Indonesia Tanpa Pacaran: Fenomena Internet berbasis Religi Terbaru di Indonesia

Desember 9, 2021 6:14 pm || By

Jika anda menghabiskan banyak waktu di media sosial, ada kemungkinan besar anda sudah mendengar nama Indonesia Tanpa Pacaran (ITP) sebelumnya, gerakan untuk mempromosikan Indonesia tanpa budaya pacaran. Dasar pikiran dari gerakan ini adalah untuk menghilangkan budaya pacaran diantara kaum muda Indonesia per 2023 dikarenakan pacaran dipersepsikan sebagai ajakan untuk melakukan zina. Mereka berfokus terhadap isu-isu yang anak muda sering temukan, cinta dan penemuan diri, untuk mendasari konten mereka dan meningkatkan rasa ingin tahu dari  audiens target. Gerakan ini secara perlahan telah mendapatkan pengaruh besar di Indonesia dengan jutaan pengikut di berbagai media sosial mereka. Artikel ini diharapkan dapat menganalisis perkembangan ITP sebagai fenomena daring di Indonesia karena tingginya pengaruh mereka sekarang ini.

Sejarah Indonesia Tanpa Pacaran

Gerakan ini diprakarsai oleh La Ode Munafar pada tahun 2015 ketika dia menyatakan bahwa dia ingin “berjuang menyelamatkan generasi” dengan mempromosikan dihilangkannya budaya pacaran diantara pemuda Indonesia.[i] Munafar merasa bahwa budaya pacaran telah membahayakan dan merugikan kalangan muda karena bisa memotivasi zina. Dikarenakan pacaran sebaiknya dihindari, ta’aruf dilihat sebagai cara ideal untuk bertemu dengan calon jodoh dan pernikahan sebagai tujuan suci dari followers ITP. Pernikahan dilihat sebagai solusi untuk mengeliminasi budaya pacaran dan juga sebagai langkah suci yang diambil pasangan-pasangan.[ii] Gerakan ini telah berkembang di seluruh pelosok Indonesia dimana masing-masing cabang daerah ITP akan memngelola acara-acara dalam skala daerah seperti kajian bahasa arab mingguan (Kajian Bahasa Arab Muda/Kabarmu) atau Kelompok Kajian Indonesia Tanpa Pacaran untuk para anggota yang diadakan tiap minggu.[iii] SetahunIMG_0225.jpg sekali, ITP mengadakan “Kampanye Akbar”, yang dihadiri oleh anggota ITP dari seluruh daerah untuk forum ITP tahunan yang membawa tema berbeda setiap tahunnya. ITP juga mempromosikan hijrah untuk kaum muda ITP untuk menjadi pribadi mereka yang lebih baik dan para anggota baru juga mendapatkan 3 bulan percobaan diawal keanggotaan mereka dimana ITP mengajarkan tentang hijrah dan hukum syariah. [iv]

Salah satu post Instagram yang mempromosikan pandangan ITP tentang pacaran

Bagaimana Indonesia Tanpa Pacaran menggunakan platform daring untuk mempromosikan gerakan mereka

Salah satu aspek menarik dari ITP adalah penggunaan aktif mereka terhadap platform daring dan media sosial untuk mempromosikan gerakan mereka. Mereka menargetkan kampanye mereka terhadap remaja dan kalangan muda (Gen Z), yang menggunakan media sosial setiap harinya. ITP menggunakan media sosial seperti Facebook, Instagram, LINE, WhatsApp dan Telegram sebagai platform interaktif dan gampang diakses untuk mempromosikan gerakan ITP. Mereka memikat  audiens target dengan tampilan konten menawan dan caption provokatif, yang biasanya berhubungan dengan cinta dan kritik berstigma tentang pacaran. Mereka berfokus untuk mem-posting konten menarik dan dengan intensitas yang tinggi. Munafar memaparkan bahwa 32 posts harus diunggah tiap harinya di media sosial ITP, untuk menambah ketertarikan dan jangkauan gerakan mereka. Dia juga memaparkan bahwa tim media sosial diharapkan untuk mengunggah dua post per jam untuk mencapai sasaran harian mereka dan mengunggah dengan maksimal interval satu jam diantara unggahan tersebut.[v] Selain dari study group dan rapat antara anggota, ITP juga menggunakan aplikasi WhatsApp untuk mengadakan tausyiah mingguan.[vi] Dengan strategi ini, mereka telah mengumpulkan lebih dari 1 juta pengikut di Instagram dan lebih dari 500.000 pengikut di Facebook, menunjukan kenaikan dari pengaruh online mereka diantara kaum muda Indonesia.

