[PRESS RELEASE] Difussion #74 Idolaku Selalu Benar: Bebas Beropini dalam Kultur Fandom Online

Juni 13, 2022 2:24 pm || By

Youtube, 2 Juni 2022–Pada era yang serba digital hampir semua orang aktif menggunakan platform media sosial. Salah satunya pada platform Twitter, layanan yang dapat memudahkan komunikasi secara cepat dan sering. Kemudahannya sebagai platform untuk menyampaikan informasi membuat Twitter aktif digunakan sebagai tempat berkumpul daring. Pengguna dapat membagikan aspirasi dan opini mereka, hingga membentuk komunitas online. Salah satu bentuk komunitas online Twitter yang saat ini sering dibicarakan ialah fandom yakni fans yang berkumpul, menyampaikan opini, dan saling berbagi kesenangan saat mendiskusikan kegemaran mereka. Demi merespon fenomena tersebut, CfDS mengadakan Difussion #74 dengan tema Idolaku Selalu Benar: Bebas Beropini dalam Kultur Fandom Online dengan pembicara Jasmine Putri dan Irnasya Shafira selaku Peneliti CfDS UGM. Keseruan diskusi acara dapat diakses melalui channel Youtube CfDS.

Kebebasan Berekspresi Online dalam Perspektif Fandom

Jasmine Putri mengawali diskusi dengan menjelaskan dilema dalam menyampaikan kebebasan berbicara online di platform media sosial. Di Twitter, ia melihat bahwa platform telah mengatur terkait penyampaian pendapat bagi para pengguna platform mereka, seperti (1) kebijakan perilaku yang bersifat menghina, yang artinya dianggap membungkam pendapat pengguna lain; (2) kebijakan perilaku kebencian, yakni larangan menyerang ataupun mengancam pengguna lain; dan (3) kebijakan ancaman kekerasan, sebagai larangan untuk mengancam dengan kekerasan atau mengagungkan penggunaannya. Namun nyatanya, kebijakan Twitter sering kali diabaikan atau malah disalah gunakan.

Fenomena stan Twitter, menurut Jasmine, seringkali menyebabkan retalisasi opini seperti terjadinya doxxing (penyebaran informasi pribadi tanpa izin), cyberbullying (perilaku agresif suatu kelompok/individu berulang kali pada kelompok/individu yang dianggap tidak dapat melawan) hingga penyalahgunaan fitur Twitter dengan mass report & block (secara bersamaan melaporkan dan memblokir pengguna untuk merugikan pengguna tersebut). Hal ini tentu membuat perilaku berekspresi di media sosial menjadi terbatas dan tidak aman bagi para pengguna. Jasmine menyebutkan bahwa dilihat dari survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan bahwa 62,9% rakyat Indonesia semakin takut berpendapat dengan retalisasi opini sebagai salah satu penyebabnya.

Jasmine pun menyampaikan “Fenomena stan di Twitter dan retalisasi opini membuat adanya penyalahgunaan peraturan platform untuk membungkam opini masyarakat. Melihat fenomena yang sering terjadi dalam sosial media akhir-akhir ini, menunjukan perlunya transformasi dalam bagaimana pengguna media sosial dapat menyikapi opini orang lain dalam cyberspace. Dibutuhkan usaha bersama untuk menciptakan ruang online yang demokratis dan menjunjung tinggi kebebasan berpendapat seluruh rakyat.”

Memahami Sentimen Fandom War

Diskusi dilanjutkan oleh Irnasya Shafira dengan meninjau pada kasus Safa Space. Safa Space merupakan perseteruan (18/05/22) yang melibatkan sesama fans kpop NCT sehingga menjadi trending topic di Twitter. Irnasya pun menelaah kasus tersebut dengan menekankan pada tiga poin utama yaitu fandom, budaya stan, dan hubungan parasosial. Irnasya menjelaskan bahwa kejadian tersebut dilakukan oleh fandom, komunitas yang menggemari publik figur, yang melakukan budaya stan. Budaya stan ialah fenomena online dimana komunitas stalker fans (stan) terlalu antusias mendukung idola hingga melakukan perlawanan terkoordinasi pada individu yang mengkritik idolanya. Irnasya menilai pemicu penting terjadinya budaya stan adalah perilaku parasosial, sebuah interaksi dengan idola lewat media online yang secara psikologis seperti merasakan kedekatan dengan publik figur tersebut bahkan hingga memiliki ‘hubungan’ meski sebelah tangan.

Irnasya menyampaikan bahwa perilaku Safa dan Berflower menunjukan perilaku parasosial yang berlebihan. Hal ini diikuti oleh perilaku yang tidak masuk akal, seperti akan melaporkan polisi karena telah menghina idolanya. Kasus ini pun mencontohkan bagaimana batasan antara opini kuat dan ujaran kebencian menjadi abu-abu.  Melalui kasus ini Irnasya menyampaikan upaya menghindari kejadian tersebut ialah dengan senantiasa memahami dan menerapkan etika dalam bermedia sosial. Selanjutnya yakni dengan berpikir kritis dalam mengkonsumsi media apapun. Terakhir, ia pun menekankan pengguna untuk menghindari perilaku parasosial yang berlebihan, “Sebagai seorang penggemar, kita patut membuat batasan terhadap publik figur yang kita gemari. Dengan mengkonsumsi lebih sedikit konten kehidupan pribadi idola, kita akan melihat prestasinya dan terhindar dari perilaku parasosial. Tips dalam berfandom pun kita perlu untuk tidak mudah tersinggung dan menciptakan lingkungan sesama penggemar yang sehat & menyenangkan.” 

Penulis: Dea Arum Komala
Penyunting: Firya Qurratu’ain Abisono