Keamanan Siber Sosial Sebagai Ilmu Baru: Apakah itu?

September 8, 2021 12:50 pm || By

Dunia yang semakin lama semakin siber ini menyebabkan segala hal di dunia ini akan memiliki aspek siber, termasuk pula dengan keamanan. Saat ini, perhatian dunia seakan bertumpu kepada aspek teknis dari keamanan siber, namun saya percaya bahwa hal ini akan berubah kedepannya. Semenjak dimulainya pandemi, masyarakat di seluruh dunia telah berandai-andai mengenai dunia seusai pandemi tersebut. Alvin Powell, penulis That Harvard Gazette menuliskan beberapa poin menarik seperti terciptanya sebuah generasi yang lebih depresi dan cemas daripada generasi sebelumnya; reformasi budaya kerja dari kerja kantoran ke budaya kerja dari rumah; perubahan besar dalam sistem lalu lintas di kota-kota; hilangnya toko-toko tradisional yang digantikan dengan toko daring yang kemudian menyebabkan peningkatan angka pengangguran; sentimen bayar non-tunai meningkat sehingga menciptakan cara pikir untuk menggunakan kartu kredit untuk membayar keperluan sehari-hari yang menggantikan cara pikir menggunakan kartu kredit hanya untuk ‘pembayaran jumlah besar atau darurat’; serta meningkatnya popularitas layanan telehealth.[i] Poin-poin ini memiliki permasalahan yang berbeda dengan satu sama lain, namun semuanya memiliki satu kesamaan: semuanya berhubungan dengan penggunaan internet dan jaringan. Sehingga, saya percaya bahwa keamanan siber bukan hanya masalah teknis, namun juga suatu disiplin yang wajib memiliki aspek sosial. Komunitas akademis telah menyadari hal ini dan telah mendiskusikan mengenai ilmu baru yang dinamakan Keamanan Siber Sosial.

Menurut laman situs Pusat Studi Komputasi, Organisasi, dan Masyarakat yang berada di bawah naungan Carnegie Mellon University, keamanan siber sosial adalah sebuah area pembahasan baru yang berfokus kepada ilmu mengkarakterisasi, memahami, dan meramalkan perubahan perilaku manusia, hasil sosial, budaya, dan politik, serta membangun infrastruktur siber yang dibutuhkan masyarakat untuk bertahan dalam lingkungan informasi yang diperantarai media yang terus berubah-ubah dan juga ancaman siber aktual dan yang akan datang.[ii]

Studi yang dilakukan oleh Carley telah memberikan pemahaman yang menyeluruh mengenai bidang studi keamanan siber sosial. Maka dari itu, paragraf-paragraf selanjutnya dari tulisan ini akan mengelaborasi lebih lanjutnya mengenai penemuannya mengenai keamanan siber sosial[iii]. Hal pertama yang perlu diketahui adalah bagaimana keamanan siber sosial adalah bidang studi baru baik dalam keilmuan maupun rekayasa karena pendekatan utamanya adalah menggunakan ilmu sosial komputasional yang berada di area penelitian terapan. Keamanan siber sosial mengambil berbagai disiplin dalam teknologi baru dan penemuan-penemuan keamanan siber sosial memiliki aplikasi terhadap internet dan penemuan serta metode yang digunakan relevan kepada perumus kebijakan, ilmuan, dan juga perusahaan.

Keamanan siber sosial memiliki perbedaan dengan keamanan siber. Keamanan siber berfokus kepada mesin dan bagaimana komputer dan database dapat dikompromikan dimana keamanan siber sosial berfokus kepada manusia dan bagaimana manusia-manusia tersebut dapat dikompromi, dikonversi, dan direlegasikan menjadi tidak penting. Ahli keamanan siber diharapkan untuk memahami teknologi, ilmu komputer, dan rekayasa sementara ahli keamanan siber sosial diharapkan untuk memahami komunikasi sosial dan pembangunan komunitas, statistic, jaringan sosial, dan pembelajaran mesin (machine learning). Carley juga menuliskan bahwa karya-karya tulis mengenai keamanan siber sosial telah mencapai 1437 karya (hingga tahun 2019) yang tersebar di jurnal-jurnal dari berbagai disiplin dengan jurnal interdisipliner di peringkat pertama dan jurnal ilmu sosial di peringkat kedua.[iv]

Kita telah membahas mengenai keamanan siber sosial sebagai suatu ilmu, sehingga bahasan selanjutnya adalah pokok bahasan apa saja yang menjadi bagian dari bidang keamanan siber sosial. Topik paling dominan dari bidang ini adalah disinformasi dan misinformasi, kemudian diikuti dengan perilaku konsumen dan jaringan situs, dan kemudian politik dan demokrasi. Namun terdapat beberapa pokok bahasan lain seperti akso kolektif dan aktivisme, mining opini dan sentimen, pengaruh dan pemasaran, difusi, identitas, sensor, dan juga praktik spamming.[v] Carley juga menjelaskan bahwa terdapat tujuh pokok pembahasan dalam bidang keamanan siber sosial, yaitu[vi]:

  1. Forensik-siber Sosial—mengidentifikasi siapa yang melakukan serangan keamanan siber sosial.
  2. Manuver Informasi—memahami strategi yang digunakan untuk melakukan serangan dan niatan dari strategi tersebut.
  3. Identifikasi Motif—memahami motif pelaku.
  4. Difusi—menelusuri, dan bahkan meramalkan, persebaran dari kampanye pengaruh.
  5. Efektivitas dari Kampanye Informasi—mengkuantifikasi efektivitas dari serangan keamanan siber sosial.
  6. Mitigasi—memahami bagaimana serangan keamanan siber sosial dapat ditangani atau dimitigasi serta memahami bagaimana komunitas dapat bertahan dari serangan-serangan yang melanda.
  7. Tata Kelola—memahami kebijakan dan hukum yang dibutuhkan agar masyarakat dapat terus menggunakan internet tanpa takut akan pengaruh-pengaruh yang menganggu demokrasi yang berpengetahuan.

Salah satu sektor yang telah mendeklarasikan kebutuhannya akan strategi keamanan siber sosial adalah sektor militer. Beskow dan Carley beragumen bahwa keamanan strategis terbesar dari setiap negara adalah pada internalnya daripada eksternalnya, sehingga para pemimpin harus memahami keamanan siber sosial untuk mempertahankan kelemahan internal dari manipulasi eksternal dan secara langsung mengedukasi tenaga militer dan mengedukasi masyarakat secara tidak langsung akan sifat desentralisasi dari lingkungan informasi, risiko-risiko, dan cara-cara untuk menyaring fakta dan opini yang dikonsumsi dan menjadi bagian dari kepercayaan dan opini kita sendiri akan menguntungkan di masa depan.[vii]

Seperti bidang studi lainnya, keamanan siber akan terus berevolusi seiring dengan berjalannya waktu. Walaupun aspek teknis dari keamanan siber akan selalu menjadi bidang yang relevan dalam bidang ini, saya beranggapan bahwa keamanan siber sosial sebagai ilmu baru akan menjadi salah sau pilar yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di dunia yang semakin lama semakin siber, apalagi saat kita menyambut teknologi-teknologi baru seperti kecerdasan buatan dan Internet of Things dalam kehidupan kita sehari-hari.


[i] Alvin Powell. 2020. What will the new post-pandemic normal look like? diakses dari https://news.harvard.edu/gazette/story/2020/11/our-post-pandemic-world-and-whats-likely-to-hang-round/ pada 25 Agustus 2021

[ii] CASOS. ____. Social-Cybersecurity diakses dari http://www.casos.cs.cmu.edu/projects/projects/social_cyber_security.php pada 25 Agustus 2021

[iii] Carley, K.M., 2020. Social cybersecurity: an emerging science. Computational and mathematical organization theory, 26(4), hal.365-381. DOI: https://doi.org/10.1007/s10588-020-09322-9

[iv] ibid

[v] Ibid hal. 368

[vi] Ibid hal. 377

[vii] Beskow, D.M. and Carley, K.M., 2019. Social cybersecurity: an emerging national security requirement. Carnegie Mellon University Pittsburgh United States. downloaded from https://apps.dtic.mil/sti/pdfs/AD1108494.pdf