dengan speak up.

Banyak korban takut untuk mengungkapkan bahwa mereka telah diperlakukan buruk. Tidak jarang korban merasa perundungan yang dialami merupakan “hal yang biasa terjadi” dan “hal yang tidak perlu dibesar-besarkan”. Apalagi jika hal tersebut di alami di dunia maya.

Padahal kenyataannya tidak demikian. Perilaku perundungan, sesepele apa pun, tetaplah perundungan.

Jika kamu pernah mengalami perundungan, janganlah takut untuk speak up. Carilah orang yang bisa kamu percayai dan membuatmu nyaman. Bisa keluarga terdekat, sahabat, guru, atau komunitas yang peduli soal perundungan.

Bukan hanya korban yang harus speak up. Jika kamu melihat perundungan terjadi, kamu juga harus speak up, Agen Damai.

The Children’s Society melaporkan 60% remaja pernah melihat perundungan siber terjadi dan mayoritas tidak melakukan intervensi. Sedangkan intervensi sesederhana ungkapan “berhenti melakukan hal itu” dan “ini bukan hal yang keren” bisa membuat pelaku perundungan urung melanjutkan aksinya.

Speak up lain yang bisa kita lakukan adalah dengan meyakinkan pada korban bahwa perundungan yang dialaminya bukan hal yang normal terjadi dan dia tidak layak diperlakukan seperti itu. Simpati kecil seperti ini bisa jadi mengubah hidup seseorang, Agen Damai.

Ketika kita merasa kita tidak bisa melakukan apa pun sebagai saksi perundungan siber, jalan terakhir bisa kita coba. Laporkan perundungan siber ke platform perundungan terjadi dan speak up kepada lembaga dan komunitas yang concern. Dengan dukungan ini, kamu bisa jadi memberikan jalan keluar bagi korban.

Ingat, tidak ada seorang pun yang layak mengalami perundungan!

Penulis: Wardahtuljannah