Kuasai Tulisan Sendiri: Literasi Terhadap Aplikasi Penyunting dan Digital Skill

Maret 22, 2022 12:58 am || By

“Kuasai bahasa, kuasai dunia,” begitu diktum Narabahasa, sayap pembelajaran Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia. Sementara, kementerian tetangganya, Kementerian Komunikasi dan Informatika sedang menggemborkan empat pilar literasi digital.[1] Yang mana, empat pilar tersebut terdiri dari, secara verbatim: digital skill, digital culture, digital ethics, dan digital safety. Lantas, kiprah kedua kementerian tersebut dapat disintesiskan. Karena bahasa pun berkelindan dalam kancah digital. Ambil contoh, bahasa pemrograman dan bahasa biner—tulang punggung dari apa yang kita sebut: digital. Lebih dari itu, berkorelasi dengan digital culture dan ethics, riset Microsoft yang mendapati cakap bahasa pengguna media sosial Indonesia paling tidak sopan se-Asia Tenggara.[2] Selanjutnya, berkorelasi dengan digital safety, bagaimana pengguna media sosial harus berhati-hati dalam tutur bahasa mereka—terutama ketika bersikap kritis—supaya tidak dirundung UU ITE.[3]

Syahdan, ihwal paling relevan antara bahasa dan kancah literasi digital adalah menulis. Karena, sebelum fenomena di atas, ada yang menulis. Menulis pesan, cuitan, takarir, dan kode pemrograman media sosial serta aplikasi. Menulis adalah musabab dari interaksi di dunia digital. Menulis pun dapat dibantu oleh perangkat digital, wabil khusus aplikasi penyunting. Paling familier adalah Grammarly. Bagaimana tidak, iklannya seliwer di YouTube. Bila Grammarly adalah editor pribadi untuk Bahasa Inggris, untuk Bahasa Indonesia ada Sipebi.

Sipebi adalah perangkat lunak luaran Badan Bahasa. Fungsinya, menyunting dan memberikan saran ejaan yang benar—menurut Sipebi. Tidak hanya perbaikan, sama seperti Grammarly, Sipebi juga menawarkan analisis mengapa ia menyarankan perbaikan tersebut. Namun, kedua perangkat ini—tentunya—tidak berdiri sama tinggi. Sipebi masih dalam masa pertumbuhan, ia belum dapat memberikan masukan terkait tata bahasa, sinonim kata, saran lema, gaya bahasa dan efektivitas kalimat.[4] Bentuk-bentuk perangkat Sipebi dan Grammarly juga berbeda. Bila Grammarly sudah ada pengaya untuk disambungkan ke peramban (contoh: Google Chrome) dan pengolah kata (contoh: Microsoft Word), Sipebi masih hanya menyediakan aplikasi tersendiri (standalone).

Baik Sipebi dan Grammarly adalah pengejawantahan literasi digital skill. Mungkin, dengan menggunakan aplikasi penyunting, akan menurunkan potensi salah ketik (typo) yang dapat menimbulkan kegaduhan. Bila admin Twitter Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan Cilacap menggunakan Sipebi mungkin tidak akan salah mengetik “kerja” menjadi “kera”.[5] Selain itu, meminimalkan interaksi dengan fundamentalis bahasa yang bersikeras membenarkan penggunaan di yang disambung dan dipisah dan memaksa semua orang menggunakan kata baku. 

Namun, Sipebi dan Grammarly—dan pelbagai perangkat penyunting lain—tidaklah sempurna. Pertama, dalam kebahasaan, tidak ada yang benar-benar benar. Memang kesalahan ejaan atau tanda baca, terutama di media sosial, dapat menimbulkan kesalahpahaman. Bahkan dihardik. Namun, kesalahan tersebut bukan tanda kepandiran. Dalam kebahasaan, aspek terpenting adalah pesan tersampaikan sesuai dengan makna yang dimaksud pengirim. Terlepas dari apakah kesempurnaan ejaan, di dan ke­ yang disambung atau dipisah, penggunaan kata baku, dan penggunaan kata atau frasa bahasa asing. Karena, bisa jadi upaya mengalihkan bahasa asing menjadi bahasa Indonesia malah menjadikannya lebih asing. Contoh: Waring Wera Wanua[6] sebagai pengganti World Wide Web dan takarir[7] sebagai pengganti caption.

