Mengamankan Ruang Kripto: Urgensi Kebutuhan Meregulasi Mata Uang Kripto

Juni 21, 2022 1:11 pm || By

Penulis: Irnasya Shafira
Editor: Anisa Pratita Mantovani

Keberadaan Bitcoin sebagai sistem pembayaran bersifat peer-to-peer terdesentralisasi telah meradikalisasi cara kerja sistem pembayaran kita. Radikalisasi sistem ini kemudian menciptakan suatu layanan pembayaran yang baru dan populer yang dikenal sebagai mata uang kripto atau cryptocurrencies. Mata uang digital ini tidaklah diciptakan atau didukung oleh pemerintah manapun dan hanya bergantung kepada permintaan pasar untuk menjaga valuasi mereka. Mata uang digital juga telah dicanangkan sebagai ‘uang baru di masa depan’ oleh berbagai masyarakat.[i] Semenjak pertama kali Bitcoin dicanangkan oleh kelompok anonim yang dikenal dengan nama Satoshi Nakamoto pada tahun 2009, masyarakat mengira bahwa Bitcoin hanya akan menjadi sensasi internet belaka, namun Bitcoin telah bertahan melewati naik-turunnya pasar selama beberapa tahun terakhir. Bitcoin yang berharga 0 USD di tahun 2009 silam saat ini berharga 30,693 USD pada saat penulisan di tahun 2022. Hanya dalam dua dekade, ‘sensasi internet belaka’ ini telah menjadi salah satu investasi terpopuler di jaman sekarang.[ii]

Salah satu alasan dari meningkat pesatnya valuasi cryptocurrency adalah akibat masifnya kerusakan ekonomi yang dibawa oleh pandemi COVID-19 di seluruh dunia. Berbagai paket stimulus dari seluruh pemerintah di dunia dan juga berbagai bank pusat mencetak lebih banyak uang mengakibatkan inflasi yang tinggi dan mengurangi daya beli masyarakat, sehingga investasi seperti halnya Bitcoin yang tidak didukung oleh pemerintah, kemudian dianggap bernilai tinggi. Angka maksimal dari Bitcoin yang beredar adalah 21 juta BTC, kecuali jika ada perubahan pada protokol, dan saat ini telah terdapat 18,5 juta BTC yang beredar.[iii]

Walaupun cryptocurrency sedang melejit dan naik daun, tidak dapat dipungkiri bahwa mata uang kripto ini masih merupakan misteri bagi siapapun yang terlibat di dalamnya. Walaupun penasihat keuangan telah mengikutkan investasi kripto dalam portofolio investasi klien-klien mereka, mereka juga telah mencatut betapa tidak stabilnya pasar kripto yang dapat mengalami penurunan dan kenaikan drastis dalam semalam.[iv] Selain dari ketidakstabilan dari mata uang tersebut, berbagai pihak juga masih ragu mengenai sifat dari mata uang digital ini. Salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan mengenai cryptocurrency adalah apakah mereka adalah suatu skema Ponzi. Dalam perdebatan ini, mereka yang percaya dengan kripto menolak pemikiran tersebut dengan menyebutkan transparansi dari metode pertukaran dari mata uang tersebut[v] dan tidak adanya ‘penipuan’ sementara mereka yang tidak percaya mengatakan bahwa ketidakadaan aset penjamin ataupun dukungan pemerintah membuat kripto sebagai suatu skema Ponzi.[vi]

Walaupun perdebatan mengenai ruang kripto masih sangat panas, hal ini tidak menghentikan fakta bahwa masyarakat telah terlibat dalam ruang kripto tersebut, dan keberadaan manusia dalam suatu ruang akan selalu membawa berbagai risiko dan kejahatan bersama dengan mereka. Dalam kesempatan ini, saya akan mendiskusikan salah satu insiden anjloknya kripto yang telah merengut nyawa beberapa orang untuk menggarisbawahi tingginya urgensi untuk meregulasikan ruang baru ini; yaitu insiden Terra LUNA.

