Peranan Digital Literacy dalam Peningkatan Kesadaran Cybersecurity

Januari 19, 2022 2:19 am || By

Faizatush Sholikhah, S.Sos.,M.A. (faizatush.sholikhah@ugm.ac.id)
Ketua Program Studi Pengelolaan Arsip dan Rekaman Informasi SV UGM

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mempengaruhi hampir semua kehidupan. Penggunaan internet di Indonesia meningkat setiap tahun selama beberapa dekade terakhir. Merujuk pada Laporan Survei Internet APJII 2019-2020, terlihat bahwa jumlah pengguna internet di semua lapisan masyarakat terus bertambah dari total 266,91 juta orang yang tinggal di Indonesia, sebanyak 196,71 juta atau 73,7% adalah pengguna internet (Laporan Survei APJII, 2020). Meskipun angka-angka ini mengesankan, komunitas elektronik ini masih ada yang belum memiliki keterampilan literasi digital. Literasi digital merupakan komponen penting dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan mendukung Reformasi Birokrasi di negara ini. Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, khususnya Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika (APTIKA), telah menginisiasi program pendukung dalam Gerakan Nasional Literasi Digital (https://aptika.kominfo.go.id/2020/01/literasi-digital- 3/). Beberapa program tersebut terkait dengan keamanan media digital, budaya media digital, keterampilan digital, dan etika media digital (http://literasidigital.id/).

Terbentuknya budaya digital yang sehat merupakan salah satu tujuan besar dari berbagai program yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia dalam rangka meningkatkan literasi digital. Masyarakat diharapkan memahami pentingnya literasi digital, dimulai dari perlindungan data pribadi. Orang-orang yang berinteraksi dengan pertukaran dan sirkulasi data bertemu lagi dalam pengaturan tatap muka, yang berarti aktivitas online mereka memiliki konsekuensi dalam “kehidupan nyata”. Mereka menggunakan berbagai platform yang memberi mereka akses ke berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan, pertukaran ekonomi, dan sektor lainnya.

Tak pelak, semua lapisan masyarakat secara bertahap memproduksi data digital dalam jumlah yang semakin meningkat, sementara seringkali tidak dapat secara langsung “mengendalikan” kondisi penyimpanan dan penggunaan informasi ini seiring berjalannya waktu. Misalnya di bidang pendidikan, pertemuan tatap muka mengharuskan dosen dan mahasiswa menggunakan berbagai platform digital untuk mendukung kegiatan pembelajaran jarak jauh. Berbagai platform untuk konferensi video seperti Zoom dan Google Meet, atau platform yang dibuat secara mandiri oleh institusi pendidikan itu sendiri menjadi landasan untuk bertukar data dan informasi tentang kegiatan belajar dan mengajar. Di sektor ekonomi dan sosial, sebagian besar masyarakat terpaksa Work From Home (WFH) atau Shop From Home (SFH) selama Pandemi COVID-19. Oleh karena itu, segala kebutuhan transaksi bisnis mereka, seperti aktivitas jual beli, perbankan, dan hiburan masyarakat, tidak mungkin tanpa dukungan berbagai platform digital. Semua platform digital ini memerlukan beberapa data dan informasi untuk dibagikan untuk mengakses platform ini.

Pemahaman terhadap pentingnya data pribadi dan upaya melindungi informasi pribadi merupakan dasar transformasi masyarakat untuk beradaptasi dengan budaya digital: ”Digital literacy is the ability to access, manage, understand, integrate, communicate, evaluate and create information safely and appropriately through digital technologies for employment, decent jobs and entrepreneurship. It includes competences that are variously referred to as computer literacy, ICT literacy, information literacy and media literacy” (Nancy Law dkk, 2018). Literasi Digital adalah kemampuan untuk mengakses, mengelola, memahami, mengintegrasikan, mengkomunikasikan, mengevaluasi, dan menciptakan informasi secara aman dan tepat melalui teknologi digital untuk lapangan kerja, layak pekerjaan dan kewirausahaan. Ini mencakup kompetensi yang secara beragam disebut sebagai literasi komputer, literasi TIK, literasi informasi dan literasi media.

Salah satu permasalahannya adalah kurangnya kepedulian pengguna internet untuk meningkatkan keterampilan digital, sehingga menimbulkan berbagai permasalahan terkait penyalahgunaan data, kebocoran data, atau terkait cybercrime. Orang-orang memahami dan melihat pentingnya melindungi aset fisik dan properti, tetapi mereka tidak sepenuhnya menyadari kerentanan aset digital mereka dan perlunya tindakan perlindungan (Moallem, 2019). Berbagai kasus penyalahgunaan data dan ancaman kejahatan dunia maya masih menjadi permasalahan yang harus dihadapi. Oleh karena itu, ancaman terhadap keamanan siber seperti peretasan, serangan Denial of Services (DoS), virus, phising, spam, atau pencurian informasi pribadi, dan serangan ransomware, memerlukan peningkatan kesadaran dan ketahanan terhadap kejahatan siber. Ini adalah tugas bagi pemerintah serta pengguna untuk mengadopsi perilaku mereka dan mengembangkan lebih banyak kesadaran diri.

