Kepemimpinan Perempuan 2021: Lessons Learned dan Jalan untuk Masyarakat Digital Masa Depan

Juni 22, 2021 8:41 pm || By

Tanpa terasa dunia telah berjuang menghadapi pandemic COVID-19 selama lebih dari setahun. Para pemimpin dunia berupaya untuk mengatasi pandemic COVID-19 di negara nya masing-masing melalui berbagai kebijakan dan program penanganan. Hal yang menarik, data-data menunjukkan bahwa negara yang dipimpin oleh pemimpin perempuan rupanya berhasil menghadapi COVID-19 lebih baik dibandingkan dengan negara yang dipimpin oleh pemimpin laki-laki.[i]  Perbandingan tersebut didasarkan pada pebandingan antara tingkat kematian dengan jumlah kasus COVID-19. Beberapa figur pemimpin perempuan yang mendapat sorotan karena dianggap berhasil memimpin negaranya menghadapi COVID-19 antara lain adalah Jacinda Ardern dari Selandia Baru, Tsai Ing Wen di Taiwan, dan Angela Merkel dari Jerman. Keberhasilan-keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa perempuan pun dapat menjadi pemimpin dengan kinerja baik.

Akan tetapi meskipun kualitas kerja pemimpin perempuan mulai mendapat pengakuan, di sector yang lain perempuan masih dihadapkan pada berbagai kesenjangan berbasis gender. Sebagai gambaran, 49,6% penduduk dunia adalah perempuan[ii], namun statistic menunjukkan bahwa keterwakilan perempuan di posisi kepemimpinan puncak di berbagai bidang masih rendah[iii]. Sebagai contoh, saat ini hanya ada 22 pemimpin negara perempuan di dunia. Sebanyak 119 negara bahkan tidak pernah memiliki kepala negara maupun kepala pemerintahan perempuan[iv]. Ketika perempuan kurang terwakili kepentingan mereka pun tidak teradvokasi. Kurangnya keterwakilan tersebut menyebabkan disparitas antara laki-laki dan perempuan. Keterwakilan perempuan penting untuk mewujudkan kesetaraan gender. Sebuah penelitian telah menunjukkan bahwa ada peningkatan waktu yang dihabiskan oleh Kongres untuk membahas “isu-isu perempuan” seperti pelecehan seksual, pendidikan, dan lain sebagainya karena jumlah perwakilan perempuan di pemerintahan meningkat[v]. Berangkat dari permasalahan-permasalahan tersebut,

Isu keterwakilan perempuan juga menjadi persoalan yang terjadi di sektor teknologi. Mengingat pentingnya teknologi di era digital yang membuat dunia semakin terhubung, keterwakilan perempuan menjadi penting untuk diperbincangkan dan diperjuangkan. Oleh karena itu, tulisan ini ingin membahas realitas keterwakilan perempuan di bidang teknologi dan apa yang dapat dilakukan untuk terus meningkatkan keterwakilan serta kepemimpinan perempuan.

Sebelum membahas lebih lanjut, penting untuk memahami mengapa keterwakilan dan kepemimpinan perempuan di bidang teknologi menjadi penting. Salah satu negara yang saat ini menjadi percontohan bagi banyak negara karena perkembangan teknologi digital yang pesat dibawah kepemimpinan perempuan adalah Estonia. Estonia mencetak sejarah sebagai satu-satunya negara dengan presiden dan perdana menteri perempuan yang menjabat di waktu yang sama. Presiden Estonia, Kaljulaid, yang telah menjabat sebagai presiden Estonia sejak 2016 adalah salah satu pemimpin dunia yang sangat peduli dengan pengembangan ekonomi digital dan keamanan siber. Kedua hal tersebut masih dicoba untuk dikembangkan oleh negara lain, tetapi Estonia sudah berhasil mengembangkannya dengan pesat. Misalnya, akses internet adalah hak asasi manusia. Hampir semuanya sudah didigitalisasi, mulai dari membayar pajak, bukti transaksi, menandatangani dokumen, dan banyak hal lainnya. Contoh Estonia dapat menunjukkan apa yang dapat dicapai oleh seorang pemimpin perempuan di era digital.

