Pengalaman Pengemudi Perempuan Indonesia di Industri Ojek Online

Maret 25, 2021 9:56 am || By

Ketika mereka melihat kita datang (menjemput penumpang), mereka berkata, ‘Loh, perempuan? Maaf, saya sepertinya cancel saja ya, kalau drivernya perempuan”

Gig economy, khususnya sektor ride-hailing, sekarang menjadi mekanisme kerja yang menjanjikan bagi para pemilik sepeda motor di kota-kota di Indonesia, khususnya perempuan. Walaupun menjanjikan fleksibilitas dan pendapatan yang layak, tampaknya masih terdapat kesenjangan gender pada pekerjaan gig selayaknya pekerjaan lain pada umumnya. Keselamatan dan stigma sosial telah menjadi perhatian besar bagi pengemudi wanita. Survei dari International Finance Corporation (IFC, 2018) menunjukkan bahwa 64% responden wanita di enam negara menyebutkan alasan keamanan sebagai faktor utama mereka tidak melamar sebagai pengemudi Uber. Sebuah penelitian di Inggris menunjukkan bahwa pengemudi taksi wanita lima kali lebih mungkin mengalami pelecehan seksual selama bekerja dibandingkan dengan rekan pengemudi pria (Westmarland dan Anderson, 2001). Di Cina, terdapat banyak contoh pelecehan seksual terhadap pengemudi perempuan yang mengarah pada diskusi tentang apakah pengemudi perempuan harus diizinkan hanya untuk memilih pelanggan perempuan pula (Guo et al., 2019). Para pengemudi perempuan juga merasa bahwa platform ride-hailing belum cukup memastikan keselamatan fisik mereka, terutama terkait dengan pelecehan yang dilakukan oleh penumpang (Rizk et al., 2018).

Tingkat Pembatalan yang Lebih Tinggi

Di Indonesia, khususnya di aplikasi Gojek, pelanggan lebih sering membatalkan pengemudi wanita daripada pengemudi pria (Dessy Setyowati, KataData, 2018). Selain itu, pengemudi wanita sering menghadapi kendala budaya karena sifat femininnya, yang menurut sebagian orang dapat memengaruhi keterampilan mengemudi mereka (Linnea Roman, 2020).

“Iya saya sering mengalaminya, ketika saya datang menjemput pelanggan, dan dia memakai celana panjang (menandakan bahwa pelanggan adalah laki-laki), mereka membatalkannya… mereka bilang, ‘Bu, saya mau supir laki-laki, ‘dan saya berkata,’ Oke, Pak, jangan khawatir ‘dan kemudian (mereka) membatalkan (pesanan) “

Stigma telah mempengaruhi kinerja pengemudi wanita karena mereka tidak dapat memilih pelanggan sebanyak rekan pria mereka karena masalah pembatalan ini.

“… Jika pelanggan (laki-laki) membatalkan pesanannya, dia akan ditanya alasan pembatalan, yang mencakup beberapa opsi. Namun, alasan pembatalan karena jenis kelamin kami (pengemudi perempuan) tidak tersedia. Biasanya kami meminta mereka untuk memilih opsi “pengemudi terlalu jauh”, yang memiliki dampak paling kecil terhadap kinerja kerja kami. “

Pelecehan seksual

Selain itu, terdapat pula risiko dalam tugas pekerjaan, pengemudi perempuan lebih rentan mengalami pelecehan seksual dari pelanggan.

“Ya, suatu hari, ada pria yang duduk sangat dekat dengan saya. Saya ingin marah, tetapi saya ingat bahwa pelanggan adalah ‘raja’. Saya ingin mendorongnya menjauh, tetapi dia selalu mendekat, hal itu membuat saya tidak nyaman. “

“… sering saya hanya ingin pergi cepat-cepat dan sampai ke tujuan secepat mungkin. Ini cukup traumatis bagi saya “

Pelecehan berbasis gender adalah sesuatu yang perlu ditangani oleh platform serta kita, masyarakat Indonesia. Menyusul beberapa insiden yang mempengaruhi pengemudi, platform kini juga telah menetapkan peraturan terkait pelecehan terhadap perempuan. Salah satu platform terbesar di Indonesia ini bahkan mengambil langkah lebih jauh untuk meningkatkan keselamatan kerja pengemudi perempuan dengan menunjuk Komnas Perempuan dalam pembuatan Kode Etik perusahaan. Memiliki seperangkat peraturan yang dikhususkan bagi perempuan dan minoritas adalah awal yang baik. Namun, hal itu tidak akan cukup untuk menciptakan kesetaraan dalam gig economy untuk jangka yang panjang.

