[SIARAN PERS] Keterlibatan Anak Muda dalam Digital Marketing: Bagaimana Perannya dalam Menarik Perhatian Masyarakat? | Difussion #72 x CICIL

April 16, 2022 1:37 pm || By

Penulis: Aridiva Firdharizki
Editor: Firya Qurratu’ain Abisono

Yogyakarta, 7 April 2022 – Kini, pemasaran digital tengah banyak digaungkan oleh berbagai perusahaan. Sebagai akibat dari adanya peningkatan pengguna internet dari waktu ke waktu, pemasaran digital dinilai cukup menjanjikan dan dapat menjangkau banyak penggunanya yang didominasi oleh anak muda. Untuk mendiskusikan lebih lanjut mengenai peran dan keterlibatan anak muda dalam pemasaran digital, Center for Digital Society (CfDS) berkolaborasi bersama CICIL mengadakan Difussion #72 dengan tajuk “Keterlibatan Anak Muda dalam Digital Marketing: Bagaimana Perannya dalam Menarik Perhatian Masyarakat?”. Acara tersebut turut mengundang Kurnia Dwi Alfianto (Social Media Specialist CICIL) dan Amelinda Pandu K. (Project Officer Research CfDS) sebagai narasumber serta Firya Q. Abisono (Project Officer Partnership & External Affairs CfDS) sebagai moderator. Difussion #72 disiarkan melalui YouTube Livestream (https://www.youtube.com/watch?v=78URwyuduPw&t=3903s).

Gen Z dan Media Sosial

Melalui pemaparannya, Amelinda Pandu menjelaskan tentang korelasi antara Generasi Z (Gen Z) dengan media sosial. Seiring berjalannya waktu, penetrasi internet dan kebutuhan masyarakat terhadap internet semakin meningkat. Saat ini, mayoritas pengguna media sosial didominasi oleh individu berusia 18-35 tahun. Jika dilihat lebih spesifik, kelompok usia tersebut bahkan mendominasi hingga separuh dari total pengguna media sosial. Kelompok rentang usia 18-35 tahun terdiri dari Gen Z, generasi yang lahir dalam rentang tahun 1996 sampai dengan tahun 2012. Satu hal yang membedakan Gen Z dengan generasi lain adalah Gen Z cenderung lebih banyak terekspos dengan perkembangan dunia digital. Oleh karena itu, Amel mengatakan bahwa Gen Z sebagai populasi yang merajai penggunaan media sosial disebut-sebut sebagai ‘jantung’ permediasosialan, baik di Indonesia maupun di dunia.

Berdasarkan riset, terdapat beberapa aktivitas yang dilakukan oleh Gen Z melalui media sosial. Pertama, media sosial digunakan sebagai sarana berjejaring dan aktualisasi diri. Kedua, media sosial digunakan sebagai salah satu medium utama untuk memperoleh hiburan. Selain itu, Amel mengatakan bahwa Gen Z juga ‘berjasa’ dalam mendorong berkembangnya pasar elektronik (e-commerce). Mayoritas Gen Z disebut sebagai generasi yang konsumtif. Maka dari itu, media sosial kemudian digunakan sebagai sumber inspirasi dalam berbelanja. Amel menjelaskan, “Mayoritas pemain di media sosial adalah Gen Z. Mulai saat ini hingga 5-10 tahun ke depan, penentu tren adalah Gen Z karena mereka sangat powerful. Tidak hanya terbatas pada tren di media sosial, tetapi dapat juga merambah ke tren di dunia nyata.”

Pemasaran Digital dan Generasi Muda

Kurnia Dwi Alfianto memulai presentasinya dengan menjelaskan tentang perkembangan strategi pemasaran di era disrupsi. Berdasarkan data yang ia peroleh, pengguna aktif media sosial sekarang mencapai 170 juta orang. Hal tersebut merupakan sebuah peluang dan kondisi yang harus diperhatikan dan dapat dijadikan pertimbangan ketika melakukan strategi pemasaran. Selain itu, kebutuhan masyarakat akan media sosial menjadi semakin meningkat akibat didorong oleh adanya pandemi Covid-19. Hal tersebut kemudian mengharuskan para lini bisnis untuk melalui era transisi, yaitu era di mana lini bisnis dipaksa untuk menitikberatkan kegiatannya pada upaya digitalisasi, tidak terkecuali kegiatan pemasaran yang dilakukan.

Ada pun keunggulan dari pemasaran digital antara lain:

  • Hyper-targeted
    • Pemasaran dapat menjangkau audiens yang sesuai dengan target
  • Measurable
    • Data pemasaran dapat diamati, dianalisis, dan dievaluasi
  • Cost-effective
    • Pemasaran memakan biaya yang lebih sedikit
  • Wide potential
    • Potensi pemasaran luas dan berkembang

Seperti yang sebelumnya telah dipaparkan oleh Amel, anak muda mendominasi penggunaan media sosial. Berkaitan dengan hal tersebut, anak muda kemudian juga memiliki peran tersendiri dalam pemasaran digital. Alfi menyorot beberapa perilaku generasi muda di media sosial. Pertama, anak muda cenderung ingin mendapatkan banyak informasi secara cepat. Kedua, anak muda menggunakan sosial media sebagai sarana untuk memperoleh hiburan. Terakhir, anak muda ingin terkoneksi antara satu sama lain dengan memanfaatkan sosial media. Kini, CICIL telah membangun strategi pemasaran berdasarkan ketiga hal tersebut. Dalam membangun pemasaran digital, terdapat pula tantangan dan peluang yang dirasakan. Tantangan utama yang muncul adalah mengenai bagaimana perusahaan dapat memahami perilaku target audiens dan menyampaikan pemasarannya dengan cara yang baik. Menurut Alfi, CICIL melihat adanya peluang bahwa anak muda zaman sekarang sangatlah kreatif. Oleh karena itu, dinamika penyebaran konten yang mereka lakukan perlu untuk diapresiasi dan dibina. Hal tersebut kemudian menjadi alasan dicetuskannya program CICIL Student Ambassador yang bertujuan untuk menyediakan pelatihan keahlian yang dibutuhkan generasi muda dalam pemasaran digital. “Kalau dilihat dari segi peluang, anak muda amat sangat menjadi peluang besar dalam pemasaran digital, tapi yang perlu diperhatikan adalah anak muda itu bukan suatu produk yang ditargetkan. Justru mereka adalah pencipta tren. Instead of telling them what to do, justru kita harus tunjukkan apa yang lebih bermanfaat untuk mereka atau apa yang dapat mereka lakukan karena mereka se-powerful itu.