The Age of Fake News: Bagaimana Berita Palsu Mewabah di Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2020

Desember 9, 2021 5:44 pm || By

            Pemilihan presiden AS 2020 disebut-sebut sebagai salah satu pemilihan AS yang paling penting dalam sejarah kontemporer AS karena taruhannya yang tinggi dari kedua belah pihak. AS tidak pernah lebih terpecah seperti ini, dengan Presiden petahana Republik Donald Trump berkeinginan untuk mengamankan empat tahun lagi di White House dan kandidat Demokrat Joe Biden yang bertujuan untuk memulihkan posisi Amerika di dunia setelah empat tahun kebijakan kontroversial Trump, bersaing untuk menang. Karena pentingnya pemilu ini, media menjadi alat yang krusial bagi kedua belah pihak untuk mempromosikan dan menyebarkan informasi tentang kandidat mereka. Sebaliknya, media juga digunakan untuk menyebarkan berita palsu/fake news dan teori konspirasi untuk melemahkan kandidat lainnya. Pasca kemenangan Joe Biden, media, terutama media sosial dan dipimpin oleh Trump sendiri, juga digunakan untuk mendelegitimasi hasil pemilu dan menciptakan ketidakstabilan dalam proses transisi. Berita palsu memainkan peran penting dalam pemilihan presiden AS 2016, yang telah dibahas oleh banyak orang dalam pengaruhnya dan aktor yang berperan di dalamnya. Namun, artikel ini akan mencoba menggali lebih dalam tentang berita palsu yang tersebar dan dampaknya pada pemilihan presiden AS 2020.

Fake News di Pemilihan Presiden AS 2020

            Penciptaan dan penyebaran berita palsu telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. UNESCO mengklasifikasikan jenis berita palsu menjadi tiga kategori: disinformasi, misinformasi, dan malinformasi. Artikel ini ingin menyoroti lebih lanjut tentang penggunaan disinformasi dan misinformasi dalam pemilihan presiden AS 2020 karena relevansinya dengan kasus tersebut. Disinformasi didefinisikan sebagai informasi palsu yang dibuat untuk merugikan seseorang, kelompok sosial, organisasi atau negara dengan cara yang disengaja. Sedangkan misinformasi diartikan sebagai informasi palsu yang tidak dibuat dengan maksud yang merugikan.[1] Sebagian besar berita palsu yang beredar selama pemilu berasal dari Partai Republik dan Presiden Donald Trump, yang diketahui membagikan berita palsu di akun media sosial pribadinya. Klaim bahwa Joe Biden ‘mencuri’ pemilu disebarkan oleh Partai Republik dan Trump sebelum dan sesudah pemilu, tanpa bukti substansial atas klaim tersebut.

Sebelum pemilu, Trump berulang kali mengkritik pemungutan suara melalui surat pos atau mail-in voting, yang mencapai rekor tertinggi karena kekhawatiran tentang Coronavirus. Dia mengklaim bahwa surat suara yang masuk “out of control” (di luar kendali) dan “a whole big scam” (penipuan besar).[2] Terlepas dari tingginya jumlah pemungutan suara melalui surat karena pemilih memilih mengikuti pemilu dari jarak jauh di rumah mereka, Trump mengklaim bahwa ini adalah rencana para Demokrat untuk memenangkan pemilihan.[3] Kritik-kritiknya yang berulang pada pemungutan suara melalui pos pada akhirnya dibantah, karena didasarkan pada rumor tak berdasar yang disebarkan untuk merusak proses demokrasi.

Salah satu tweet Trump tentang pemilihan suara melalui pos

Selama penghitungan suara untuk pemilihan ini, Trump menargetkan lagi rumor yang tidak berdasar terhadap Biden untuk mendiskreditkan penghitungan suara, terutama di negara bagian yang dapat menentukan hasil pemilihan. Di Pennsylvania, beberapa penduduk menerima pesan teks bahwa “radical liberals and Democrats” (liberal radikal dan Demokrat)  berencana untuk melakukan penipuan dalam pemilihan dan mencuri pemilu ini.[4] Pesan-pesan ini mendesak orang untuk turun ke jalan atas dasar informasi yang salah tentang kecurangan pemilihan, walaupun pada akhirnya tidak ada bukti substansial untuk membuktikannya. Di Arizona dan Michigan, ada #SharpieGate, di mana beberapa pengguna media sosial mengklaim bahwa surat suara yang dipilih dengan pena Sharpie tidak akan dihitung. Desas-desus itu diklarifikasi oleh petugas pemilihan, yang menyatakan bahwa suara dengan pena Sharpie akan tetap dihitung.[5] Namun, unggahan media sosial yang memicu #SharpieGate memiliki konsekuensi yang lebih luas, salah satunya adalah pelecehan terhadap petugas TPS berdasarkan hoaks tersebut.[6]

