High Stakes, High Reward: Perkembangan Mata Uang Kripto dan Risikonya di Indonesia

Juni 6, 2021 11:38 pm || By

Ada kemungkinan besar Anda mungkin pernah mendengar tentang mata uang kripto (cryptocurrency), Bitcoin, atau Dogecoin baru-baru ini. Mungkin ada beberapa teman atau anggota keluarga yang telah membujuk Anda untuk berinvestasi dalam mata uang kripto karena prospek keuntungan yang diklaim tinggi. Tapi apa sebenarnya mata uang kripto dan apa yang membuatnya menjadi topik yang sering dibicarakan selama setahun terakhir ini?

Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/40/PBI/2016 Tahun 2016, mata uang virtual adalah “uang digital yang diterbitkan oleh pihak otoritas moneter yang diperoleh dengan cara mining, pembelian, atau transfer pemberian (reward) antara lain Bitcoin, BlackCoin, Dash, Dogecoin , Litecoin, Namecoin, Nxt, Peercoin, Primecoin, Ripple, dan Ven”.[1] Untuk memperjelas lebih lanjut, aset kripto didefinisikan sebagai “komoditi tidak berwujud yang berbentuk aset digital, menggunakan kriptografi, jaringan peer-to-peer, dan buku besar yang terdistribusi, untuk membuat unit baru, memverifikasi transaksi, dan transaksi tanpa campur tangan pihak lain”.[2]

Meskipun imbalannya tinggi, ada banyak skeptisisme seputar keberlanjutan mata uang kripto sebagai bentuk investasi yang aman. Maka dari itu, artikel ini ingin mengeksplorasi pertanyaan apakah mata uang kripto merupakan pilihan investasi yang aman di Indonesia? – dengan argumen bahwa hal ini masih belum menjadi pilihan investasi yang aman meskipun prospek keuntungan yang diklaim tinggi. Argumen akan didasarkan pada kurangnya regulasi tentang mata uang kripto di Indonesia dan ketidakstabilan pasar kripto.

Di Indonesia, mata uang kriptomemasuki pasar perdagangan pada tahun 2013, dengan hanya tiga ‘exchangers’ dalam melakukan transaksi Bitcoin.[3] Hal ini diikuti dengan pertumbuhannya yang pesat di pasar Indonesia. Menurut Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti)–lembaga pemerintah di bawah Kementerian Perdagangan yang mengawasi transaksi mata uang kripto–ada 4,2 juta investor aktif aset kripto di Indonesia. Sebagai gambaran, angka ini lebih dari dua kali lipat investor saham Indonesia, yang memiliki 2 juta investor terdaftar.[4] Dasar hukum mata uang kripto diciptakan oleh pemerintah Indonesia melalui Peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 5 Tahun 2019 tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Aset Kripto yang dikeluarkan oleh Bappebti. Bappebti juga mengeluarkan peraturan lain tentang transaksi mata uang kripto pada tahun 2020 melalui Peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 7 Tahun 2020 tentang Penetapan Daftar Aset Kripto yang dapat Diperdagangkan di Pasar Fisik Aset Kripto, yang mencantumkan 229 jenis mata uang kripto yang legal untuk diperdagangkan di Indonesia.

Terlepas dari peraturan yang telah disebutkan di atas, fenomena mata uang kripto yang masih baru saat ini kekurangan pengawasan pemerintah yang memadai. Pada penulisan artikel ini, masih tidak ada pasar pertukaran mata uang kripto yang terpisah di Indonesia, padahal pasar tersebut dapat digunakan untuk melindungi investor dan mengawasi pasar kripto. Masalah ini akhirnya dibahas pada April 2021, di mana Bappebti bersama Kementerian Perdagangan mengumumkan mereka akan mendirikan pasar pertukaran mata uang kripto baru di Indonesia. Kepala Bappebti, Sidharta Utama, menjelaskan bahwa keputusan ini dimaksudkan untuk melindungi para investor dalam pertukaran kripto mereka. Wakil Menteri Perdagangan, Jerry Sambuaga, menyebutkan bahwa pertumbuhan eksponensial mata uang kriptotelah mendorong terbentuknya lembaga khusus dan peraturan lebih lanjut tentang isu ini. Hingga terciptanya pasar pertukaran tersebut, pemangku kepentingan kripto Indonesia belum dilindungi oleh hukum dan rentan terhadap ketidakpastian pasar.

