[PRESS RELEASE] The Platform Economy: The Future of Work? | Panel Discussion Digital Discourses X Goethe Institute 

Agustus 24, 2022 6:54 pm || By

Perkembangan teknologi yang hadir untuk mengatasi permasalahan sehari-hari tanpa disadari juga memengaruhi para pekerja di baliknya. Mereka merasa dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi ini agar tetap relevan dan diperlukan dalam pasar kerja. Fenomena meningkatnya jumlah pekerja digital yang berbasiskan sebuah platform ini menuai pertanyaan, apakah ekonomi platform menjadi masa depan dari pekerjaan. Menjawab pertanyaan tersebut, Goethe Institute, Center for Digital Society Universitas Gadjah Mada, dan EngageMedia mengundang para peneliti yang mendalami fenomena ini untuk berdiskusi dalam serial diskusi panel “Digital Discourses – The Platform Economy: The Future of Work?” pada hari Selasa, 16 Agustus 2022 pukul 15.00 – 17.00 WIB. Para peneliti tersebut antara lain Oğuz Alyanak (Globalization, Work, and Production research group, WZB/Berlin Social Science Center), Cheryll Ruth R. Soriano (Department of Communication, De La Salle University, Manila) dan Suci Lestari Yuana (Departemen Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada). Acara disiarkan secara langsung melalui Zoom dan kanal YouTube CfDS (bit.ly/dd-platformeconomy).

Fairwork Principles sebagai Indikator Keadilan

Fairwork selaku organisasi yang berfokus pada keadilan pekerja platform menyatakan bahwa bersama kesempatan luas yang dibawa oleh ekonomi platform, ada risiko dan ketimpangan yang dirasakan para pekerjanya karena banyak dari mereka yang luput dari perlindungan hukum serta hak-haknya sebagai pekerja.

Untuk itu, Fairwork menyusun Fairwork Principles sebagai upaya penilaian dan advokasi terhadap perusahaan dan penyedia platform untuk meningkatkan kelayakan dan kesejahteraan pekerjanya. Fairwork Principles terdiri dari Fair Pay, Fair Conditions, Fair Contracts, Fair Management, dan Fair Representation. Tiap prinsip memiliki dua poin penilaian, sehingga perusahaan yang dianggap sangat layak dapat mencapai skor 10 dari 10. Prinsip-prinsip ini lah yang digunakan dalam presentasi masing-masing peneliti dari tiga negara berbeda, Jerman, Filipina, dan Indonesia. Namun, skor dari masing-masing wilayah tidak bisa secara langsung dibandingkan, sebagaimana dijelaskan oleh Cheryll bahwa “harus berhati-hati dalam membandingkan. Kebijakan pemerintah bisa jadi memengaruhi sikap platform untuk menjadi lebih baik.”

Ekonomi Platform di Jerman dan Filipina

Jerman menjadi salah satu lokasi penelitian Fairwork dengan melihat banyaknya perusahaan dan penyedia platform yang berlokasi di Berlin. Banyaknya perusahaan yang terlibat dalam ekonomi platform di Jerman tentu meningkatkan kompetisi dan jumlah platform serta kesempatan bagi pekerja platform. Namun, berdasarkan pemaparan Oğuz tingginya kompetisi antar platform tidak berarti meningkatnya standar kelayakan dan kesejahteraan pekerjanya.

Dari platform yang diteliti menggunakan Fairwork Principles, belum ada yang mencapai skor sempurna. Beberapa meraih skor 7/10 seperti Wolt. Walau begitu, masih banyak langkah yang perlu diambil untuk memperbaiki kualitas hidup pekerja platform di Jerman.

Sedangkan di Filipina, belum ada perusahaan yang mencapai nilai lebih dari 3/10. Padahal, ekonomi platform memiliki audiens yang cukup besar karena pemerintah menjadikan fenomena ini sebagai jawaban dari angka pengangguran di negaranya serta menyandingkan fenomena ini dengan branding pemerintah sebagai negara dengan penyedia pekerja kelas dunia.

Pada kenyataannya, masih banyak pekerja platform yang tidak sejahtera, berbanding terbalik dengan brand ‘pekerja kelas dunia’ yang digaungkan pemerintah. “Banyak platform yang tidak menyediakan kontrak formal dan memandang pekerjanya sebagai freelancer dan kontraktor independen, hal ini mendiskualifikasi mereka dalam mendapatkan perlindungan hukum dan bonus,” jelas Cheryll.

“Aktivisme dari para pekerja dibutuhkan tidak hanya untuk mengubah kebijakan perusahaan, tapi untuk membuka mata para politisi, media, dan peneliti mengenai keadaan para pekerja platform,” jelas Oğuz.

Potensi Ekonomi Platform di Indonesia

Tidak jauh berbeda dengan Filipina, penyedia platform di Indonesia masih belum banyak yang mencapai tingkat kelayakan yang sesuai. Hanya beberapa perusahaan besar yang memiliki komunikasi kebijakan yang jelas seperti Gojek, Grab, dan Paxel. Walau begitu, Yuana menyatakan bahwa meningkatnya skala ekonomi platform di Indonesia dapat menjadi potensi yang bisa dikembangkan untuk pengoptimalan digitalisasi usaha-usaha di Indonesia.

Potensi ini juga diiringi dengan meningkatnya pengguna internet di Indonesia. “Walau begitu, meningkatnya ekonomi platform juga berarti meningkatnya risiko dan angka pekerja yang tidak mendapatkan perlindungan,” tambah Yuana. Di akhir sesi, Yuana menekankan bahwa dalam mendukung perkembangan ekonomi platform, masukan dari pekerja yang terdampak harus didengarkan juga, bukan hanya para pemangku kebijakan dan aktor besar lainnya. “Apabila ekonomi platform menjadi masa depan dari pekerjaan, harus selalu dipahami bahwa dimensi kemanusiaan menjadi fokus utama agar pekerjaan yang hadir tetap memanusiakan pekerjanya dan mengedepankan keadilan sosial, bukan hanya tentang keuntungan bisnis,” tegas Cheryll.