Hiperkonektivitas pada Aplikasi Kencan Daring: Kala dihadapkan pada Lautan Pilihan

Februari 23, 2022 6:55 pm || By

Penulis: Firya Qurratu’ain Abisono
Editor: Amelinda Pandu Kusumaningtyas

Sejak kehadirannya, Aplikasi kencan daring membawa revolusi dalam dunia kencan. Aplikasi ini nampaknya bukan lagi menjadi aplikasi yang asing terdengar di telinga masyarakat, terlebih kaum urban. Kendati demikian, tanpa disadari aplikasi kencan daring mengarah pada fenomena hiperkonektivitas yang memiliki dua sisi mata koin. Pada satu sisi, kehadiran aplikasi kencan daring memudahkan penggunanya untuk mendapatkan pasangan sesuai dengan keinginan. Namunsebagai aplikasi yang bisa menghubungkan seseorang dengan banyak pilihan, memicu pertanyaan; dapatkah pengguna benar-benar memelihara hubungannya dengan setiap orang yang ia temui dalam aplikasi kencan daring?

Hiperkonektivitas pada Aplikasi Kencan Daring

Hiperkonektivitas merupakan kata yang relatif baru yang diciptakan untuk menggambarkan ketersediaan yang cepat seperti yang tengah kita alami saat ini dan asimilasi yang sangat luas serta global dari cara-cara baru untuk berkomunikasi melalui jaringan digital[i] [ii]. Bagian terburuk dari hiperkonektivitas adalah banyak yang beralih dari percakapan tatap muka dengan anggota keluarga, teman, atau kolega menjadi komunikasi digital dengan anggapan bahwa cara tersebut lebih efektif dan menghemat waktu.

Lalu bagaimana dengan kualitas hubungan ini? Apakah hubungan menjadi lebih dalam dan dekat?

Di dunia yang sangat terhubung seperti sekarang, semua orang memiliki akses ke informasi, data, dan semua layanan hanya dengan satu ketukan layar dimanapun dan kapanpun mereka berada. Seseorang dapat terhubung dengan teman, keluarga, sekolah, institusi sipil, dan bahkan orang asing dari belahan dunia lain secara instan. Disinilah aplikasi kencan daring menjadi salah satu medium yang berperan dalam mempertemukan penggunanya kepada calon pasangan berdasarkan lokasi tanpa harus bertemu secara langsung terlebih dahulu.

Aplikasi kencan daring dideskripsikan sebagai bentuk aktivitas CMC (Computer Mediated Communication) yang dibuat secara sengaja untuk menemui orang-orang baru dengan mediasi situs internet yang dirancang khusus untuk tujuan mendapatkan pasangan.[iii]  Jika disesuaikan dengan tujuan pembuatan aplikasi kencan daring, tentunya aplikasi ini diharapkan dapat membantu penggunanya untuk mendapatkan pasangan. Kendati demikian yang kerap luput dari penggunanya adalah aplikasi ini justru menggiring mereka pada fenomena hiperkonektivitas.

Dewasa ini, hampir semua situs kencan daring seperti Match, JDate, eHarmony, OkCupid, dan SoSoCupid memiliki aplikasi yang bisa diunduh di ponsel cerdas penggunanya. Hal ini tentunya membuat para pengguna memiliki akses yang semakin mudha dan cepat ke lautan pilihan pasangan. Akan tetapi, kemudahan ini juga menggiring penggunanya untuk terus-menerus memeriksa ponsel mereka secara neurotik guna melihat siapa yang akan mereka pilih dan siapa yang memilih mereka. Dalam bukunya, Syrtash & Wilser[iv] menyatakan bahwa seseorang terlalu terikat pada aplikasi kencan daring dapat mengabaikan pekerjaan agar dapat menghabiskan lebih banyak waktu melihat dan memilih profil pengguna lain di aplikasi kencan. Bahkan pada tahapyang lebih akut, seseorang bisa saja terus memeriksa aplikasi kencan daringnya ketika sedang melakukan kencan luring.

Implikasi fenomena hiperkonektivitas pada aplikasi kencan daring adalah, kencan daring menawarkan penggunanya banyak pilihan dan kemudahan untuk terhubung pada pilihan tersebut. Jika ditelaah kembali, sisi negatif yang ditimbulkan oleh hiperkonektivitas pada aplikasi kencan daring adalah membuat penggunanya ketagihan. Ketika pengguna sedang dalam pergolakan kencan daring, mereka akan terus hanyut dalam perasaan menyenangkan untuk terus memeriksa aplikasi tersebut dan tidak lagi mengacuhkanapa yang tengah terjadi di dunia nyata. Tidak hanya mengabaikan apa yang sedang terjadi di dunia nyata, hiperkonektivitas dalam aplikasi kencan daring juga menimbulkan pertanyaan atas kedalaman hubungan yang terbentuk di dalam aplikasi tersebut.

Lautan Pilihan dan Hubungan yang Semu

Hiperkonektivitas adalah segala bentuk komunikasi dengan cara apa pun, dari satu ke satu, dari satu ke banyak, dan banyak ke satu.[v]Aplikasi kencan daring merupakan bentuk hiperkonektivitas dari satu ke banyak karena memberikan ruang untuk seseorang masuk kedalam lautan pilihan calon pasangan. Bagi beberapa orang, pendekatan seperti ini akan berdampak positif karena dapat menemukan pasangan sesuai kriterianya. Namundisisi lain terdapat pengguna yang merasa putus asa dengan pendekatan seperti ini. Survey yang dilakukan oleh Anderson dkk.,[vi] menunjukkan bahwa 45% pengguna aplikasi kencan saat ini merasa frustasi ketika menggunakan aplikasi karena kebingungan dengan banyaknya pilihan yang dimiliki. Selaras dengan itu, Homnack[vii] menganggap bahwa aplikasi kencan daring membentuk perilaku pencarian yang tiada henti melalui berbagai profil.