Pemerintah Indonesia dapat mengambil pembelajaran dari proposal Uni Eropa “Markets in Crypto-Assets Regulation” (MiCA), yang disebut-sebut sebagai standar global untuk regulasi mata uang kripto domestik di masa depan.[5] MiCA adalah upaya UE untuk menciptakan kerangka hukum yang komprehensif dalam praktik mata uang kripto. Produk hukum tersebut akan diterapkan di semua negara anggota UE untuk sebagai aturan aset kripto. MiCA diusulkan membuat seperangkat peraturan yang jelas dan proteksi kepastian hukum jangka panjang, yang diharapkan dapat menarik lebih banyak investor karena stabilitas dan perlindungan yang diusulkan.[6] Pengumuman pasar pertukaran kripto yang terpisah dapat ditandai sebagai awal untuk dukungan pemerintah yang lebih banyak terhadap mata uang kripto di Indonesia. Meskipun demikian, kurangnya regulasi mata uang kripto di Indonesia saat ini membuat investor rentan terhadap ketidakstabilan pasar dan perlindungan konsumen yang tidak memadai. Dengan demikian, mata uang kripto bukanlah pilihan yang aman bagi investor Indonesia pada saat ini.

Argumen lain akan didasarkan pada pasar mata uang kripto yang sangat fluktuatif. Karena sifatnya yang cepat berubah, harga aset kripto berfluktuasi lebih sering daripada bentuk investasi lainnya. Setelah mencapai rekor tertinggi pada April 2021, harga Bitcoin diikuti oleh kerugian beruntun, turun lebih dari 50% menjadi $30.000 pada pertengahan Mei. Setelah kenaikan tinggi pada bulan April, mata uang kripto lainnya juga mengalami penurunan besar pada bulan Mei, dengan Ether turun lebih dari 22% dan Dogecoin turun 25%.[7] Penurunan ini dapat dikaitkan dengan beberapa alasan, termasuk penangguhan Tesla pada pembayaran bitcoin dan peringatan industri keuangan China untuk menghentikan pertukaran mata uang kripto. Pada 12 Mei, CEO Tesla Elon Musk mengumumkan Tesla telah menangguhkan pembelian kendaraan menggunakan Bitcoin. Dia mengklaim keputusan ini dikarenakan adanya masalah lingkungan, atas proses “penambangan” mata uang kripto. Komentar Musk menyebabkan kerugian lebih dari $300 miliar di pasar kripto hari itu.[8] Pengumuman ini merupakan kelanjutan dari pengumuman Tesla sebelumnya bahwa mereka telah membeli Bitcoin senilai $1,5 miliar dan mereka akan menerima Bitcoin sebagai alat pembayaran untuk produk Tesla.[9] Ini menunjukkan dampak perkataan dari Tesla dan Elon Musk di pasar kripto, dalam hal ini, sentimen mata uang kripto dapat berfluktuasi berdasarkan pernyataan mereka.