Kritik terhadap gerakan ITP

Contoh post ITP yang menunjukan pandangan konservatif terhadap wanita

Kesimpulan

Artikel ini diharapkan bisa menjelaskan tentang fenomena ITP melalui analisis terhadap ideology, metode dan kritik mengenai gerakan tersebut. Artikel ini juga ditulis untuk mendemonstrasikan peningkatan penggunaan dari cyberspace sebagai tempat untuk mempromosikan gerakan religi karena aksesibilitas yang tinggi dari platform online. ITP telah menjadi salah satu fenomena daring paling menarik perhatian kita akhir-akhir ini. Penggunaan strategis media sosial dan konten menarik mereka telah menangkap hati dari banyak orang muda di Indonesia yang sedang bermasalah dengan kehidupan percintaan mereka. Pengaruh internet yang telah ITP dapatkan bisa dilihat dari banyaknya pengikut dari gerakan tersebut dan menunjukan sukses dari gerakan berbasi religi ini. Akan sangat menarik untuk melihat skenario masa depan yang timbul dari gerakan ini dan dengan lebih banyak lagi fenomena internet berbasis religi yang berkembang di masa depan.

Penulis: Jasmine Noor Andretha Putri
Penyunting: Amelinda Pandu Kusumaningtyas


Daftar Pustaka

Khalika, N., 2018. Cara Indonesia Tanpa Pacaran Memikat Ratusan Ribu Pengikut – Tirto.ID. [online] tirto.id. Available at: <https://tirto.id/cara-indonesia-tanpa-pacaran-memikat-ratusan-ribu-pengikut-cLgQ> [diakses pada 13 May 2020].

Harinanda, S., 2019. Kontroversi Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran. [online] KOMPASIANA. Available at: <https://www.kompasiana.com/salsabilaastri/5df4c97ed541df2d9c1de3e2/kontroversi-gerakan-indonesia-tanpa-pacaran?page=1> [diakses pada 13 May 2020].

Hidayat, R., 2018. Bisnis Dan Kontroversi Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran – Tirto.ID. [online] tirto.id. Available at: <https://tirto.id/bisnis-dan-kontroversi-gerakan-indonesia-tanpa-pacaran-cK25> [diakses pada 13 May 2020].

Hidayat, R., 2019. Indonesia Tanpa Pacaran: Antara Biro Jodoh & Ruang Baru Persekusi. [online] tirto.id. Available at: <https://tirto.id/indonesia-tanpa-pacaran-antara-biro-jodoh-ruang-baru-persekusi-cK3b> [diakses pada 13 May 2020].

BBC News Indonesia. 2016. ‘Indonesia Tanpa Pacaran’ Berpandangan Sempit?. [online] Available at: <https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/08/160815_trensosial_pacaran> [diakses pada 6 May 2020].

Malia, I., 2018. Bom Waktu” Dari Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran. [online] IDN Times. Available at: <https://www.idntimes.com/news/indonesia/indianamalia/bom-waktu-dari-gerakan-indonesia-tanpa-pacaran-2/6> [diakses pada 13 May 2020].


[i] Khalika, N., 2018. Cara Indonesia Tanpa Pacaran Memikat Ratusan Ribu Pengikut – Tirto.ID. [online] tirto.id. Available at: <https://tirto.id/cara-indonesia-tanpa-pacaran-memikat-ratusan-ribu-pengikut-cLgQ> [diakses pada 13 May 2020].

[ii] Harinanda, S., 2019. Kontroversi Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran. [online] KOMPASIANA. Available at: <https://www.kompasiana.com/salsabilaastri/5df4c97ed541df2d9c1de3e2/kontroversi-gerakan-indonesia-tanpa-pacaran?page=1> [diakses pada 13 May 2020].

[iii] Hidayat, R., 2018a. Bisnis Dan Kontroversi Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran – Tirto.ID. [online] tirto.id. Available at: <https://tirto.id/bisnis-dan-kontroversi-gerakan-indonesia-tanpa-pacaran-cK25> [diakses pada 13 May 2020].

[iv] Hidayat, R., 2018b. Indonesia Tanpa Pacaran: Antara Biro Jodoh & Ruang Baru Persekusi. [online] tirto.id. Available at: <https://tirto.id/indonesia-tanpa-pacaran-antara-biro-jodoh-ruang-baru-persekusi-cK3b> [diakses pada 13 May 2020].

[v] Khalika, 2018.

[vi] Hidayat, 2018b.

[vii] BBC News Indonesia. 2016. ‘Indonesia Tanpa Pacaran’ Berpandangan Sempit?. [online] Available at: <https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/08/160815_trensosial_pacaran> [diakses pada 13 May 2020]

[viii] Malia, I., 2018. Bom Waktu” Dari Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran. [online] IDN Times. Available at: <https://www.idntimes.com/news/indonesia/indianamalia/bom-waktu-dari-gerakan-indonesia-tanpa-pacaran-2/6> [diakses pada 13 May 2020].

[ix] Hidayat, 2018b.

[x] Malia, 2018.

[xi] Hidayat, 2018a.