Two Wrongs Don’t Make a Right Bagaimana Netizen Indonesia Menggunakan Doxing Sebagai Senjata di Media Sosial

Juni 21, 2022 12:59 pm || By

Penulis: Zakiah Fadhila
Editor: Anisa Pratita Mantovani

Menemukan topik diskusi yang menarik adalah hal mudah bagi pengguna media sosial. Karena itu, orang-orang mulai secara aktif menggunakan media sosial sebagai platform untuk mengeluarkan pendapat mereka dan juga menanggapi pendapat seseorang – termasuk pendapat orang asing. Tentu saja, perbedaan pendapat akan sulit dihindari. Tetapi hal yang lebih sulit untuk dihindari adalah orang-orang yang ingin menyerang atau mengancam ketika mereka berpikir Anda – atau setidaknya, pendapat Anda – bermasalah.  Alih-alih berfokus pada substansi diskusi, beberapa orang memilih untuk mempermalukan anda melalui mengungkap dan menyebarkan informasi pribadi tanpa persetujuan Anda. Inilah yang sekarang sering disebut dengan Doxing. Pada tingkat tertentu, doxing bisa menjadi legal terutama jika dilakukan untuk membuka kedok ketidakadilan dengan menggunakan informasi yang tersedia di media sosial [1]. Namun seringkali, tindakan ini bisa membahayakan kehidupan nyata seseorang. Contohnya seperti mengirim ancaman ke alamat tinggal seseorang atau bahkan dapat dalam sekejap menghancurkan karir seseorang. Hal yang membuat doxing lebih berbahaya adalah tidak adanya penegakan hukum yang kuat untuk melindungi korban. Penelitian yang dilakukan oleh safehome.org menemukan bahwa 1/3 korban doxing di AS gagal melaporkan serangan yang mereka terima kepada pihak berwenang [2]. Sementara itu di Indonesia selama 2017 hingga 2020, alih-alih menyadari tidak adanya penegakan hukum, banyak korban bahkan tidak mengetahui kasusnya akan dihitung dan diproses sebagai doxing di pengadilan [3].

            Salah satu kasus doxing yang terkenal di Indonesia adalah kasus beberapa pekerja Eiger yang terancam privasinya. Pada tahun 2021, Eiger mengirim surat kepada Youtuber Dian Widiyanarko yang mengulas kacamata Eiger. Dalam surat tersebut, General Manager HCGA & Legal Eiger, Hendra menyatakan keberatan terkait video tersebut. Menurutnya video tersebut tidak direkam dengan baik. Meski surat itu hanya ditujukan kepada Widiyanarko dan Eiger segera mengirimkan surat permintaan maaf melalui akun Twitter resminya, Netizen Indonesia tetap menunjukkan kemarahan mereka. Masalah tersebut semakin tak terkendali ketika netizen mulai membeberkan informasi pribadi pekerja Eiger, terutama Hendra yang namanya tertulis dalam surat tersebut. Kini, nama lengkap, domisili, dan foto muka lengkap mereka bisa dilihat di internet. Menurut Direktur Eksekutif SAFEnet, Damar Juniarto, tindakan yang dilakukan oleh netizen ini dapat disebut sebagai doxing karena mereka mencoba untuk menemukan dan mengekspos informasi pribadi seseorang dengan niat jahat sedari awal [4] dan juga memudahkan orang lain untuk ikut menyebarkan data setelahnya.

            Apa yang terjadi pada pekerja Eiger kemudian menimbulkan kekhawatiran besar. Jika media sosial adalah platform di mana orang dapat berpendapat sesuka hati dengan “kartu” hak kebebasan berbicara mereka, bukankah seharusnya orang lebih segan dengan adanya doxing mengingatbisa saja doxing terjadi pada mereka di mana saja dan kapan saja? Maka dari itu, tulisan ini akan mengajukan dua pertanyaan; Pertama, Bagaimana doxing akan melukai kebebasan berbicara di platform media sosial? Kedua, Jika kebebasan berpendapat sering berujung pada kasus doxing, apakah menjadi perlu untuk membuat regulasi yang dapat membatasinya? Faktanya, kita dapat menemukan beberapa pidato yang menyinggung komunitas/orang tertentu, dan atas nama balas dendam, mereka akan menyerang balik dengan doxing. Regulasi tentang kebebasan berpendapat akan menjadi harapan untuk menghindari terjadinya doxing.

Tulisan ini berargumen bahwa seberapa seringnya netizen menggunakan doxing untuk saling menyerang, pada akhirnya dapat membuat jurnalisme dan aktivisme di media sosial rentan dengan tidak memberikan ruang yang aman untuk memaparkan dan membahas topik sensitif. Hal yang sangat disayangkan mengingat media sosial juga dikenal sebagai harapan untuk menyediakan cara efektif dalam menjangkau lebih banyak orang. Oleh karena itu, untuk melindungi setiap orang – termasuk orang-orang yang menggunakan kebebasan berpendapat untuk menyinggung komunitas/orang tertentu – dari doxxing, kebebasan berpendapat mungkin memang sangat perlu diatur.