Dampak berita palsu dalam Pemilihan Presiden AS 2020

            Dampak berita palsu pada pemilihan presiden AS 2020 sangat terlihat karena promosi berita palsu oleh Trump sendiri. Sudah diketahui secara luas bahwa Trump sering menggunakan Twitter pribadinya untuk mengkritik, dan pemilihan ini juga tidak kebal dari serangan ke lawan-lawannya. Dia berulang kali men-tweet banyak disinformasi dan berita palsu di akun Twitter pribadinya, yang digunakan untuk menggalang para pengikutnya untuk memprotes kemenangan Biden dalam pemilihan. Tweet Trump yang terkenal “STOP THE COUNT” juga digunakan sebagai dasar bagi para pendukungnya untuk menyebarkan berita palsu secara daring tentang para Demokrat yang mencoba “mencuri” pemilihan.[7] Dengan sifat pemilu yang berdampak tinggi dan keterlibatan Trump dalam menyebarkan berita palsu, perusahaan media sosial seperti Facebook dan Twitter mengambil langkah ekstra untuk membatasi jumlah berita palsu yang disebarkan. Hal ini dilakukan dengan menambahkan fitur pengecekan fakta ke tweet dan label pada unggahan yang tidak dapat dipercaya.[8]

Tweet terkenal trump: “STOP THE COUNT!”

            Karena berita palsu yang tersebar, ini menjadi ancaman bagi demokrasi Amerika dikarenakan Trump menolak untuk menerima hasil pemilu. Ini juga merupakan ancaman bagi transisi pemerintahan yang damai dari presiden petahana ke presiden berikutnya. Trump didorong oleh pengikut setianya, terutama di media sosial, untuk mempertahankan kekuasaannya meskipun ia kalah dalam pemilihan. Hal ini mengakibatkan periode yang tidak stabil bagi demokrasi Amerika. Salah satu implikasi paling parah dari periode ini adalah kerusuhan Capitol, yang dicetuskan oleh Trump di akun Twitter pribadinya.[9] Karena kejadian tersebut, Twitter juga secara permanen menangguhkan akun Twitter pribadi Trump.[10]

Media sosial adalah kunci utama dalam strategi Trump untuk mendapatkan pemilih baru. Strategi ini membawanya pada kemenangan pada tahun 2016 dan mengkonsolidasikan dukungannya selama masa jabatannya. Pernyataan kontroversialnya yang terus-menerus telah menjadi ciri khas kepribadiannya, juga meningkatkan pengikutnya yang mempercayai berita palsu itu. Terlepas dari manfaat yang kita nikmati dari media sosial dan bagaimana itu menjadi platform untuk mengekspresikan pendapat kita secara bebas, hal ini juga digunakan untuk menyebarkan berita palsu yang dapat membahayakan proses demokrasi. Kasus pemilihan presiden AS 2020 menyoroti sisi berbahaya dari platform media sosial dan menunjukkan bahwa bahkan negara-negara yang dianggap paling demokratis seperti AS pun rentan terhadap bahaya berita palsu di media sosial. Dengan meningkatnya penggunaan media sosial dalam pemilu yang demokratis, negara-negara lain juga berpotensi mengalami efek berita palsu ini di pemilu negara mereka. Dengan demikian, ini menunjukkan bahwa media sosial harus tetap digunakan dengan hati-hati untuk menciptakan platform yang berguna bagi negara-negara demokrasi, dan bukan untuk mengganggunya.

Penulis: Jasmine Noor Andretha Putri
Penyunting: Amelinda Pandu Kusumaningtyas


Daftar Pustaka

BBC News. 2021. Capitol riots timeline: The evidence presented against Trump. [daring] Tersedia di: <https://www.bbc.com/news/world-us-canada-56004916> [Diakses pada 28 Maret 2021].

Blog.twitter.com. 2021. Permanent suspension of @realDonaldTrump. [daring] Tersedia di: <https://blog.twitter.com/en_us/topics/company/2020/suspension.html> [Diakses pada 28 Maret 2021].

Euronews. 2020. How US election misinformation has led to real-world tensions. [daring] Tersedia di: <https://www.euronews.com/2020/11/06/how-us-election-misinformation-has-led-to-real-world-tensions-thecube> [Diakses pada 28 Maret 2021].

Kiely, E. and Rieder, R., 2020. Trump’s Repeated False Attacks on Mail-In Ballots – FactCheck.org. [daring] FactCheck.org. Tersedia di: <https://www.factcheck.org/2020/09/trumps-repeated-false-attacks-on-mail-in-ballots/> [Diakses pada 27 Maret 2021].

Nguyen, T. and Scott, M., 2020. How ‘SharpieGate’ went from online chatter to Trumpworld strategy in Arizona. [daring] POLITICO. Tersedia di: <https://www.politico.com/news/2020/11/05/sharpie-ballots-trump-strategy-arizona-434372> [Diakses pada 27 Maret 2021].

Rupar, A., 2020. Trump’s desperate “STOP THE COUNT!” tweet, briefly explained. [daring] Vox. Tersedia di: <https://www.vox.com/2020/11/5/21550880/trump-tweet-stop-the-count-votes-presidential-election> [Diakses pada 27 Maret 2021].

Sanz, C. and Thorbecke, C., 2020. What social media giants are doing to counter misinformation this election. [daring] ABC News. Tersedia di: <https://abcnews.go.com/Technology/social-media-giants-counter-misinformation-election/story?id=73563997> [Diakses pada 28 Maret 2021].

UNESCO. n.d. Journalism, ‘Fake News’ and Disinformation: A Handbook for Journalism Education and Training. [daring] Tersedia di: <https://en.unesco.org/fightfakenews> [Diakses pada 28 Maret 2021].


[1] UNESCO. n.d. Journalism, ‘Fake News’ and Disinformation: A Handbook for Journalism Education and Training. [daring] Tersedia di: <https://en.unesco.org/fightfakenews> [Diakses pada 28 Maret 2021].

[2] Kiely, E. and Rieder, R., 2020. Trump’s Repeated False Attacks on Mail-In Ballots – FactCheck.org. [daring] FactCheck.org. Tersedia di: <https://www.factcheck.org/2020/09/trumps-repeated-false-attacks-on-mail-in-ballots/> [Diakses pada 27 Maret 2021].

[3] Ibid.

[4] Euronews. 2020. How US election misinformation has led to real-world tensions. [daring] Tersedia di: <https://www.euronews.com/2020/11/06/how-us-election-misinformation-has-led-to-real-world-tensions-thecube> [Diakses pada 28 Maret 2021].

[5] Nguyen, T. and Scott, M., 2020. How ‘SharpieGate’ went from online chatter to Trumpworld strategy in Arizona. [daring] POLITICO. Tersedia di: <https://www.politico.com/news/2020/11/05/sharpie-ballots-trump-strategy-arizona-434372> [Diakses pada 27 Maret 2021].

[6] Euronews. 2020.

[7] Rupar, A., 2020. Trump’s desperate “STOP THE COUNT!” tweet, briefly explained. [daring] Vox. Tersedia di: <https://www.vox.com/2020/11/5/21550880/trump-tweet-stop-the-count-votes-presidential-election> [Diakses pada 27 Maret 2021].

[8] Sanz, C. and Thorbecke, C., 2020. What social media giants are doing to counter misinformation this election. [daring] ABC News. Tersedia di: <https://abcnews.go.com/Technology/social-media-giants-counter-misinformation-election/story?id=73563997> [Diakses pada 28 Maret 2021].

[9] BBC News. 2021. Capitol riots timeline: The evidence presented against Trump. [daring] Tersedia di: <https://www.bbc.com/news/world-us-canada-56004916> [Diakses pada 28 Maret 2021].

[10] Blog.twitter.com. 2021. Permanent suspension of @realDonaldTrump. [daring] Tersedia di: <https://blog.twitter.com/en_us/topics/company/2020/suspension.html> [Diakses pada 28 Maret 2021].