Keselamatan pelanggan atau penumpang merupakan aspek penting dan telah diperjuangkan oleh platform dengan peraturan yang memberikan sanksi bagi pengemudi yang telah melakukan pelecehan berbasis gender. Pengemudi yang dilaporkan melakukan pelanggaran akan segera ditangguhkan dan secara permanen dikeluarkan dari platform. Akan tetapi, pelanggan yang melakukan pelecehan berbasis gender terhadap pengemudi wanita jarang menerima konsekuensi yang berat. Tindakan platform untuk juga memberikan ‘rating’ berdasarkan sikap pelanggan adalah langkah berani yang akan mengurangi kemungkinan terjadinya peristiwa semacam itu di masa mendatang. Meskipun demikian, lebih banyak beban yang ditanggung pada pengemudi, karena sistem scoring akan dilakukan setelah insiden. Tanpa platform yang tepat dan dukungan masyarakat, pengemudi perempuan seringkali merasa tersisih dan tidak memiliki pilihan lain selain ‘menormalkan’ pelecehan berbasis gender sebagai bagian dari pengalaman kerja sebagai pekerja gig.

Beban Ganda: Fleksibilitas Tidak Menghilangkan Beban

Jargon fleksibilitas juga memiliki mekanisme penguatan tenaga kerja oleh algoritma platform. Banyak perempuan pengemudi dengan keluarga harus memikul waktu kerja yang lama dan beban rumah tangga mereka di rumah.

“Saya bekerja di sini karena saya perlu menafkahi keluarga saya, saya membutuhkan lebih banyak uang untuk menghidupi keluarga saya … Saya memulai hari saya pada jam 7 pagi dan kemudian berhenti bekerja pada jam 9 malam, rata-rata, saya bekerja selama 12 jam sehari” 

Penambahan jam kerja sering terjadi pada wanita sebagai pencari nafkah utama. Akan tetapi, faktanya, para wanita ini tidak mendapatkan fleksibilitas yang mendukung keseimbangan pekerjaan dan kehidupan mereka. Mereka harus bekerja lembur (lebih dari 10 jam/hari) untuk memperoleh penghasilan yang layak bagi kebutuhan keluarganya. Namun, peran mereka sebagai seorang ibu juga memberikan beban lain pada pekerjaan rumah tangganya. Selain bekerja sebagai pengemudi purna waktu (full-time), para wanita ini juga memiliki kewajiban untuk melakukan pekerjaan rumah dan mengasuh anak-anak mereka. Sementara itu, hanya ada sedikit waktu yang tersisa untuk beristirahat.

Hal tersebut menggemakan situasi yang sama di tempat kerja konvensional bagi perempuan. Saat membahas gig economy dan janji kerja fleksibel, kami melihat bahwa situasinya mungkin tidak berubah sama sekali. Jika tidak, hal itu hanya menambah beban yang ada karena “bisa bekerja kapan saja”, yang juga bisa berarti “sebaiknya maksimalkan waktu luang untuk bekerja”, yang mendorong perempuan untuk hanya memiliki dua pilihan tersisa: bekerja sebagai pengemudi ojek dan bekerja untuk pekerjaan rumah tangga. Realitas ini harus menjadi sesuatu yang kita, sebagai masyarakat, perlu mengevaluasi kembali. Bukankah tanggung jawab pekerjaan rumah dibagi dengan orang-orang yang tinggal di rumah?Hari Perempuan Internasional tahun ini mengangkat tema #Choosetochallenge. Di era ekonomi digital, mari kita bersama menciptakan praktik gig economy yang berkeadilan gender. Praktik baik yang telah dilakukan oleh platform seperti kebijakan terkait dengan praktik pencegahan pelecehan seksual harus dilanjutkan. Kita sebagai masyarakat juga harus bersama-sama menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman bagi para perempuan serta menantang status quo dan sistem patriarki di dalamnya.

Ditulis oleh Treviliana Eka Putri, Amelinda Pandu Kusumaningtyas, Ruth T. Simanjuntak, Paska Darmawan 

Image credit: tribunnews.com

Tulisan ini merupakan bagian dari riset Fairwork in Global South: Indonesia yang didukung oleh Canada’s International Development Research Centre dalam proyek “Future of Work in the Global South” dan juga Hibah Riset Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada 2020.