Jejaring Terra dan pemimpinnya telah mencapai puncak tertinggi dunia kripto karena banyaknya investor, baik investor besar maupun individu, yang menaruh uang di token mereka. Pada puncaknya, Ekosistem Terra dihargai sebesar 60 miliar USD. Namun pada tanggal 7 Mei, terraUSD (UST) yang merupakan stablecoin[vii] algoritmik yang saat itu bernilai 18 miliar USD yang seharusnya stabil dan bertahan pada harga terendah 1 USD, kemudian goyah dan jatuh ke 35 sen pada tanggal 9 Mei. Harga token pendampingnya, LUNA, yang merupakan stabilitator utama dari harga UST, jatuh dari 80 USD ke beberapa sen pada tanggal 12 Mei.[viii] Anjloknya Terra LUNA sangatlah berdampak kepada investor individu yang telah menginvestasikan tabungan mereka ke koin tersebut. Dampak ini begitu besar hingga telah dikonfirmasi bahwa delapan orang telah bunuh diri akibat insiden ini dan subforum mengenai Terra LUNA di Reddit menyematkan hotline pencegahan bunuh diri di laman situs mereka.[ix] Berbagai analis telah mencoba untuk menjelaskan penyebab anjloknya Terra LUNA. Sugiono menjelaskan bahwa jatuhnya LUNA adalah akibat jatuhnya harga UST. Kelemahan dari mekanisme stablecoin algoritmik (dalam kasus ini, Ekosistem Terra) adalah ketika terlalu banyak investor mencoba untuk menebus UST secara bersamaan, suatu Spirak Kematian[x] dapat terjadi ke LUNA yang berfungsi sebagai pasangan dari UST.[xi] Sementara Assuaibi menjelaskan bahwa alasan insiden ini terjadi adalah akibat ketidakpastian global yang merupakan buntut dari invasi Rusia ke Ukraina yang menyebabkan inflasi di beberapa bagian di dunia.[xii]

Insiden kripto yang telah merenggut nyawa ini mengantarkan saya pada argumen bahwa harus ada suatu regulasi yang membantu untuk mengamankan hidup masyarakat di ruang kripto. Namun hal ini juga mencetuskan suatu pertanyaan besar megenai bagaimana pemerintah, lembaga yang begitu sentral, meregulasikan ruang yang diciptakan atas ketidakpercayaan penciptanya terhadap lembaga sentral tersebut?

Regulasi dari ruang kripto saat ini masih menjadi perdebatan dalam berbagai pemerintahan, sehingga aturan-aturan yang jelas masih dalam pengembangan. Comply Advantage, sebuah perusahaan yang berbasis di Amerika Utara telah mengompilasikan regulasi-regulasi cryptocurrency di berbagai negara saat ini yang dapat dilihat dalam gambar berikut:[xiii]

Dari artikel tersebut, dapat dilihat bahwa walaupun sebagian besar negara masih belum menganggap cryptocurrencies sebagai tender legal, mereka tetapi menganggap perdangangan kripto legal dengan catatan bahwa regulasinya berbeda dari satu negara ke negara lainnya. Sebagian besar negara mengharuskan cryptocurrency untuk mendapatkan lisensi dari lembada negara untuk menjadi aset legal penduduknya. Sebagian besar negara juga memasukkan cryptocurrency sebagai bagian dari program kerja bank pusat mereka.

Indonesia tidak menganggap cryptocurrency sebagai produk layanan finansial, tetapi sebagai komoditas dibawah yurisdiksi dari Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi atau Bappebti, sehingga Otoritas Jasa Keuangan atau OJK tengah melarang layanan finansial apapun seperti halnya bank, asuransi, dan multifinance untuk menggunakan atau memfasilitasi aset kripto. Hal ini berarti aset kripto (termasuk cryptocurrency) boleh diperjualbelikan sebagai komoditas, tetapi tidak dapat digunakan sebagai alat pembayaran.[xiv] Namun hal ini tidak berarti masyarakat Indonesia tidak turut serta dalam transaksi kripto, hanya masyarakat Indonesia harus mengkonversikan mata uang Rupiah (IDR) ke cryptocurrency yang diinginkan untuk berinvestasi serta menukarkan cryptocurrency mereka ke IDR lewat aplikasi penukaran seperti halnya Indodax atau Zipmex untuk menggunakan mata uang digital tersebut.