Apa yang terjadi di Estonia saat ini adalah sebuah panutan yang patut untuk dicontoh. Untuk mewujudkan tersebut, penting sekali memetakan tantangan-tantangan apa saja yang dihadapi oleh perempuan di sector digital. Salah satu isu yang muncul terkait keterwakilan dan kepemimpinan perempuan di sektor teknologi adalah kurangnya minat serta kepercayaan diri untuk belajar tentang teknologi. Sebagai contoh, dalam 15 tahun terakhir, hanya sekitar 35% perempuan yang menempuh Pendidikan di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Medicine)[vi]. Kedua, kurangnya kemampuan dan keterlibatan perempuan dalam kewirausahaan digital.[vii] Kemampuan kewirausahaan menjadi aspek yang penting karena untuk menjadi pemimpin di bidang teknologi, dibutuhkan kemampuan dan daya saing untuk menciptakan inovasi.

Mengenai masalah ini, lalu bagaimana teknologi dapat membantu menyamakan kedudukan? Pertama, mitos bahwa teknologi hanya untuk laki-laki harus dihilangkan. Dengan semakin banyaknya keterwakilan perempuan di sector teknologi, semakin banyak pula inisiatif dibuat untuk meningkatkan partisipasi perempuan. Salah stau contoh dalam konteks nasional adalah Indonesia Generation Girl, sebuah Lembaga non-profit yang bertujuan untuk meningkatkan minat perempuan dalam bidang keilmuan STEM melalui kegiatan yang menyenangkan namun mendidik. Sedangkan itu di level global ada Girls who Code yang memimpin gerakan untuk memberantas kesenjangan gender dalam ilmu komputer. Dengan meningkatkan keinginan anak perempuan untuk belajar lebih banyak tentang STEM, Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah mendidik mereka.

Untuk melakukannya, pendidikan online kemudian memainkan peran. Namun untuk memastikan pendidikan online dapat menjangkau semua perempuan secara merata, akses internet yang berkualitas haruslah tersedia dengan merata. Terlebih di negara seperti Indonesia, ketersediaan akses internet berkualitas yang merata mungkin masih menjadi sebuah PR yang perlu dituntaskan. Oleh karena itu bila pembangunan infrastruktur internet yang merata belum memungkinkan untuk dilakukan dengan segera, alternatif lain yang dapat dilakukan adalah dengan mendorong para perempuan yang ingin belajar di bidang STEM untuk menempuh endidikan di kota-kota besar yang memiliki infrastruktur pendukung yang baik. Terakhir, keterampilan wirausaha perempuan juga harus dikembangkan. Inisiatif seperti Google for Startups Accelerator for Women Founders adalah langkah yang baik untuk mewujudkan hal tersebut. Namun upaya serupa dibutuhkan lebih banyak lagi, terlebih yang dapat diikuti oleh siswi taman kanak-kanak atau sekolah dasar.  Sekolah-sekolah dapat mulai mengajarkan lebih banyak tentang kewirausahaan dan memberi anak perempuan dan laki-laki kesempatan yang sama  untuk mengeksplorasi diri mereka di bidang teknologi sambil juga mengembangkan kemampuan berwirausahawa yang unggul.

Penulis: Theodore Great
Penyunting: Amelinda Pandu Kusumaningtyas


[i] Garikipati, S. and Kambhampati, U.S., 2020. Are women leaders really doing better on coronavirus? The data backs it up. [online] The Conversation. Available at: <http://theconversation.com/are-women-leaders-really-doing-better-on-coronavirus-the-data-backs-it-up-144809> [Accessed 10 Mar. 2021].

[ii] Ritchie, H. and Roser, M., 2019. Gender Ratio. Our World in Data. [online] Available at: <https://ourworldindata.org/gender-ratio> [Accessed 31 Mar. 2021].

[iii] UN Women, 2021. Visualizing the data: Women’s representation in society. [online] UN Women. Available at: <https://www.unwomen.org/en/digital-library/multimedia/2020/2/infographic-visualizing-the-data-womens-representation> [Accessed 31 Mar. 2021]

[iv] UN Women, 2021. Facts and figures: Women’s leadership and political participation | What we do. [online] UN Women. Available at: <https://www.unwomen.org/what-we-do/leadership-and-political-participation/facts-and-figures> [Accessed 10 Mar. 2021].

[v] Carroll, S.J. ed., 2001. The impact of women in public office. Bloomington: Indiana University Press.

[vi] UN Women, 2021. Facts and figures: Women’s leadership and political participation | What we do. [online] UN Women. Available at: <https://www.unwomen.org/what-we-do/leadership-and-political-participation/facts-and-figures> [Accessed 10 Mar. 2021].

[vii] IMD Business School, 2021. 3 barriers holding back the next wave of female digital leaders | IMD. [online] IMD business school. Available at: </research-knowledge/articles/three-barriers-holding-back-the-next-wave-of-female-digital-leaders/> [Accessed 1 Apr. 2021].