Doxing dan potensinya dalam membawa jurnalisme dan aktivisme di Indonesia rentan.

            Doxing juga seringkali menargetkan jurnalis dan aktivis yang mencoba mengangkat topik sensitif melalui media sosial. Termasuk Indonesia. Menurut SAFEnet, maraknya doxing di Indonesia bahkan terlihat ketika banyak jurnalis dan aktivis yang diserang secara pribadi dalam beberapa tahun ini [5]. Misalnya, pada tahun 2017, seorang jurnalis TopSkor bernama Zulfikar menulis cuitan di Twitter mengenai topik sensitif: Bagaimana sebenarnya Hong Kong memiliki hak untuk menolak Abdul Somad, seorang Ulama Indonesia, yang ingin datang ke negara itu. Meski pernyataannya logis, namun mau tak mau cuitannya mengundang serangan dari para pengikut ulama. Mereka mulai menyerangnya dengan doxing dan mengirimkan upaya penganiayaan. Hashtag seperti #BoikotTopSkor menjadi trending topik dalam waktu singkat dan karena itu, TopSkor memanggil Zulfikar untuk memberhentikannya. Tak ketinggalan pula aktivis Veronica Koman yang tampaknya lebih sering mengalami doxing karena aktif menyuarakan hak-hak Papua. Pada tahun 2019, pengguna @/digeembok di Twitter menyerang Koman dengan mengekspos tempat tinggal Koman pada saat itu dan mengintimidasi Koman [6].

            Hal ini menjadi perhatian serius bagi jurnalisme dan aktivisme di Indonesia. Belum lagi kurangnya perlindungan dan penegakan hukum yang membuat mereka hanya dapat bertumpu pada diri sendiri. Contohnya kasus Zulfikar. Satu cuitan di Twitter dan panggilan pemecatan langsung ia dapatkan. Bahkan perusahaan tempat dia bekerja saja tidak dapat membantu mengklarifikasi apa yang dianggap sebagian besar orang sebagai kesalahan. Apalagi undang-undang yang tidak pernah secara khusus dibuat untuk melindungi orang dari doxing. Media sosial telah berhasil memberikan hak bagi orang-orang, yang tidak pernah tahu Anda ada 5 menit yang lalu, untuk memprotes dan menghancurkan seluruh karir hidup Anda. Terlebih lagi Koman yang tak hanya sekali dua kali mengalami doxing di media sosial. Peluang untuk dikirimi ancaman ke alamatnya yang terekspos mungkin saja kecil, tetapi tidak pernah nol.

            Meski dampak doxing jelas terlihat berbahaya, hal terbaik yang bisa dilakukan Indonesia untuk melindungi netizennya adalah dengan memberikan tips untuk menghindari doxing. Melalui website Kementerian Komunikasi dan Informatika, netizen diingatkan untuk 1) tidak terlalu banyak memberikan informasi pribadi di media sosial karena memberikan peluang kriminal bagi pelaku, 2) mengatur akun media sosial ke mode privat sehingga hanya beberapa orang yang dapat melihat aktivitas anda di media sosial, 3) menggunakan VPN sehingga pelaku tidak dapat melacak IP seseorang untuk mengetahui lokasi Anda berada, 4) waspada terhadap email phishing, dan 5) beberapa informasi tidak boleh diposting di media sosial [7]. Tetapi tentu saja lima langkah ini tidak akan cukup. Beberapa orang bahkan dengan sengaja mengatur akun mereka ke mode publik untuk menjangkau lebih banyak orang. Jadi undang-undang atau regulasi seperti apa yang sebenarnya kita butuhkan saat ini?

Ide yang tidak populer, tetapi layak untuk didiskusikan:

Di sisi lain, hingga derajat tertentu, pembahasan di atas mengasumsikan bagaimana peraturan tentang mengatur kebebasan berbicara sebenarnya akan melindungi orang dari perilaku doxing.

