[SIARAN PERS] Jebloknya Netiquette Indonesia: Salah Netizen atau Kebijakan? | Difussion #47

April 27, 2021 3:56 pm || By

Google meet, 16 April 2021 – Riset yang dilakukan oleh Microsoft terkait Digital Civility Index (DCI) atau Indeks Kesopanan Digital sepertinya menjadi tamparan yang cukup keras bagi netizen di Indonesia. Hasil dari riset yang dilakukan di 32 negara dengan 16.000 responden ini menyatakan bahwa netizen Indonesia merupakan netizen paling tidak sopan se Asia Tenggara. Merespon dari fenomena tersebut CfDS berkolaborasi dengan DEMA FISHUM UIN Sunan Kalijaga, Kominfo dan Siberkreasi mengadakan Difussion #47 dengan tema “Jebloknya Netiquette Indonesia: Salah Netizen atau Kebijakan?”, dengan pembicara Wicaksono atau Ndoro Kakung selaku Praktisi Media Sosial dan Fajar Cahyono selaku Research Associate CfDS. 

Kesopanan Netizen Indonesia: Tanggung Jawab Siapa?

Memulai presentasinya Fajar Cahyono menjelaskan alasan mengapa Indonesia menempati peringkat terendah se Asia Tenggara, terdapat kenaikan 13 poin untuk informasi hoaks dan penipuan di angka 47% dari tahun sebelumnya, lalu untuk ujaran kebencian naik 5 poin menjadi 27%, dan diskriminasi turun 2 poin menjadi 13%. Menurut Fajar kenaikan ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti adanya ketimpangan aturan dan penegakkan hukum di Indonesia. Tidak hanya itu, event besar pilkada, pilpres, dan pandemi juga berperan dalam meningkatkan pelanggaran di ruang digital di mana menimbulkan ruang untuk propaganda, hoaks, diskriminasi, dan ujaran kebencian. Hal terkait propaganda di Indonesia juga sudah dibuktikan dari temuan riset Oxford Internet Institute terkait Computational Propaganda yang menyebutkan bahwa di Indonesia negara atau pemerintah juga sudah terlibat dalam Computational Propaganda. Selain itu adanya penguatan identitas akibat filter bubble atau algoritma digital juga menjadi faktor yang dianggap Fajar mempengaruhi hasil dari riset tersebut. Cara mengatasi hal tersebut menurut Fajar yaitu dengan meningkatkan literasi digital melalui program sekolah bahkan program nasional. “Hari ini kita punya tantangan terbaru, yaitu dunia baru dunia digital. Percayalah ketika ada sesuatu yang baru, perlu juga adaptasi, pengenalan, bahkan perlu juga salah. Negara selaku penyelenggara hukum perlu segera menyelesaikan permasalahan regulasi. Dan kita sebagai individu juga memiliki tanggung jawab untuk membantu menyelesaikan permasalahan literasi digital baik melalui gerakan sosial atau menerapkannya pada diri sendiri” tutup Fajar.

Pentingnya Literasi Digital dan Etika di Media Sosial

Ndoro Kakung menganggap netizen Indonesia kerap kali tidak menyadari ada yang nyata di dunia yang disebut maya. Menurut Ndoro Kakung dunia digital adalah dunia nyata yang terasa tidak nyata, dimana individu merasa dapat melakukan semuanya tanpa diawasi padahal sebenarnya polisi siber bisa saja tiba-tiba menangkap dan memenjarakan individu tersebut. Maka dari itu literasi digital sangat diperlukan untuk netizen Indonesia agar lebih beradab dibandingkan dengan perilaku netizen Indonesia berdasarkan riset yang dilakukan Microsoft. Literasi digital bukan hanya pemahaman bagaimana masyarakat indonesia menggunakan alat-alat internet, tetapi terkandung 4 hal yang menjadi road map literasi digital di Indonesia, yaitu digital etiquette, digital skill, digital culture, dan digital safety. Menutup presentasinya Ndoro Kakung berpesan “ingatlah selalu kita hidup bermasyarakat baik di dunia nyata maupun di dunia maya, karena ada orang lain di sana maka berbuat baiklah dalam bersosialisasi jangan sampai menyakiti orang lain. Kita juga perlu memilah hal positif dan negatif. Bijaklah dalam bermedia sosial.”

Penulis: Firya Qurratu’ain A.
Penyunting: Ruth T. Simanjuntak