Hingga Januari 2022, terdapat 11,2 juta pengguna yang ikut serta dalam perdagangan aset kripto dan 90% diantaranya adalah generasi milenial yang berusia 20-30. Jerry Sambuaga, Wakil Menteri Perdagangan, menjelaskan bahwa alasan mengapa generasi milenial sangat antusias akan perdagangan kripto adalah aspek tak terbatas dari transaksinya serta masifnya pemasaran yang dilakukan oleh berbagai pendengung dan pemengaruh (influencer).[xv] Antusiasme ini kemudian membawa berbagai proyek kripto yang memiliki tingkat kesuksesan yang beragam. Diantaranya terdapat token ASIX yang diluncurkan oleh figur publik Indonesia, token LDX, Toko Token, Token IDM, dan token Zipmex.[xvi] Namun proyek-proyek ini belum merasakan sukses global yang masid seperti halnya Terra LUNA, Etherium, atau Bitcoin. Saya percaya bahwa proyek-proyek asal Indonesia ini tidak dapat mencapai kesuksesan berbagai proyek lain di ruang kripto akibat canggungnya posisi dari proyek ini di Indonesia itu sendiri. Karena bagaimana investor dapat percaya bahwa token-token tersebut dapat meningkatkan valuasi mereka ketika mereka hanya diperlakukan sebagai komoditas dan bukan mata uang yang legal?

Namun demikian, saya juga percaya bahwa tingginya animo Indonesia terhadap Metaverse (yang digarisbawahi dengan ambisi luar biasa pemerintah untuk menciptakan ‘Metaverse versi Indonesia’ pada Presidensi G20[xvii]) juga berarti cryptocurrency, sebagai mata uang terdesentralisasi yang tidak dikuasai pemerintah manapun, memiliki potensi untuk menjadi alat pembayaran yang sangat populer di Metaverse di masa depan. Saya dapat mengatakan bahwa dengan arah Indonesia yang saat ini berambisi untuk menjadi negara yang lebih digital, maka mata uang kripto tidak dapat hanya bertahan sebagai komoditas dan akan bertransformasi menjadi alat pembayaran yang sangat dibutuhkan dalam Metaverse. Dan seperti halnya negara lainnya, Indonesia akan menghadapi dilema untuk menciptakan suatu kumpulan regulasi untuk menangani perdagangan kripto—atau bahkan tata kelola kripto itu sendiri.

Saya berargumen bahwa dengan tingginya animo terhadap mata uang kripto sebagai investasi, dibarengi dengan insiden-insiden yang berdampak fatal ke kehidupan masyarakat seperti halnya anjloknya harga Terra LUNA, dan potensi dari cryptocurrency sebagai alat pembayaran populer di Metaverse menggarisbawahi pentingnya kebutuhan untuk meregulasi mata uang kripto sebagai properti investasi yang legal seperti halnya properti rumah dan investasi kuangan lainnya. Indonesia telah melihat dan mengawal tingginya antusiasme masyarakat terhadap investasi lainnya seperti halnya saham dan reksadana, yang secara relatif aman dengan berbagai regulasi yang ada. Walaupun saya mengerti pemikiran utama dari inovasi tanpa batas lembaga tersentralisasi yang berada di ruang kripto, saya berpendapat bahwa pemerintah Indonesia tidak dapat hanya berhenti di mendaftarkan aset kripto sebagai komoditas yang boleh diperjualbelikan di Indonesia, tetapi juga secara aktif meregulasikan ruang untuk melindungi masyarakat dari melakukan investasi yang saking tidak stabilnya dapat menyerupai judi, terutama saat Indonesia sebagai negara telah mengkriminalisasi tindakan berjudi itu sendiri.


[i]               Oak, N. (2014). The rise of cryptocurrency [online] https://inform.tmforum.org/archive/2014/06/rise-cryptocurrency/

[ii]              DeMatteo, M. (2022). Bitcoin Price History: 2009 to 2022 [online] https://time.com/nextadvisor/investing/cryptocurrency/bitcoin-price-history/

[iii]             Urquhart, A. (2021). Bitcoin: why the price has exploded – and where it goes from here [online] https://theconversation.com/bitcoin-why-the-price-has-exploded-and-where-it-goes-from-here-152765

