[SIARAN PERS] Investasi Digital ala Millennial: Cuan atau Ancaman? | Difussion #68

Februari 24, 2022 1:55 pm || By

Google Meet, 17 Februari 2022 — Investasi digital merupakan sebuah langkah penanaman modal yang dilakukan dengan suatu aplikasi tertentu menggunakan jaringan internet. Kini, investasi digital adalah hal yang lumrah diperbincangkan oleh kaum muda. Namun, akhir-akhir ini kerap muncul kasus penipuan investasi digital. Menanggapi hal tersebut, CfDS mengadakan Difussion #68 yang mengangkat tema ‘Investasi Digital ala Millenial: Cuan atau Ancaman?’ dengan mengundang Achie Mahfudloh (Founder Stockgrow Indonesia) dan Perdana Karim (Research Assistant CfDS) selaku narasumber serta Eka Nur Raharja (Community Outreach Assistant CfDS) selaku moderator

Penipuan Investasi Digital dan Langkah untuk Menghindarinya

Karim menyampaikan bahwa penipuan investasi digital mampu menarik perhatian masyarakat awam karena menawarkan laba atas investasi (return on investment) yang sangat besar. Dengan laba yang besar, investasi digital tersebut seolah-olah menjadi pilihan yang terbaik jika masyarakat menginginkan keuntungan dengan cepat. Untuk mengidentifikasi apakah suatu investasi digital adalah penipuan, setidaknya terdapat 3 (tiga) tanda yang dapat dilihat. Pertama, investasi digital mengaku dapat memberikan laba semaksimal mungkin dengan modal seminimal mungkin. Tidak jarang pihak investasi digital juga menggunakan kata-kata manis dalam mempromosikan produknya. Kedua, investasi digital melibatkan pesohor (influencer) untuk melakukan promosi. Ketiga, jika aplikasi investasi digital tidak terdapat di app store mana pun, artinya investasi digital tersebut patut dicurigai. Ketiga tanda tersebut bukan merupakan aspek definitif. Tetapi, apabila ditemukan ketiganya, maka masyarakat seharusnya bersikap lebih waspada.

Karim kemudian melanjutkan presentasinya dengan memaparkan beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari penipuan investasi digital. Pertama, sebelum terjun ke dunia investasi, ada baiknya untuk melakukan riset terlebih dahulu baik mengenai instrumen investasi hingga kelebihan dan kekurangan dari masing-masing instrumen tersebut. Kedua, tanyakan hal-hal terkait investasi kepada orang lain yang sudah berpengalaman dalam dunia tersebut. Karim juga mengingatkan, “Mindset untuk investasi, khususnya untuk anak-anak milenial, adalah jangan fear of missing out (FOMO) dan sebisa mungkin start small.” Hal tersebut tidak lain bertujuan untuk menghindari kerugian yang mungkin terjadi.

Tips Berinvestasi Digital bagi Milenial

Achie mengawali presentasinya dengan menyajikan perbedaan mendasar antara investasi konvensional dengan investasi digital. Investasi digital dinilai memiliki keunggulan daripada investasi konvensional karena sifatnya yang praktis, terkini, mudah, dan dapat dikelola secara mandiri. Serupa dengan yang dikemukakan Karim, Achie menegaskan pentingnya riset sebelum memulai berinvestasi, mulai dari jenis investasi, pasar, risiko, hingga izin yang dimiliki. Pertama-tama, masyarakat harus mengetahui pihaknya ingin berinvestasi di pasar yang mana, pasar uang, pasar modal, foreign exchange, pasar komoditas, atau pasar kripto. Setiap jenis pasar memiliki karakteristik yang berbeda. Selain itu, terdapat 2 (dua) mekanisme transaksi yang harus diperhatikan oleh masyarakat, yaitu pasar tunai (spot) dan pasar berjangka (futures). Pasar tunai cocok untuk melakukan investasi jangka panjang sementara pasar berjangka dapat menjadi pilihan bagi yang ingin melakukan investasi jangka pendek. Setelah mengetahui mekanisme pasar harus dilakukan analisis. Setiap pasar memiliki metode analisis masing-masing. Misalnya, investasi dalam saham dapat didahului dengan menganalisis laporan keuangan perusahaan. Di sisi lain, berbeda dengan saham, investasi dalam kripto harus didahului dengan analisis klasifikasi proyek.

Selain memberi gambaran terkait investasi digital secara menyeluruh, Achie juga memberikan tips bagi investor pemula. Beberapa tips tersebut di antaranya:

  1. Gunakan uang dingin (idle cash)
  2. Sisihkan paling tidak 20% dari penghasilan per bulan untuk berinvestasi
  3. Kenali profil risiko diri
  4. Lakukan diversifikasi investasi
  5. Teruslah berinvestasi

Sebagai penutup presentasi, Achie menegaskan, “Kalau kita mau cuan, kita harus tahu instrumen investasi mana yang tepat. Take risk pasti, tetapi take risk itu dengan riset agar terminimalisir risikonya.

Penulis: Aridiva Firdharizki
Editor: Firya Qurratu’ain Abisono