Tentang Gelagat Manusia Terhadap Teknologi dan Ambivalensi Sebagai Intervensi

Mei 30, 2022 10:39 pm || By

Penulis: Alfredo Putrawidjoyo
Penyunting: Anisa Pratita Mantovan

            Richard Brautigan adalah pujangga asal Amerika Serikat yang pada tahun 1967 menulis All Watched Over by Machines of Loving Grace. Sebuah puisi, yang ia tulis ketika menjadi sedang resisdensi di California Institute of Technology.[i] Bunyinya seperti ini:

I like to think (and the sooner the better!)
of a cybernetic meadow
where mammals and computer
live together in mutually
programming harmony
like pure water
touching clear sky.

I like to think (right now, please!)
of a cybernetic forest
filled with pines and electronics
where deer stroll peacefully
past computers
as if they were flowers
with spinning blossoms.

I like to think (it has to be!)
of a cybernetic ecology
where we are free of our labors
and joined back to nature,
returned to our mammal
brothers and sisters,
and all watched over
by machines of loving grace.[ii]

Pembaca di seantero dunia kemudian menerjemahkan puisi Brautigan sebagai sebuah imajinasi akan sebuah masa depan di mana terjadi kerja sama yang luhur antara teknologi dan alam. Penyair India, Vijay Nambisan, menulis tentang betapa menggugahnya puisi tersebut, “sungguh kekanak-kanakan, sungguh polos,” dan memiliki “visi harmonis yang mengikutsertakan kasih sayang.”[iii] Puisi menawan ini secara spekulatif menawarkan visi solarpunk. Berbeda dengan dystopia cyberpunk, di mana dunia berada di bawah tirani teknologi dan korporasi, utopia solarpunk merujuk ke visi struktur dan budaya egaliter baik dalam taraf ekonomi, sosial, serta politik kehidupan antara manusia dan non-manusia.[iv]

            Namun, selaras dengan visi masa depan solarpink, terdapat banyak dunia dalam satu dunia. Bagi Nuno Marques, dunia Brautigan adalah dystopia ekologis. Marques memerhatikan kecenderungan ironis di masing-masing pembukaan tiga bait, yang ditekankan oleh tanda bacanya—tanda seru.[v] Lantunan ketidaksabaran dan spekulasi Brautigan, bagi Marques, mengaburkan skeptisisme puisi itu terhadap dunia yang terlalu berteknologi. Oleh karena itu pembacannya menjadi dystopia, alih-alih symbiosis mutualistic teknologi dan alam, alam kemudia didominasi manusia-mesin tanpa bisa dikenali dan diperbaiki.

            Pembacaan ganda ini sering dijumpai dalam sastra (baca: puisi). Ambivalensi di mana sebuah teks dapat dibaca baik sebagai cerita preskriptif atau sebagai peringatan. Di masa kemajuan teknologi yang pesat, baik dalam retorika maupun perkembangan yang benar-benar ada, pembacaan kritis tentang bagaimana teknologi dapat diterapkan, di mana penerapannya, dan untuj tujuan apa sangat dibutuhkan.

            Di satu sisi, tekno-optimis percaya bahwa kemajuan dalam teknologi industry dan konsumen dapat membawa perubahan yang sangat dibutuhkan untuk membebaskan dunia dari kemelaratannya. Masalah seperti di bidang kesehatan, transportasi, manufaktur sedang diperkenalkan ke solusi dalam bentuk aplikasi digital, platform, dan otomatisasi untuk membuat proses mereka lebih efisien dan efektif. Bagi konsumen, janjinya adalah inovasi dan disrupsi—jika mereka dapat beradaptasi—dapat membuat hidup mereka lebih mudah.[vi]

            Di sisi lain, tekno-pesimis mencoba menegur gagasan tersebut sebagai naif. Pengawasan (surveillance) yang merajalela, pelanggaran privasi, eksploitasi pekerja digital, dan kesenjangan digital, bagi para pesimis-teknologi, menghadirkan halangan yang sukar ditembus menggunakan jalan dan kendaraan berbentuk ide yang ditawarkan oleh tekno-optimis. Alih-alih menghadirkan arena baru di mana peluang dan ketidakseimbangan dunia fisik dihilangkan, dunia digital mengekstrapolasi, atau bahkan memperparah ketidaksetaraan.[vii]

            Kedua kubu saling mengkritik tanpa henti. Perdebatan ini bisa saja menjadi produktif, tetapi tidak ketika debat tersebut bersifat dogmatis dan berbicara melewati satu sama lain—debat kusir. Kedua kubu memang memiliki ide yang absah. Contohnya dalam perburuhan, mesin dapat mengambil alih pekerjaan yang merendahkan dan berbahaya, misalnya kerja yang berhubungan dengan isotop nuklir. Menyadari potensi ini, kita masih dapat mengakui konsekuensi dari aplikasi digital yang mempermainkan (gamifikasi/gamification) pembagian kerja atau bahkan mengganti tenaga kerja secara langsung ketika populasi belum beradaptasi dengan gangguan tersebut. Karena itu, baik pesimisme atau optimism tentang bagaimana teknologi dapat memengaruhi