Salah satu tweet Elon Musk yang mempengaruhi harga Bitcoin

Alasan lain untuk kerugian mata uang kripto besar-besaran adalah tiga asosiasi keuangan Cina mengeluarkan peringatan agar institusi-institusi keuangan untuk tidak melakukan perdagangan mata uang virtual. Cina diketahui memberlakukan kebijakan keras pada mata uang kripto, yang telah mendorong operasi mata uang kripto di Cina untuk pindah ke luar negeri.[10] Selain dua alasan ini, ada juga risiko penipuan dan market crash yang menyoroti volatilitas mata uang kripto sebagai bentuk investasi yang stabil. Dalam kasus Turki, pendiri salah satu pasar kripto terbesarnya, meninggalkan negara itu ketika pasar kripto mulai memburuk – membuat investor tidak mengetahui status investasi mereka.[11] Ini menunjukkan faktor risiko tinggi yang mengikuti transaksi kripto, menambah alasan mengapa itu masih bukan bentuk investasi yang aman bagi calon investor. Mata uang kripto telah mendapatkan daya tarik yang sangat besar karena pendekatannya yang digadang berimbalan tinggi, yang dapat dilihat dari pertumbuhannya yang meroket dalam dekade terakhir. Namun, bentuk investasi ini juga menjamin risiko tinggi bagi para investor, seperti market crash dan ketergantungan pada faktor eksternal untuk stabilitas pasar. Perlu dicatat bagi investor dan calon investor untuk selalu waspada terhadap investasi kripto mereka guna meminimalkan kerugian. Minimnya regulasi pemerintah tentang mata uang kripto di Indonesia menjadi indikasi minimnya perlindungan dan pengawasan pasar kripto di tanah air. Pemerintah juga harus membuat langkah-langkah preventif untuk melindungi para investor atas bentuk investasi baru ini. Pada akhirnya, meskipun mata uang kripto belum menjadi bentuk investasi yang aman di Indonesia, mata uang ini masih memiliki masa depan yang cerah jika terdapat lingkungan kondusif untuk mendukung pertukaran mata uang kripto di Indonesia.

Penulis: Jasmine Noor
Penyunting: Sri Handayani Nasution


[1] Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/40/PBI/2016 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran, Penjelasan Pasal 34 Huruf a

[2] Peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 5 Tahun 2019 tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Aset Kripto di Bursa Berjangka Pasal 1

[3] Zipmex.com. 2021. Sejarah Mata uang kripto: Lika-liku Aset Kripto. [daring] Tersedia di: <https://zipmex.com/id/learn/sejarah-cryptocurrency-lika-liku-aset-kripto/> [Diakses pada 28 April 2021].

[4] CNN Indonesia. 2021. Di Indonesia, Investor Bitcoin Dkk Ungguli Investor Saham. [daring] Tersedia di: <https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210421170028-92-632977/di-indonesia-investor-bitcoin-dkk-ungguli-investor-saham> [Diakses pada 28 April 2021].

[5] Hansen, P., 2021. New Crypto Rules in the European Union – Gateway for Mass Adoption, or Excessive Regulation? | Stanford Law School. [daring] Stanford Law School. Tersedia di: <https://law.stanford.edu/2021/01/12/new-crypto-rules-in-the-eu-gateway-for-mass-adoption-or-excessive-regulation/> [Diakses pada 23 Mei 2021].

[6] Ibid.

[7] Browne, R. dan Kharpal, A., 2021. Bitcoin plunges 30% to $30,000 at one point in wild session, recovers somewhat to $38,000. [daring] CNBC. Tersedia di: <https://www.cnbc.com/2021/05/19/bitcoin-btc-price-plunges-but-bottom-could-be-near-.html> [Diakses pada 24 Mei 2021].

[8] Kharpal, A., 2021. As much as $365 billion wiped off mata uang kripto market after Tesla stops car purchases with bitcoin. [daring] CNBC. Tersedia di: <https://www.cnbc.com/2021/05/13/bitcoin-btc-price-falls-after-tesla-stops-car-purchases-with-crypto.html> [Diakses pada 24 Mei 2021].

[9] Ibid.

[10] Reuters. 2021. Explainer: What Beijing’s new crackdown means for crypto in China. [daring] Tersedia di: <https://www.reuters.com/world/china/what-beijings-new-crackdown-means-crypto-china-2021-05-19/> [Diakses pada 24 Mei 2021].

[11] Nurdiana, A., 2021. Bahaya, bursa mata uang kripto terbesar di Turki kolaps. [daring] kontan.co.id. Tersedia di: <https://investasi.kontan.co.id/news/bahaya-bursa-cryptocurrency-terbesar-di-turki-kolaps> [Diakses pada 29 April 2021].

Tags: