Dilema dalam Aplikasi Kencan Daring: Algoritma dan Komodifikasi Data

Desember 28, 2021 12:55 pm || By

Pada masa pandemi Covid-19 penggunaan aplikasi kencan daring mulai dari Tinder, OkCupid, sampai Bumble menunjukkan peningkatan jumlah percakapan dan pengguna. Berdasarkan data Tinder, percakapan pengguna di Indonesia meningkat dengan rata-rata sebesar 23 persen. Selain itu, pengguna aktif Bumble di Amerika Serikat (AS) juga naik 8 persen[i]. Pemberlakuan kebijakan lockdown dan protokol Kesehatan sebagai upaya penanganan pandemic Covid-19 mendorong berubahnya cara manusia menjalani kehidupan. Interaksi sosial yang dahulu dilakukan di ruang fisik dan secara tatap muka, beralih menjadi interaksi yang dijembatani oleh teknologi digital. Transformasi pun juga terjadi dalam kehidupan romantis manusi. Proses pencarian pasangan melalui kencan daring menjadi pilihan semakin banyak orang di era pandemic Covid-19 ini.

Lantas, apa itu kencan daring?

Menurut Sari dan Kusuma[ii] kencan daring dapat dideskripsikan sebagai salah satu contoh aktivitas Computer Mediated Communication (CMC) yang dibuat secara sengaja untuk menemui orang-orang baru dan ditujukan untuk mendapatkan pasangan. Pada proses kencan daring, seseorang mendaftarkan dirinya secara daring melalui aplikasi. Setelah terdaftar, pengguna mengirimkan foto dan memasukkan setiap informasi yang ingin diketahui komunitas kencan daring tentang dirinya. Jika pengguna lain tertarik, mereka dapat saling mengirim pesan, emotikon, mengirim gambar, hingga panggilan video, untuk mengungkapkan adanya ketertarikan untuk saling mengenal.

Pertemuan antar pengguna ini difasilitasi oleh algoritma untuk menemukan pasangan sesuai dengan preferensi dan kesamaan profil yang dimiliki. Algoritma tersebut terbentuk berdasarkan data-data yang dikumpulkan oleh pengguna dalam aplikasi kencan daring termasuk merekam perilaku pemilihan calon pasangan. Melihat banyaknya pengguna aplikasi kencan daring, selaras juga dengan data yang terekam dalam jejak digital aplikasi tersebut. Disatu sisi, semakin banyak pengguna dan dibantu oleh kehadiran algoritma, tentunya semakin besar peluang pengguna untuk bertemu dengan calon pasangan yang sesuai dengan preferensi mereka. Namun disisi lain, pengguna tidak menyadari algoritma ini mungkin mengarahkan mereka pada bias yang tidak dinginkan dalam preferensi tersebut. Bahkan mungkin algoritma ini hanya akan menunjukkan bias preferensi yang telah terekam. Dibalik kemudahan yang didapatkan dari penggunan aplikasi kencan daring, terdapat beberapa masalah yang perlu disoroti seperti filter bubble dan komodifikasi data. Maka dari itu dalam tulisan ini, penulis akan menjabarkan lebih dalam bagaimana algoritma di aplikasi kencan daring bekerja dan bagaimana permasalahan yang timbul dalam penggunaan aplikasi kencan daring.

Prediksi Algoritma dalam Kencan Daring

Algoritma aplikasi kencan memproses data dari berbagai sumber, termasuk media sosial dan informasi yang diberikan langsung oleh pengguna[iii]. Ketika membuat akun baru, pengguna biasanya akan diminta untuk mengisi kuesioner tentang preferensi mereka. Sebagian besar aplikasi juga memberi pengguna opsi untuk menyinkronkan profil media sosial mereka, yang berfungsi sebagai titik pengumpulan data lainnya (contohnya dalam profil Tinder pengguna dapat menautkan akun Instagram mereka). Menambahkan media sosial adalah pilihan yang menarik bagi banyak orang, karena memungkinkan mereka untuk lebih mengekspresikan identitas mereka. Setelah itu semua data dan interaksi (termasuk obrolan) dalam aplikasi aplikasi terdeteksi, dilacak, dan disimpan. Data ini akan dijadikan oleh algoritma untuk merekomendasikan calon pasangan.

Algoritma yang dijalankan oleh aplikasi kencan daring mendorong kita untuk berinteraksi pada pengguna lain yang sesuai dengan preferensi kita. Penelitian yang dilakukan oleh Parisi dan Comunello[iv] menemukan bahwa aplikasi kencan daring memberikan kontrol atas pemilihan pasangan dan pemberian rekomendasi, berdasarkan data yang dimasukkan dalam aplikasi tersebut hingga perilaku penelusuran pasangan. Jika ditelaah lebih lanjut, proses dalam aplikasi kencan daring menunjukkan analogi yang mirip dengan apa yang terjadi dalam konteks lain, misalnya mesin pencarian (Google) atau situs jejaring sosial (Facebook atau Instagram)[v]. Pada proses tersebut, sekumpulan algoritma bertanggung jawab untuk menyusun setiap konten yang akan ditampilkan (baik itu dalam halaman web atau unggahan media sosial). Algoritma mengurutkan apa yang akan mereka rekomendasikan dengan mengandalkan sekumpulan besar indikator, seperti relevansi dan dugaan pada setiap pengguna. Mekanisme yang terjadi dalam proses seleksi ini berkontribusi menciptakan, atau setidaknya meningkatkan, apa yang disebut filter bubble.

