Metaverse di Indonesia: Sebuah Harapan atau Hype Semata?

Maret 4, 2022 4:12 pm || By

Penulis: Zakiah Fadhila
Editor: Trevilliana Eka Putri

Atensi publik terpusat pada pidato Presiden Joko Widodo dalam Muktamar Nahdlatul Ulama yang ke-34, sebuah acara organisasi Islam terbesar di Indonesia, yang menyebutkan mengenai Metaverse. Menurut Jokowi, metaverse akan memberikan ruang virtual agar kegiatan ibadah seperti dakwah dan membaca Al-Qur’an dapat dilakukan dengan saling bertemu di dunia maya tersebut, berbeda dengan cara saat ini yang hanya menggunakan konferensi video1. Tidak hanya Jokowi, beberapa petinggi pemerintahan juga menunjukkan antusiasmenya mengenai pengembangan Metaverse di Indonesia2. Salah satu pernyataan yang memicu banyak pertanyaan dari publik datang dari Menteri Komunikasi dan Informatika RI (Kominfo), Johnny G. Plate, yang menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan Metaverse karena keunggulan nilai-nilai luhur dan kearifan lokalnya3. Menurut Suharso Monoarfa, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Hingga saat ini Indonesia sedang fokus mengembangkan ibu kota negara baru versi digital di Metaverse karena diperlukan untuk mengakomodasi kebutuhan zaman4. Tulisan ini mencoba melihat sejauh mana Indonesia siap menyambut teknologi Metaverse. Apakah Metaverse akan menjadi sensasi yang mudah dilupakan atau sebuah revolusi yang penuh harapan bagi Indonesia? Apakah upaya mereka sepadan dengan optimisme yang mereka coba tunjukkan? Dalam tulisan ini, saya berpendapat bahwa meski optimisme pemerintah saat ini tampak menyaratkan keberhasilan, Metaverse di Indonesia hanya akan menuai hype sementara dan menjadi agenda stagnan lainnya. Untuk membuktikan argumen tersebut, saya akan menilik pada salah satu agenda nasional revolusi digital sebelumnya, “Making Indonesia 4.0”, dan menguraikan keluhan dan kekhawatiran publik dengan melihat berbagai tanggapan dari mereka di internet.

“Making Indonesia 4.0”: Sebuah Refleksi

Making Indonesia 4.0 yang juga menjadi salah satu agenda revolusi digital nasional dapat dijadikan acuan analisis dalam melihat Metaverse. Meskipun secara umum tujuannya berbeda, kedua agenda tersebut sama-sama membutuhkan kemajuan teknologi sebagai jaminan keberhasilan. Dalam perencanaan Making Indonesia 4.0 yang pertama kali diperkenalkan ke publik pada 2018 lalu, pemerintah menemukan setidaknya sepuluh tantangan5. Dari 10 tantangan tersebut, dalam konteks perkembangan Metaverse di Indonesia, saya menemukan salah satu tantangan yang relevan dan hingga saat ini masih belum bisa diselesaikan oleh pemerintah, yakni masih kurangnya teknologi dan infrastruktur digital6. Untuk membangun dunia digital Metaverse yang sempurna, Indonesia akan membutuhkan teknologi yang dapat memberikan sinyal yang kuat. Dalam hal ini, transisi dari 4G ke 5G menjadi hal yang esensial. Mengingat, implementasi 5G bukan merupakan hal yang baru, karena sudah ada rencana serupa pada tahun 2018 lalu.

Hal tersebut, telah tertulis sebagai salah satu tantangan dalam laporan strategi Making Indonesia 4.0 pada tahun 2018. Selama bertahun-tahun, berbagai upaya telah dilakukan seperti membentuk satuan tugas (Satgas) khusus7, namun hingga tahun 2020 masalah teknis yang kompleks masih terus bermunculan8. Bahkan, Plate sendiri menyatakan bahwa komersialisasi 5G di Indonesia tidak boleh terburu-buru9. 2022 menandai empat tahun sejak inisiasi transformasi 4G ke 5G, tetapi tampaknya Indonesia masih belum siap untuk mengimplementasikannya karena 5G masih terbatas. Para ahli memperkirakan penggunaan 5G secara meluas di Indonesia setidaknya tiga tahun dari 202110.