Beberapa penelitian seperti yang dilakukan oleh Yudiana dkk menyarankan bahwa Indonesia harus merevisi beberapa Pasal yang mengatur kejahatan dunia maya, terutama peraturan yang mendorong pengimplikasian hak untuk dilupakan yang dapat digunakan oleh korban doxing [8]. Namun, artinya cara ini pun tetap tidak bisa digunakan untuk menghindari terjadinya doxing. Oleh karena itu, tulisan ini ingin mengangkat saran yang tidak populer: Mengatur kebebasan berbicara. Benar bahwa kebebasan berbicara adalah hak yang harus dapat diakses oleh semua orang, tetapi fakta kebebasan berbicara seringkali dapat menyebabkan doxing perlu dipertimbangkan juga. Atas nama kebebasan berbicara, orang-orang di internet cenderung berpikir bahwa mereka memiliki hak untuk mengatakan apapun – termasuk komentar yang menyinggung. Ini jelas salah paham yang disebabkan oleh kurangnya kesadaran. Belakangan, bahkan komentar yang menyinggung bisa mengarah pada potensi doxing. Hal ini sering terjadi di kalangan selebriti atau influencer media sosial. Rachel Vennya, seorang seleb instagram terkenal, pernah hampir melakukan doxing kepada salah satu pengguna Instagram yang meninggalkan komentar tidak menyenangkan di akunnya. Dia mengadakan sayembara untuk siapa pun yang dapat memberikan informasi pribadi pengguna yang dia targetkan, maka akan diberikan Rp 15.000.0000. Untuk balas dendam dan agar orang juga tahu bagaimana rasanya ‘diisengin’, jelasnya [9].

Apa yang dilakukan Vennya hampir saja mengarah ke tindakan doxing jika dia serius menggunakan informasi yang diperoleh untuk menyerang targetnya. Tindakan yang salah, tetapi karena dia melakukannya pada seseorang yang menyinggung perasaannya, orang-orang jadi berpikir mungkin sayembara tersebut adalah bentuk balas dendam yang pantas diterima. Meskipun terlihat sangat mengerikan, tetap kita tidak boleh melupakan apa yang telah dilakukan oleh target Vennya, penyalahgunaan kebebasan berbicara di media sosial. Oleh karena itu, mungkin pengaturan kebebasan berpendapat memang sangat perlu diperhatikan juga untuk menghindari doxing.

Kesimpulan

Terdapat dua hal bahwa 1) kabar baiknya adalah, Anda selalu dapat menggunakan media sosial sesuka hati Anda, 2) kabar buruknya adalah, doxing eksis. Kedua berita tersebut kemudian memberikan kita banyak topik untuk dibahas. Seperti bagaimana keduanya berpotensi membawa jurnalisme dan aktivisme di Indonesia pada kerentanan dan bagaimana kebebasan berpendapat mungkin harus lebih banyak disebutkan sebagai solusi agar tidak terjadi doxing. Doxing adalah salah satu kejahatan dunia maya yang perlu ditanggapi dengan serius, terlebih karena terdapat kecenderungan dimana netizen Indonesia menggunakan doxing untuk saling menyerang. Walaupun seseorang melakukan kesalahan, seburuk apa pun, doxing tetap tidak boleh dilakukan karena sudah keluar dari ranah permasalahan. Lagi pula, dua buah kesalahan tidak akan pernah menciptakan sebuah kebenaran.


[1] Doxxing in 2022: An Unexpectedly Widespread Cybersecurity Threat – SafeHome.org. SafeHome.org. (2022). Retrieved 7 June 2022, from https://www.safehome.org/family-safety/doxxing-online-harassment-research/.

[2] Ibid

[3] Yudiana, T. C., Rosadi, S. D., & Priowirjanto, E. S. (2022). The Urgency of Doxing on Social Media Regulation and the Implementation of Right to Be Forgotten on Related Content for the Optimization of Data Privacy Protection in Indonesia. PADJADJARAN JURNAL ILMU HUKUM (JOURNAL OF LAW), 9(1), 24-45.

[4] Dewi, R. (2021). Ramai soal Kasus Eiger dan Mengenal Apa Itu Doxing… Halaman all – Kompas.com. KOMPAS.com. Retrieved 7 June 2022, from https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/30/140500565/ramai-soal-kasus-eiger-dan-mengenal-apa-itu-doxing-?page=all.

[5] Banimal, A., Juniarto, D., & Ningtyas, I. (2021). The Rise and Challenges of Doxing in Indonesia – SAFENET. Safenet.or.id. Retrieved 7 June 2022, from https://safenet.or.id/2021/06/the-rise-and-challenges-of-doxing-in-indonesia/.

[6] Ibid

[7] Septiani, D. (2021). Apa itu Doxxing dan Dampaknya pada Privasi Online – BPPTIK. BPPTIK. Retrieved 7 June 2022, from https://bpptik.kominfo.go.id/2021/06/21/8958/apa-itu-doxxing-dan-dampaknya-pada-privasi-online/.

[8] Banimal, A., Juniarto, D., & Ningtyas, I. (2021). The Rise and Challenges of Doxing in Indonesia – SAFENET. Safenet.or.id. Retrieved 7 June 2022, from https://safenet.or.id/2021/06/the-rise-and-challenges-of-doxing-in-indonesia/.

[9]Indonesia, C. (2021). Rachel Vennya Akui Tak Bijak Buka Sayembara Buru Netizen Usil. hiburan. Retrieved 8 June 2022, from https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20210531160010-234-648822/rachel-vennya-akui-tak-bijak-buka-sayembara-buru-netizen-usil.

Tags: ,