“New” Tech, Same Old Mistakes: Munculnya Pelecehan Seksual yang Tak Terhindari di Metaverse

Februari 23, 2022 5:01 pm || By

Penulis: Rizka Khairunissa Herdiani
Editor: Amelinda Pandu Kusumaningtyas

Metaverse, sebuah istilah yang tengah menjadi topik pembicaraan banyak orang dan biasanya dilontarkan bersamaan dengan “blockchain” dan “NFT”. Kehebohan seputar konsep virtual and augmented reality yang tidak terlalu baru ini meroket dari hari ke hari dengan janji-janji seperti menumbuhkan kreativitas melalui pembuatan avatar virtual serta ruang yang serupa seperti game hingga pertumbuhan ekonomi melalui monetasi digital.1 Namun, terlepas dari prospek yang tampaknya menarik, ada satu pertanyaan yang tersisa bagi mereka yang sadar akan bahaya ruang digital: bagaimana dengan pelecehan seksual?

Sayangnya, terdapat masalah yang tidak dapat dihindari. Pelecehan seksual yang sudah menjadi masalah konstan sejak awal berdirinya internet kini semakin intens seiring dengan perkembangan teknologi digital terkini seperti kecerdasan buatan dan virtual-augmented reality. Ambil teknologi kecerdasan buatan “deepfake” sebagai contoh. Yang biasanya digunakan untuk menumpang tindih foto-foto pemimpin dunia dan selebriti ke berbagai skenario lucu sekarang digunakan untuk mengubah ratusan ribu foto perempuan menjadi foto telanjang palsu.2 Permasalahan ini tidak hanya sekadar eksploitasi dan objektifikasi perempuan, tetapi juga kekerasan dan pelecehan seksual yang merajalela.

Hal ini juga sama dengan metaverse. Walaupun menggunakan avatar, representasi virtual pengguna yang bisa saja berbeda dari penampilannya di dunia nyata, para pengguna bisa saja menjadi korban pelecehan seksual. Seorang penguji beta melaporkan bahwa ada orang asing yang meraba-rabanya di platform media sosial virtual reality milik Meta, Horizon Worlds.3 Meskipun berita ini menyebabkan kegemparan di tengah masyarakat digital, insiden seperti ini bukan yang pertama kalinya terjadi. Pada 2016, seorang gamer bernama Jordan Belamire merilis surat terbuka yang menceritakan pengalamannya mengalami pelecehan seksual di sebuah virtual reality game bernama QuiVR.4  Walaupun para pengembang game tersebut meresponsnya dengan penuh simpati dan telah melakukan perbaikan dalam game sebagai tindakan pencegahan, insiden yang sama kembali muncul beberapa tahun kemudian di platform lainnya.

Apa yang membuat metaverse lebih berbahaya dibanding platform digital lain?

Fenomena misogini online memberikan dampak buruk terhadap perempuan. Hal tersebut tidak hanya membuat internet menjadi sebuah ruang yang kurang setara, kurang aman, atau kurang inklusif bagi perempuan, kekerasan dan pelecehan berbasis teknologi juga dapat menghasilkan efek yang bertahan lama yang dialami secara offline.5 Sebagai contoh, sebuah jajak pendapat Amnesty International pada 2017 menemukan bahwa 41 persen perempuan yang mengalami kekerasan atau pelecehan berbasis online pernah, setidaknya pada satu kesempatan, merasa bahwa keselamatan fisiknya terancam.6

Reaksi-reaksi tersebut juga serupa dengan pengguna yang mengalami pelecehan seksual di ruang virtual reality seperti metaverse. Katherine Cross, seorang peneliti dari University of Washington, menyoroti bahwa ketika seseorang memasuki sebuah antarmuka virtual reality yang terlihat nyata, perilaku buruk dalam lingkungan tersebut juga nyata. Dia juga menambahkan bahwa “itu adalah bagian dari alasan mengapa reaksi emosional bisa lebih kuat di ruang itu, dan mengapa VR (virtual reality) memicu sistem saraf internal dan respons psikologis yang sama.”7

Meskipun ada beragam peringatan mengenai seberapa parah efek yang bisa muncul, apa yang membuat mengerikan adalah banyak orang yang masih meremehkan kesamaan pelecehan seksual di ruang virtual reality dengan yang terjadi di kehidupan nyata. Sebuah jurnal yang dipublikasi oleh Digital Games Research Association mencatat bahwa tindakan meraba-raba di ruang-ruang tersebut “bergulat dengan pemahaman [bahwa] tindakan ini terjadi dalam konteks virtual dan menyenangkan ketika terjadi.” Beberapa komentar tersebut—yang dikumpulkan dari respons Reddit—juga menyatakan rasa jijik dan skeptisme mereka seolah-olah menyatakan tindakan meraba-raba sebagai kekerasan atau pelecehan seksual adalah bentuk “political correctness”.8

Selain itu, meningkatnya jumlah kasus pelecehan seksual di ruang-ruang ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai akuntabilitas dan seberapa jauh batasan yuridiksi. Pada dasarnya, ketika menanggapi kasus-kasus tersebut, platform pengembang biasanya dimintai pertanggungjawaban untuk memoderasi interaksi yang sedang terjadi. Namun, jika menyangkut gagasan tentang virtual reality, hal tersebut mungkin lebih rumit. Anonimitas pengguna serta kebebasan mereka untuk berkeliaran di ruang yang luas bisa memakan waktu untuk para pengguna mengidentifikasi dan melaporkan para pelaku ke platform. Tidak hanya itu, konsep “virtual groping” atau meraba-raba secara virtual di bawah hukum saat ini masih tidak dinyatakan sebagai tindakan kekerasan kecuali tindakan tersebut kemudian dilakukan di dunia nyata yang dapat menimbulkan cedera atau percobaan penyerangan.9 Dalam kata lain, para pihak berwenang mungkin memberikan sedikit atau tidak ada perhatian dalam menanggapi laporan pelecehan seksual yang muncul dari dunia virtual reality.

Menanggapi pelecehan seksual: tindakan saat ini dan saran

Di sisi yang lebih positif, tindakan pencegahan untuk memastikan keamanan para pengguna di ruang-ruang virtual reality telah diterapkan di berbagai platform dengan memberikan para pengguna semacam keleluasaan untuk melindungi diri mereka. Misalnya, kedua kasus pelecehan seksual yang dialami oleh Jordan Belamire di QuiVR dan penguji beta Horizon Worlds milik Meta sudah ditanggapi oleh para pengembang platform masing-masing.10 Dengan QuiVR, para pengembang platform memasukkan suatu perbaikan di dalam game-nya. Dengan menggunakannya, para pengguna dapat meragangkan tangan mereka menjadi bentuk V (juga disebut “gerakan kekuatan”) untuk secara otomatis  mendorong jauh para pengganggu. Sementara, Horizon Worlds memiliki fitur keamanan built-in bernama “Safe Zone” atau Zona Aman, yang memungkinkan pengguna untuk mengaktifkan sebuah gelembung pelindung. Ketika digunakan, pengguna lain tidak dapat menyentuh, berbicara, atau berinteraksi dengan cara papun hingga fitur tersebut dinonaktifkan.

Menerapkan tindakan-tindakan ini memang memberikan para pengguna semacam kekuatan untuk menjamin keamanan mereka sendiri. Namun, masalah mendasar berupa pelaku yang masih berkeliaran dengan bebas dan mungkin mengambil kekuatan tersebut masih ada. Salah satu cara yang dapat dilakukan para pengembang platform untuk mengatasi hal terseut adalah dengan menempatkan moderator. Meskipun mengimplementasikannya merupakan pendekatan paling dekat untuk mengamati serta melaporkan kekerasan seksual, satu hal yang penting diterapkan juga adalah pencegahan real-time seperti mencari pelaku, yang kemudian diikuti oleh pelaporan dan pelarangan.