Tidak dapat dipungkiri hiperkonektivitas yang ditawarkan aplikasi kencan daring memenuhi kebutuhan penggunanya akan kepuasan instan dalam mencari pasangan. Tetapi jika ditinjau dari sisi hubungan, kemunculan profil yang tidak pernah berakhir menyebabkan pengguna terus mencari “hal terbaik berikutnya” yang mungkin akan berdampak pada ketidak seriusan hubungan tersebut. Lalu bagaimana masa depan kehidupan cinta pengguna aplikasi ini? Akankah mereka mengenal orang hanya berdasarkan foto profil mereka?

Bauman[viii] percaya kencan daring merupakan gejala liqiud love yang hadir pada era individualisme, dimana fenomena ini melemahkan ikatan antar manusia akibat perubahan sosial dan teknologi yang cepat. Ia juga menganggap keberadaan aplikasi kencan daring mengarahkan individu untuk berpikir lebih banyak tentang hubungan yang bersifat sementara daripada komitmen seumur hidup, Hal ini juga dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Hobbs, dkk.,[ix] bahwa jaringan seksual dapat diperluas melalui penggunaan teknologi digital, yang mengarah pada peningkatan jumlah pasangan seksual dan pertemuan kasual. Di sisi lain, survey yang dilakukan oleh kapersky.com[x] menemukan bahwa orang beralih ke kencan daring karena berbagai alasan, 48% melakukannya untuk bersenang-senang, sementara beberapa mencari hubungan yang lebih bermakna dan satu dari sepuluh hanya mencari hubungan seks kasual semata.

Aplikasi kencan daring merevolusi hubungan kencan dan juga aktivitas seksual masyarakat modern. Kemudahan dan sensasi memilih dari lautan pilihan ini yang memungkinkan pengguna menggunakan aplikasi ini untuk bersenang-senang,sehingga aktivitas berkencan dianggap sebagai sebuah aktivitas rekreasi dimana pasangan sangat mudah tergantikan oleh orang baru yang ditemukan di aplikasi. Di sinilah fenomena hiperkonektivitas yang terjadi di aplikasi kencan daring perlu dikhawatirkan.Jika tujuan pembuatan aplikasi ini adalah menemukan pasangan seumur hidup, lantas mengapa aplikasi ini memunculkan terbentuknyahubungan semu akibat banyaknya pilihan yang beragam? 

Simpulan

Hiperkoneksi memang sangat membantu dalam membangun jaringan dan memudahkan penggunanya untuk terhubung dengan banyak orang. Kendati demikian, ketika hiperkonektivitas masuk dalam aplikasi kencan daring justru dapat membuat penggunanya terus menerus mencari dan terjebak dalam pencarian tersebut. Aplikasi kencan daring yang semestinya dapat membantu penggunanya menemukan pasangan justru dapat menggiring penggunanya untuk terlena dalam permainan kencan daring. Tentunya hal ini tidak hanya berpengaruh terhadap bagaimana penggunanya memandang dan menyesuaikan diri dalam aplikasi tersebut, tetapi berdampak pada bagaimana penggunanya tidak menghargai orang disekitar dan menilai orang hanya dari tampilan profil lawan jenisnya. Tidak hanya itu, aplikasi ini juga memiliki dampak pada pemaknaan hubungan dan bagaimana menjalani hubungan percintaan itu sendiri.


[i] Dutta, S., & Bilbao-Osorio, B. (2012). Global information technology report 2012: living in a hyperconnected world Geneva: World Economic Forum and INSEAD.

[ii] Cheok, A. D. (2016). Hyperconnectivity. London: Springer.

[iii] Sari, W.P., & Kusuma, R. S. (2018). Presentasi diri dalam kencan online pada situs dan aplikasi setipe dan tinder. MediaTor ,

11 (2), 155-164

[iv] Syrtash, A., & Wilser, J. (2013). It’s okay to sleep with him on the first date: And every other rule of dating, debunked. Don

Mills, Ont.: Harlequin.

[v]Cheok, A. D. (2016). Hyperconnectivity. London: Springer.

[vi] Anderson, M., Vogels, E., & Turner, E. (2020, October 02). Users of online dating platforms experience both positive – and

negative – aspects of courtship on the web. Retrieved December 10, 2020, from

https://www.pewresearch.org/internet/2020/02/06/users-of-online-dating-platforms-experience-both-positive

and-negative-aspects-of-courtship-on-the-web/

[vii] Homnack, A. (2015). Online dating technology effects on interpersonal relationships. Advanced Writing: Pop Culture

Intersections, Paper 4.

[viii] Bauman, Z. (2003). Liquid Love: On the Frailty of Human Bonds. Cambridge: Polity

[ix] Hobbs, M., Owen, S., & Gerber, L. (2017). Liquid love? Dating apps, sex, relationships and the digital transformation of intimacy. Journal of Sociology53(2), 271-284.

[x] Dangerous liaisons: Is everyone doing it online? Daily English Global blogkasperskycom. (2017). Retrieved, from https://www.kaspersky.com/blog/online-dating-report/