[SIARAN PERS] Difussion 76 – Menjawab Tantangan Infrastruktur dan Literasi Digital di Indonesia

Juli 28, 2022 11:31 am || By

Youtube, 11 Juli 2022– Indonesia memiliki potensi ekonomi digital yang sangat besar dengan adopsi teknologi masyarakatnya yang cenderung cepat. Namun demikian, permasalahan pemerataan infrastruktur digital harus sejalan untuk mendukung tujuan peningkatan ekonomi digital. Demi merespon hal tersebut, CfDS menyelenggarakan Difussion #76 dengan bahasan diskusi “Menjawab Tantangan Infrastruktur dan Literasi Digital di Indonesia”, yang menghadirkan Syarif Lumintarjo selaku Kabid Koordinator IIX & Data Center APJII dan Vivi Zabkie, Manajer Riset Katadata Insight Center, sebagai pembicaranya. Keseruan diskusi acara dapat diakses melalui channel Youtube CfDS melalui link berikut https://www.youtube.com/watch?v=-baNsFZ2HSg

Syarif Lumintarjo memberikan tanggapannya terkait bagaimana dampak pandemi terhadap perkembangan pembangunan infrastruktur digital di Indonesia. Menurutnya adanya Covid-19 membantu akselerasi penggunaan teknologi digital, yang secara tidak langsung memaksa sebagian besar masyarakat menggunakan teknologi digital. Sehingga peningkatan penggunaan internet terjadi, yaitu hingga lebih dari 25 milyar pengguna saat ini. 

Berbagai peluang terjadi dirasakan dalam pemerataan pembangunan infrastruktur digital Indonesia. Seperti peningkatan penggunaan produk teknologi dalam negeri terjadi di tengah pandemi karena keterhambatan pemasokan produk baru dari luar negeri masuk ke Indonesia. Terjadinya peningkatan traffic internet karena pengalihan kebutuhan terjadi, seperti kenaikan e-retailing atau e-grocery dan digital payment, kemudian termasuk pada bidang kesehatan dan pendidikan. Banyak kegiatan sehari-hari yang sudah beralih menjadi digital. 

“Di samping peluang, hambatan pasti juga ada, bagaimana akses di daerah-daerah masih susah, karena belum meratanya infrastruktur di Indonesia. Pembiayaan dan proses pengadaan di daerah yang tinggi menjadi hambatan tersendiri” ujar Syarif. 

Menurut Syarif upaya yang bisa dilakukan pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di daerah 3T adalah dengan penyelenggaraan KPU/USO yang perlu diperbaiki. Dikarenakan akses internet menjadi prasyarat pendukung transformasi digital masyarakat, peluang sektor teknologi dan komunikasi harus terus tumbuh. Model bisnis industri digital memerlukan pembaharuan untuk tingkatkan efisiensi. 

Selain dari sisi peningkatan infrastruktur, menurut Vivi Zabkie, literasi digital masyarakat juga mendukung pembangunan digitalisasi masyarakat. Indeks literasi Indonesia di tahun 2021 mencapai 3,49/5,00 atau sama dengan baru sebatas level sedang. Indeks literasi digital di wilayah timur masih tertinggal dari wilayah tengah dan barat Indonesia, sehingga perlunya pemerataan dilakukan secepatnya. Hal ini sejalan dengan bagaimana literasi digital yang tinggi akan berbanding lurus dengan dukungan untuk pendidikan dan status ekonomi lebih tinggi.

Menurutnya, saat ini masih ada kesenjangan literasi digital antara daerah perkotaan, pedesaan, dan wilayah 3T di Indonesia. Adanya kesulitan akses koneksi di daerah 3T, seperti cakupan internet tidak merata, biaya internet yang lebih mahal sehingga akses ke media sosial menjadi lebih rendah. Indeks literasi digital di daerah 3T sedikit lebih rendah daripada daerah lainnya, namun dapat unggul di digital skill dan safety. 

Temuan di lapangan yang dilakukan Vivi bersama Katadata adalah bagaimana praktik berbagi informasi di media sosial yang banyak dilakukan oleh masyarakat, belum menjadi rujukan informasi utama yang dipercaya. Informasi melalui media konvensional seperti televisi masih menjadi media yang paling dipercaya masyarakat. Hal tersebut berkaitan dengan bagaimana hoax sering kali tersebar di internet, dan bahkan menjadi masalah serius di tengah arus informasi yang cepat. 

“Literasi digital masyarakat akan terangkat dengan adanya infrastruktur yang memadai untuk digital skill, misalnya saja bagaimana kita bisa belajar tanpa ada koneksi, iya kan? Tapi terkait digital culture, ethics, safety, masih perlu bantuan banyak pihak untuk membantu memetik manfaat teknologi lebih baik” ujar Vivi. 

Anisa Pratita selaku moderator menutup diskusi dengan menyimpulkan bagaimana pandemi mengakselerasi transformasi digital di Indonesia saat ini. Masa pandemi ini bisa dimanfaatkan untuk memacu perluasan digitalisasi di berbagai sektor di Indonesia dengan kerja sama berbagai pihak tentunya. 

“Mau tidak mau ketika pandemi kita harus menerima serangkaian perubahan itu dan memanfaatkan itu. Semakin ke sini pandemi sudah semakin melandai dan diterima masyarakat, jadi kalau bisa, kita ikutan mengejar momentum ini untuk dimanfaatkan semaksimal mungkin perluasan literasi digital masyarakat” tutup Anisa.