Kedua, ada saja kemungkinan tawaran pembenaran yang diberikan oleh aplikasi penyunting itu salah atau tidak tepat dan berpotensi merubah maksud penulis. Misal, Sipebi menawarkan perubahan Cadas ketika hendak menulis Desa Wadas, atau Grammarly yang bebal mensugesti perubahan bentuk kalimat pasif menjadi aktif, serta kata dan frasa yang Grammarly pandang kepanjang-lebaran. Padahal, kalimat pasif adalah bentuk yang absah dan bisa jadi merubah kata atau frasa yang kepanjang-lebaran itu berpotensi merubah makna dan tidak sesuai konteks.

Memang tawaran pembenaran oleh aplikasi penyunting tidak lebih dari itu. Sebuah tawaran. Walakin, risiko hadir ketika yang menggunakan aplikasi penyunting adalah yang tidak percaya diri dengan kecakapan bahasa mereka. Walhasil, menerima suntingan aplikasi tanpa berpikir jauh dan ditinjau kembali. Penulis, bahkan penyunting dan penguji-baca, baik manusia dan mesin, bisa salah. Hal tersebut penting untuk disadari. Maka, tatkala ditemukan tulisan yang dapat menimbulkan salah paham tidak perlu bergaduh. Dialog dan erata bila perlu. Untuk itu dibutuhkan ketiga literasi digital yang lain supaya tidak menimbulkan sumpah serapah, pertikaian, bahkan sampai dibawa ke meja hijau.

Aplikasi penyunting memang berguna. Bila digunakan secara bijak dan dalam saat tertentu akan memangkas waktu dan membantu penulis—dan pembaca. Namun, ketika digunakan tanpa pandang bulu, hanya akan mengingkari tujuan pengembang aplikasi itu sendiri. Yakni, tidak hanya menawarkan pembenahan tulisan, tetapi juga membantu pengguna menjadi penulis yang lebih baik.

Dalam ranah kebahasaan, literasi digital skill tidak akan menggantikan literasi dalam bentuk lain: membaca, mendengar, dan melihat budaya. Dengan mengkonsumsi budaya, calon-calon penulis—karya, pesan, cuitan, takarir, dan lain-lain—dapat merasakan anasir mutakhir kebahasaan. Tidak hanya di buku-buku, tetapi juga di Twitter, Wattpad, Blog, dan sudut-sudut terpencil Waring Wera Wanua. Kalau Pramoedya Ananta Toer pernah berkata, “Menulis adalah kerja untuk keabadian.” Maka harus mengerti pula bahwa menulis dan kecakapan bahasa tidaklah statis dan baku. Ia dinamis, kontekstual, hidup dan diberi napas oleh teks-teks baru. Termasuk teks anda.


[1] Pratiwi Agustini, “Empat Pilar Literasi Untuk Dukung Transformasi Digital,” Ditjen Aptika (blog),  17 Januari, 2021, https://aptika.kominfo.go.id/2021/01/empat-pilar-literasi-untuk-dukung-transformasi-digital/.

[2] Darmawati Majid, “Berbahasa Satu, Bahasa Beringas,” OMONG-OMONG (blog),  18 November, 2021, https://omong-omong.com/berbahasa-satu-bahasa-beringas/.

[3] Ariel Heryanto, “Gila Hormat,” Kompas.id,  26 Juni, 2021, sec. Opinion, https://www.kompas.id/baca/opini/2021/06/26/gila-hormat-2/.

[4] Kompas.com, “Mengenal Sipebi, Aplikasi Penyuntingan Ejaan Bahasa Indonesia,” KOMPAS.com,  15 November, 2021, https://www.kompas.com/tren/read/2021/11/15/074529265/mengenal-sipebi-aplikasi-penyuntingan-ejaan-bahasa-indonesia.

[5] Indah Mutiara Kami, “Akun PDIP Cilacap Minta Maaf soal Typo ‘JokowiNyataKeranya,’” detiknews, 19 Februari, 2017, https://news.detik.com/berita/d-4435106/akun-pdip-cilacap-minta-maaf-soal-typo-jokowinyatakeranya.

[6] “Waring Wera Wanua,” in Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas,  5 Februari, 2022, https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Waring_Wera_Wanua&oldid=20498775.

[7] Harrits Rizqi Budiman, “Mengganti Istilah Asing dengan Yang Lebih Asing?,” 13 Agustus, 2021, https://narabahasa.id/linguistik-umum/mengganti-istilah-asing-dengan-yang-lebih-asing.