Peningkatan literasi digital menjadi pertimbangan pemerintah pusat. Hal itu dilaksanakan melalui Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, pengelolaan dan perlindungan data dan informasi dalam transaksi elektronik dan akses informasi publik. Berdasarkan undang-undang tersebut, ada beberapa hal yang menjadi perhatian pemerintah untuk memberikan rasa aman dan kepastian hukum. Peningkatan literasi digital dilakukan untuk seluruh lapisan masyarakat. Pejabat publik juga membutuhkan literasi digital untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam tugasnya (Young, 2016). Literasi digital juga diperlukan dalam reformasi birokrasi sebagai upaya strategis untuk mencegah praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme untuk membentuk pemerintahan yang baik (Primanto Aji dkk, 2014). Berbagai upaya untuk meningkatkan kesadaran keamanan siber dapat dilakukan melalui kerja sama antara berbagai pemangku kepentingan, seperti Pemerintah Pusat, Provinsi dan Daerah, praktisi, dunia pendidikan, atau bahkan individu. Kolaborasi juga dapat terjadi di tingkat internasional. Sangat penting untuk memajukan literasi digital sambil beradaptasi dengan setiap perkembangan teknologi dan informasi untuk meningkatkan perlindungan data pribadi dan privasi.

Privasi Data/Informasi

Technology presents new opportunities and new challenges. The pace and the intensity of technological advancement—our ability to create, store, use and share mass amounts of digital information and data—are really at the heart of some of the biggest challenges concerning privacy and access to information today. We’ve moved from a paper-based system to an era where most records are “born digital” (Review the Freedom of Information and Protection of Privacy Act, July 21, 2015, page 19).

Privasi data atau informasi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran dalam keamanan siber, sebagai contoh pertimbangan sebelum membagikan foto atau informasi di media sosial. Pilihan visibilitas konten yang kami bagikan apakah bersifat publik atau terbatas pada teman dekat, teman, atau tidak dapat diakses oleh sebagian orang yang diblokir dari pertemanan adalah beberapa cara untuk melindungi privasi seseorang di media sosial. Beberapa waktu lalu, Netflix, sebuah perangkat streaming yang memungkinkan masyarakat untuk mengakses film atau acara televisi tertentu secara berlangganan. Salah satu kasus yang menarik adalah film berjudul Squid Game, serial televisi Korea Selatan yang disutradarai dan ditulis oleh Hwang Dong-Hyuk, yang telah menarik banyak perhatian publik di seluruh dunia. Alur cerita Squid Game agak terkait dengan penggunaan data dan informasi. Nantinya, pemilik data menentukan target dan menyeleksi peserta yang akan bertanding di Squid Game.

Bagaimana kuasa informasi, dengan melihat data dan informasi personal seseorang dari mulai identitas pribadi hingga jumlah asset maupun tanggungan hutang piutang dan permasalahan pribadi maupun di tempat kerja membuat penyelenggara Squid Game berhasil menjaring 456 peserta yang memiliki latar belakang permasalahan ekonomi maupun kehidupannya. Psikologi “digital” berperan di sini untuk melihat keputusan partisipan untuk melanjutkan permainan atau memilih berhenti ketika ditawarkan untuk menghentikan permainan di awal permainan. Data dan informasi pribadi dari para pemain menjadi arsip milik penyelenggara, yang sayangnya juga terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Secara sadar atau tidak sadar kita mengirimkan data atau informasi pribadi ketika menggunakan aplikasi atau platform digital atau media penyimpanan seperti drive di Cloud misalnya, Google Drive atau Dropbox yang menggunakan sistem berbagi data di penyimpanan data kita. Pemilik data atau informasi memiliki “wewenang” dalam menentukan atau mengetahui pergerakan kehidupan seseorang di berbagai sektor.

Hak cipta dan lisensi

Pada saat yang sama, berbagai kemudahan dalam membuat dan mengunggah konten digital juga telah mendorong pemahaman tentang hak cipta dan lisensi atas data, informasi, dan konten digital serta prinsip kepemilikan pencipta atau orisinalitas suatu ciptaan (Sorban dkk, 2011) menunjukkan kompleksitas hubungan dalam jejaring sosial, termasuk risiko hukum, risiko keamanan dan privasi, risiko kekayaan intelektual dan hak cipta, risiko tenaga kerja, dan risiko lainnya.


Referensi

Abbas Moallem, 2019, Cybersecurity awareness among student and faculty, New York: CRC Press Taylor & Francis Group.

Nancy Law, David Woo, Jimmy de la Torre and Gary Wong, “A Global Framework of Reference on Digital Literacy Skills for Indicator 4.4.2”, dalam Information Paper No 51 June 2018, Unesco.

Laporan Survey Internet APJII 2019-2020

Purwanto Aji, dkk. “Bureaucratic Reform A way to eliminate Corruption, Collusion and Nepotism Practices in Indonesia”, International Journal of Economic, Commerce, and Management, Vol II, Issue 10 Oct 2014

Turban E, Bolloju N., and Liang T.P. (2011):”Enterprise social networking: Opportunities, adoption and Risk Mitigation,” Journal of Organisational Computing and Electronic Commerce, 21, 202-220.

Website

OIPC Commissioner’s Briefing: Freedom of Information and Protection of Privacy Act – Hansard, Special Committee to Review the Freedom of Information and Protection of Privacy Act, July 21, 2015, page 19.

Anonymous, web literasi digital Infografis Literasi digital, retrieved from http://literasidigital.id/, 9 October 2021

https://aptika.kominfo.go.id/2020/01/literasi-digital-3/