Pada dasarnya, seseorang mencari pasangan berdasarkan preferensi yang mereka harapkan, mereka akan tertarik pada orang yang kompatibel baik secara ideologis, demografis, atau sosioekonomis[vi]. Disinilah filter bubble menyediakan ruang berdasarkan hasrat atau keinginan pengguna untuk mendapatkan pasangan yang mereka inginkan. Filter bubble dapat memperkuat hasrat pengunannya akan suatu hal yang ingin mereka ketahui tanpa disadari pengguna terjebak dalam wilayah gelap yang tidak diketahui. Berdasarkan pola ini, aplikasi kencan daring dapat dibingkai sebagai bagian dari ” masyarakat kotak hitam”, karena kriteria yang mendorong kecocokan dan kompatibilitas pengguna tidak diungkapkan secara gamblang[vii]. Bahkan, pengguna tidak mengetahui secara benar bahwa algoritma ini telah menyortir dan mengatur rekomendasi profil pengguna lainnya. Secara tidak sadar pengguna masuk dalam lingkungan yang sudah dikotak-kotakan oleh algoritma dan filter bubble. Pengguna diarahkan agar dapat berpasangan sesuai dengan pengguna lain yang serupa dengannya. Dapat disimpulkan bahwa algoritma sangat mengatur dunia kencan daring, memutuskan apa saja yang akan pengguna lihat, dan menciptakan filter bubble. Namun, perlu direnungkan kembali apakah kehadiran algoritma dan filter bubble hanya akan memberikan keuntungan, atau bahkan ada dampak buruk yang mungkin akan ditimbulkan

Komodifikasi Data dalam Aplikasi Kencan Daring

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, algoritma aplikasi kencan daring berjalan sesuai dengan data preferensi yang dimasukkan oleh penggunanya. Data tersebut dimasukkan secara detail mulai dari apa yang kita suka dan tidak suka (preferensi hubungan, makanan, hingga tempat kencan). Bahkan pada beberapa aplikasi seperti Bumble mereka dapat memasukkan preferensi berlibur. Berdasarkan data yang diberikan, algortima akan terus memberikan rekomendasi atas preferensi yang diberikan. Hal ini membuat penggunanya merasa nyaman dalam aplikasi tersebut. Semakin lama pengguna menghabiskan waktu di aplikasi ini, semakin banyak kesempatan iklan masuk kedalam aplikasi ini[viii]. Pengiklan tidak hanya mendapat kesempatan untuk beriklan di dalam aplikasi kencan daring, tetapi terdapat kemungkinan bahwa data-data pengguna diberikan ini dijual ke pengiklan. Sehingga tidak heran, apabila pengguna mendapatkan iklan yang sangat cocok dengan preferensi mereka. Lalu bagaimana dengan para pengguna yang sudah membayar layanan aplikasi kencan daring. Apakah mereka harus tetap membayar, padahal mereka sudah memberikan banyak data kepada aplikasi tersebut. Permasalahan ini yang nampaknya belum terjawab oleh aplikasi kencan daring.

Simpulan

Mencocokkan pengguna dengan minat yang sama adalah tugas penting untuk aplikasi kencan daring. Disatu sisi, algoritma yang ditawarkan aplikasi kencan daring mampu membantu pengguna untuk bertemu pasangan yang sesuai dengan cepat. Namun, algoritma aplikasi kencan daring harus lebih mampu merefleksikan pengalaman manusia secara lebih akurat, dan memperhitungkan selera pengguna yang beragam dan berkembang. Selanjutnya pertanggung jawaban atas data yang dimasukkan dalam aplikasi tersebut, juga harus dijelaskan secara rinci ke pengguna. Tulisan ini hanya menjabarkan dan mengkritisi permasalahan yang muncul dalam aplikasi kencan daring. Selanjutnya, penulisan ini dapat dikembangkan serta dianalisis lebih lanjut bagaimana bentuk dan proses komodifikasi data dalam aplikasi kencan online.


[i] CNN Indonesia. (2020). Wabah Corona Bikin Aplikasi Kencan Online Laris Manis. Diambil dari https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200402144747-185-489624/wabah-corona-bikin-aplikasi-kencan-online-laris-manis

[ii] Sari, W.P., & Kusuma, R. S. (2018). Presentasi diri dalam kencan online pada situs dan aplikasi setipe dan tinder. MediaTor , 11 (2), 155-164.

[iii] Parisi, L., & Comunello, F. (2020). Dating in the time of “relational filter bubbles”: exploring imaginaries, perceptions and tactics of Italian dating app users. The Communication Review23(1), 66-89. doi:10.1080/10714421.2019.1704111

[iv] Barbagallo, C., & Lantero, R. G. (2020, May 12). Dating apps’ darkest secret: Their algorithm. IE HST Rewire Magazine. https://rewire.ie.edu/dating-apps-darkest-secret-algorithm/

[v] Parisi, L., & Comunello, F. (2020). Dating in the time of “relational filter bubbles”: exploring imaginaries, perceptions and tactics of Italian dating app users. The Communication Review23(1), 66-89. doi:10.1080/10714421.2019.1704111

[vi] Xia, P., Jiang, H., Wang, X., Chen, C., & Liu, B. (2014, May). Predicting user replying behavior on a large online dating site. In Eighth International AAAI Conference on Weblogs and Social Media.

[vii] Hanai, T. A., & Ghassemi, M. (2016, December 11). Break out of your echo chamber: Technology arranges lunch with someone new. The Conversation. https://theconversation.com/break-out-of-your-echo-chamber-technology-arranges-lunch-with-someone-new-69964

[viii] Pasquale, F. (2015). The black box society: The secret algorithms that control money and information. Boston, MA: Harvard University Press.