Namun, perlu diingat bahwa prediksi tersebut hanya bisa menjadi kenyataan ketika harga smartphone cukup terjangkau untuk semua orang11. Dalam dunia perkembangan teknologi yang masif dan dunia digital yang serba cepat, apakah kemajuan ini akan terlalu lambat untuk mengejar dan menyamai mimpi optimis Indonesia menjadi pemimpin transformasi digital di dunia? Bagi saya, kurangnya teknologi digital dan infrastruktur digital hanyalah salah satu dari banyak tantangan. Belum lagi tantangan lain seperti masalah pendanaan yang tak kunjung usai, yang mau tidak mau harus tumpang tindih dengan yang pertama. 

Respon Publik di Internet

Data yang digunakan dalam tulisan ini utamanya diambil dari hasil pencarian Twitter berdasarkan daftar query yang dibuat. Berikut ini adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam pengumpulan data. Pertama, kueri Twitter dibangun dengan mengidentifikasi kata kunci terkait dan menetapkan kerangka waktu. Daftar hashtag terakhir yang digunakan untuk mengambil data adalah sebagai berikut:

(Jokowi OR Joko Widodo OR Kominfo OR Menkominfo OR NU OR Mengaji OR Virtual OR Pandemi) AND (Metaverse)

Untuk melihat dinamika diskusi Metaverse di Twitter selama satu bulan, kerangka waktu pendataan ditetapkan dari 15 Desember 2021, seminggu sebelum pidato Jokowi pada Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama, hingga 15 Januari 2022.

Kedua, kami mengumpulkan hasil pencarian dari kueri yang dibuat menggunakan Twint (Alat …. Twitter yang ditulis dengan Python). Jenis interaksi yang termasuk dalam hasil ini adalah penyebutan langsung dan keterlibatan (balasan, pengguna ke pengguna yang disebutkan, dan kutipan retweet, suka, dan termasuk retweet). Sebanyak 1.561 tweet diperoleh dari scraping query selama periode yang telah ditentukan.

Dilihat dari data kami, Metaverse di Indonesia sangat ramai diperbincangkan publik pada hari Presiden Jokowi menyebut Metaverse dalam pidato pembukaannya (23/12).

Beragam tanggapan muncul dari masyarakat di Twitter. Reaksi publik yang kami temukan sebagian besar menunjukkan bahwa mereka menyadari sepenuhnya tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia; minimnya infrastruktur digital yang kemudian menyebabkan banyaknya kasus kebocoran data di Indonesia. Kami meyakini bahwa kesadaran mereka disebabkan karena mereka juga menjadi korban kebocoran data. Dua kasus umum yang menjadi pengalaman bersama di masyarakat adalah bocornya Nomor ID dan nomor telepon pribadi (sering menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal). Salah satunya dari @ucuupppppppp yang tweetnya mengungkapkan betapa lelahnya menerima SMS atau Pesan Whatsapp yang menawarkan pinjaman online atau perjudian online.

Selain kebocoran data, masyarakat juga mengeluhkan mengenai bagaimana layanan pemerintah yang terdigitalisasi menyulitkan akses birokrasi oleh masyarakat dan tidak berfungsi dengan baik. Menurut mereka, dengan situasi saat ini, mengembangkan dan mengimplementasikan Metaverse di Indonesia merupakan mimpi yang sangat tidak realistis yang coba dicapai oleh pemerintah.