Malasah lain yang perlu ditangani adalah kondisi kesejahteraan para pengguna setelah mengalami pelecehan seksual. Walaupun mendisiplinkan para pelaku adalah cara pertama untuk mengatasi permasalahan ini, tetap berkomunikasi dengan pengguna yang mungkin akan melalui efek setelah mengalami pelecehan seksual online sangat penting dilakukan oleh para platform. Dengan demikian, Meta serta platform lainya yang berkecimpung dalam virtual reality dapat menerapkan “tombol bantuan” built-in yang menyediakan pendampingan psikolog untuk para pengguna. Meskipu tindakan tersebut sudah pernah dilakukan di platform lainnya seperti aplikasi kencan11, hal ini merupakan langkah pertama di arah yang benar untuk para pengembang platform dalam menanggapi bahwa isu ini jauh lebih luas daripada sekadar melarang para pelaku.

Untuk ke depannya, ketika bentuk-bentuk interaksi menjadi lebih digital dengan munculnya metaverse, masalah lama tentang misogini dan pelecehan seksual yang terus-menerus justru tidak diminimalkan melainkan diintensifkan. Meskipun tindakan pencegahan telah diterapkan, itu pun masih belum cukup untuk melawan budaya misoginis yang mengakar kuat di ruang-ruang digital—terutama jka keleluasaan diberikan kepada para pengguna. Dengan demikian, tidak hanya platform yang bertanggung jawab untuk menciptakan ruang aman bagi sesama penggemar VR, tetapi juga komunitas di dalamnya.


1.  Vasilisin, R., 2021. Metaverse promises a boon for the global economy. Medium. Available at: https://medium.datadriveninvestor.com/metaverse-promises-a-boon-for-the-global-economy-700f0d7074a5 [Accessed January 18, 2022].

2.  Harwell, D., 2021. A shadowy AI service has transformed thousands of women’s photos into fake nudes: ‘make fantasy a reality’. The Washington Post. Available at: https://www.washingtonpost.com/technology/2020/10/20/deep-fake-nudes/ [Accessed January 18, 2022].

3.  Tangermann, V., 2021. Sexual assault is already happening in the metaverse. Futurism. Available at: https://futurism.com/sexual-assault-metaverse [Accessed January 18, 2022].

4.  Belamire, J., 2016. My first virtual reality groping. Medium. Available at: https://medium.com/athena-talks/my-first-virtual-reality-sexual-assault-2330410b62ee [Accessed January 18, 2022].

5.   Ging, D. & Siapera, E., 2018. Special issue on online misogyny. Feminist Media Studies, 18(4), pp.515–524.

6.   Amnesty International, 2021. Amnesty reveals alarming impact of online abuse against women. Amnesty International. Available at: https://www.amnesty.org/en/latest/news/2017/11/amnesty-reveals-alarming-impact-of-online-abuse-against-women-2/ [Accessed January 18, 2022].

7.  Basu, T., 2021. The metaverse has a groping problem already. MIT Technology Review. Available at: https://www.technologyreview.com/2021/12/16/1042516/the-metaverse-has-a-groping-problem/ [Accessed January 18, 2022].

8.  Sparrow, L. et al., 2020. From ‘Silly’ to ‘Scumbag’: Reddit Discussion of a Case of Groping in a Virtual Reality Game.

9.   Lemley, M.A. & Volokh, E., 2017. Law, virtual reality, and augmented reality. SSRN Electronic Journal

10.  Basu, T.,  2021.

11.  BBC, 2020. Tinder to add panic button and anti-catfishing tech. BBC News. Available at: https://www.bbc.com/news/business-51218336 [Accessed January 19, 2022].