[iv]             Ibid DeMatteo

[v]              Teknologi Blockchain yang merupakan bagian integral dari perdagangan kripto didesain untuk menjadi sangat terbuka untuk publik dengan rekam jejak seluruh transaksinya yang merupakan informasi umum. Teknologi ini merupakan dasar utama dari sistem peer-to-peer terdesentralisasi transaksi kripto. Lebih jauh mengenai teknologi blockchain dapat dibaca di tulisan yang dirilis Satoshi Nakamoto: https://bitcoin.org/bitcoin.pdf dan https://scet.berkeley.edu/wp-content/uploads/BlockchainPaper.pdf

[vi]             Zuckoff, M. (2022). Is cryptocurrency a Ponzi scheme? [online] https://www.bostonglobe.com/2022/05/24/opinion/is-cryptocurrency-ponzi-scheme/

[vii]            Stablecoin adalah jenis mata uang kripto yang valuasinya terikat dengan aset luar kripto, seperti halnya Dolar AS atau emas, untuk menstabilisasi harga. Ia dianggap sebagai salah satu investasi yang lebih ‘aman’ di ruang kripto dan merupakan pilihan populer bagi masyarakat yang ingin berinvestasi di cryptocurrency namun takut terhadap ketidakstabilan ekstrim dari koin umumnya. Lebih jauh mengenai stablecoins dapat dibaca disini: https://www.coindesk.com/learn/what-is-a-stablecoin/

[viii]           Sandor, K., Genç, E. (2022). The Fall of Terra: A Timeline of the Meteoric Rise and Crash of UST and LUNA [online] https://www.coindesk.com/learn/the-fall-of-terra-a-timeline-of-the-meteoric-rise-and-crash-of-ust-and-luna/

[ix]             Olavia, L. (2022). 8 Orang Bunuh Diri Akibat Kripto Luna Anjlok ke Rp 1000 [online] https://www.beritasatu.com/ekonomi/926453/8-orang-bunuh-diri-akibat-kripto-luna-anjlok-ke-rp-1000

[x]              Hutang Spiral Kematian menjelaskan suatu convertible bond yang memaksa pengadaan angka saham yang terus meningkat, sehingga menciptakan penurunan harga yang begitu terjal dari harga saham tersebut. Secara umum, convertible debt adalah suatu obligasi yang memberikan bunga, tetapi juga dapat dikonversi menjadi angka saham. Ia adalah sekuritas hibrid yang memiliki atribut dari obligasi dan saham. Dalam kasus UST dan LUNA, algoritma dari kedua koin ini dapat dilihat sebagai saham, sehingga penebusan tiba-tiba dari banyak saham UST sekaligus langsung mengakibatkan anjloknya harga saham LUNA. Lebih jauh mengenai Spiral Kematian dibaca disini: https://www.investopedia.com/terms/d/deathspiral.asp

[xi]             Nabila, M. (2022). Ini Penyebab Crypto Terra Luna Anjlok, Death Spiral Hipotesis [online] https://market.bisnis.com/read/20220513/94/1533023/ini-penyebab-crypto-terra-luna-anjlok-death-spiral-hipotesis

[xii]            CNN Indonesia. (2022). Analis Ungkap Penyebab Kripto Terra Luna Anjlok Parah [online] https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20220513181247-92-796547/analis-ungkap-penyebab-kripto-terra-luna-anjlok-parah

[xiii]           https://complyadvantage.com/insights/cryptocurrency-regulations-around-world/#

[xiv]          Dewi, I. R. (2022). Biar Paham! Ini Aturan Uang Kripto di Indonesia [online] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20220221193053-37-317132/biar-paham-ini-aturan-uang-kripto-di-indonesia

[xv]           ANTARANews. (2022). Wamendag ungkap penyebab milenial antusias terhadap aset kripto [online] https://www.antaranews.com/berita/2703421/wamendag-ungkap-penyebab-milenial-antusias-terhadap-aset-kripto

[xvi]          Pratomo, G. Y. (2022). Selain Token ASIX, Ini Deretan Kripto yang Asli Buatan Indonesia [online] https://www.liputan6.com/crypto/read/4884595/selain-token-asix-ini-deretan-kripto-yang-asli-buatan-indonesia

[xvii]         Ramalan, S. (2022). Wow! Metaverse Versi Indonesia Bakal Dipamerkan di Presidensi G20 [online] https://www.inews.id/finance/bisnis/wow-metaverse-versi-indonesia-bakal-dipamerkan-di-presidensi-g20