Tidak hanya itu, salah satu tanggapan yang menarik juga menunjukkan kekhawatiran tentang potensi tidak adanya ruang aman, terutama bagi perempuan, ketika beberapa kasus pelecehan seksual terjadi dalam percobaan Metaverse, yang dilakukan Horizon World. Meskipun tidak terjadi di Indonesia, atau mungkin belum, saya berpendapat ketakutan mereka menjadi relevan dengan melihat betapa buruknya Indonesia dalam menangani kasus pelecehan seksual[xii]12. Dengan undang-undang yang begitu longgar sampai-sampai tidak bisa memihak para korban, apakah netizen Indonesia akan semakin sibuk membela keadilan di internet setelah Metaverse sepenuhnya dikembangkan?

Kesimpulan

Kesimpulannya, dengan bercermin pada Making Indonesia 4.0 yang salah satu tantangan mendasarnya masih belum terselesaikan serta dengan melihat berbagai tanggapan di Twitter yang berisi keluhan dan kekhawatiran publik, persiapan pengembangan Metaverse di Indonesia tentu jauh dari kata siap dan berpotensi menjadi ‘kemajuan stagnan’ seperti agenda-agenda sebelumnya. Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum mengambil langkah lebih lanjut karena masalah yang tumpang tindih perlu dihindari.


Endnotes

1.  Voi.id, 2021. Metaverse di Kepala Jokowi adalah Mengaji Virtual, Bagaimana Visi Metaverse di Kepala Banyak Futuris? [online] VOI. Available at: https://voi.id/bernas/116817/metaverse-di-kepala-jokowi-adalah-mengaji-virtual-bagaimana-visi-metaverse-di-kepala-banyak-futuris [Accessed 25 Jan. 2022].

2.  Ibid

3.  Dirhanto, T, 2022. Menkominfo Sebut Indonesia Berpeluang Kembangkan Metaverse Dunia Karena Punya Kearifan Lokal. [online] KOMPAS.Tv. Available at: https://www.kompas.tv/article/251650/menkominfo-sebut-indonesia-berpeluang-kembangkan-metaverse-dunia-karena-punya-kearifan-lokal [Accessed 25 Jan. 2022].

4.  Primadhyta, S, 2022. Bappenas Siapkan Metaverse Ibu Kota Baru. [online] CNN Indonesia. Available at: <https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20220113174646-532-746304/bappenas-siapkan-metaverse-ibu-kota-baru> [Accessed 25 January 2022].

5.  Indonesia, K.P.R., 2018. Making Indonesia 4.0: Strategi RI Masuki Revolusi Industri Ke-4. Kemenperin. Go. Id. kemenperin. go. id/artikel/18967/Making-Indonesia-4.0:-Strategi-RI-Masuki-Revolusi-Industri-Ke-4.

6.  Ibid

7.  The Jakarta Post, 2020. 5G and the future of tech in Indonesia. [online] Available at: <https://www.thejakartapost.com/adv/2020/11/17/5g-and-the-future-of-tech-in-indonesia.html> [Accessed 28 January 2022].

8.  Anestia, C., 2020. Literally, Indonesia Is Yet to Welcome the 5G Era. [online] Dailysocial.id. Available at: <https://dailysocial.id/post/literally-indonesia-is-yet-to-welcome-the-5g-era> [Accessed 29 January 2022].

9.  Ibid

10.  Indonesia, C., 2022. Pakar Sebut Butuh Tiga Tahun Hingga 5G Mulai Optimal di RI. [online] CNN Indonesia. Available at: <https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20220106144850-213-743413/pakar-sebut-butuh-tiga-tahun-hingga-5g-mulai-optimal-di-ri> [Accessed 30 January 2022].

11.  Ibid

12.  Afifa, L. (2022). Indonesia’s Law Fails Victims of Sexual Harassment in Workplace. [online] Tempo. Available at: <https://en.tempo.co/read/1160639/indonesias-law-fails-victims-of-sexual-harassment-in-workplace> [Accessed 30 January 2022].