            Seperti puisi Brautigan, teknologi dan pelbagai sisinya, pembingkaiannya, nuansanya dapat dan harus dihadapi dengan ambivalensi. Di mana kemampuan rasional dan kognitif gagal, mereka dapat dikompensasikan dengan kemampuan afektif yang dikembangkan dalam seni puisi. Kemudia, tanggung jawabnya adalah untuk mengejawantahkan secara riil ambivalensi tersebut dari emosi ke strategi politik.

            Sekali lagi mengambil contoh dari perburuhan. Hizkia Yosie Polimpung, peneliti ketenagakerjaan dan teknoloogi, berpendapat bahwa akademisi, pekerja, korporasi, dan pemerintah tidak boleh terlena gimik teknologi, tetapi juga tidak boleh reaksioner dengan menolak teknologi mentah-mentah.[viii] Bagi Polimpung, “pekerja (manusia) yang digantikan mesin adalah keniscayaan” dan ketakutan akan kehilangan pekerjaan adalah gejala dari “kurangnya imajinasi tentang apa yang harus dilakukan di luar pekerjaan.” Tugasnya kemudian berlipat ganda. Pertama, mempelajari ilmu pengetahuan dan teori sosial di balik teknologi agar tidak terlena oleh retorika kemasyuran. Kedua, membuat agenda politik yang konkrit tentang bagaimana teknologi dapat diterapkan sambal tetap sejalan dengan kepentingan pekerja.

            Terakhir, tentang kurangnya imajinasi, di situlah puisi dapat berkarya. Nukilan seperti All Watched Over by Machines of Loving Grace bisa dijadikan contoh tentang ambivalensi persepsi manusia terhadap teknologi. Tentang konsekuensi dan kemungkinan perkawinan antara teknologi, manusia, dan alam non-manusia. Kemudian, puncaknya adalah penjelmaan diktum: from each human according to their ability, to each machine according to their ability (dari masing-masing manusia menurut kemampuannya, menjadi masing-masing mesin sesuai kemampuannya).


[i] Watson, I. (2012) ‘Machines of Loving Grace’, in Watson, I., The Universal Machine. Berlin, Heidelberg: Springer Berlin Heidelberg, pp. 285–306. doi:10.1007/978-3-642-28102-0_13.

[ii] Brautigan, R. (1989) Richard Brautigan’s Trout fishing in America ; The pill versus the Springhill mine disaster ; and, In watermelon sugar. Boston: Houghton Mifflin/Seymour Lawrence.

[iii] Nambisan, V. (2018) Pines and cybernetics, The Hindu. Available at: https://web.archive.org/web/20180404202754/http://www.thehindu.com/2000/06/03/stories/1303110d.htm (Accessed: 8 March 2022).

[iv] Solarpunk Anarchist (2016) ‘What is Solarpunk?’, Solarpunk Anarchist, 27 May. Available at: https://solarpunkanarchists.com/2016/05/27/what-is-solarpunk/ (Accessed: 21 March 2022).

[v] Marques, N. (2016) ‘Poetry and Science Fiction : – Richard Brautigan’s poem “All Watched Over By Machines of Loving Grace” as an ecological dystopia’, Messengers From The Stars [Preprint], (1). Available at: http://urn.kb.se/resolve?urn=urn:nbn:se:kth:diva-298474 (Accessed: 8 March 2022).

[vi] Polimpung, H. (2018) Teknopolitika Kemudahan Hidup, IndoPROGRESS. Available at: https://indoprogress.com/2018/06/teknopolitika-kemudahan-hidup/ (Accessed: 3 July 2021).

[vii] Madrigal, A.C. (2013) Toward a Complex, Realistic, and Moral Tech Criticism, The Atlantic. Available at: https://www.theatlantic.com/technology/archive/2013/03/toward-a-complex-realistic-and-moral-tech-criticism/273996/ (Accessed: 23 March 2022); Lehmann, C. (2016) Forget Techno-Optimism: We Can’t Innovate Our Way Out of Inequality, In These Times. Available at: https://inthesetimes.com/article/alec-ross-techno-optimism (Accessed: 23 March 2022).

[viii] Intan, N., Fadhilah, M., and Deatry (2018) ‘Hizkia Yosie: Indonesia Miskin Imajinasi Mengenai Dunia tanpa Kerja’, Balairungpress, 17 November. Available at: https://www.balairungpress.com/2018/11/hizkia-yosie-indonesia-miskin-imajinasi-mengenai-dunia-tanpa-kerja/ (Accessed: 7 March 2022).