[SIARAN PERS] Rooted in Security Basics: Digital hygiene to Avoid Cyber Attack | #Difussion78

September 16, 2022 4:11 pm || By

Implementasi internet di berbagai bidang membawa banyak manfaat untuk kehidupan manusia. Selain manfaat tersebut, sisi keamanan dalam menggunakan internet perlu menjadi konsen masyarakat pengguna. Isu keamanan di ruang siber ini oleh CfDS coba diskusikan bersama dalam Difussion #78 “Rooted in Security Basics: Digital Hygiene to Avoid Cyber Attack”, pada Kamis (8/9). Kegiatan ini menghadirkan Ismail Hakim (Founder Cyberkarta) dan Irnasya Shafira (Peneliti CfDS UGM) sebagai narasumber, dengan dimoderatori oleh Rizka Herdiani. Acara diskusi disiarkan melalui kanal YouTube CfDS  (https://www.youtube.com/watch?v=wefQTKWMI04). 

Ismail Hakim menanggapi kondisi keamanan siber di Indonesia saat ini, menyampaikan beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah bahaya siber bagi pengguna. Hal tersebut berdasarkan NIST ada lima kerangka untuk meningkatkan ketahanan siber  yang sesuai dengan infrastruktur, yaitu dari sisi identify, melihat aset perusahaan yang dilindungi, protect dengan menerapkan sistem pertahanan kepada aset, detect untuk mendeteksi serangan-serangan, response melihat cara merespon serangan, dan recovery menyiapkan cara organisasi mengembalikan kondisi sebelum serangan. 

Tidak hanya itu, pada presentasinya Ismail juga menyampaikan bahwa tantangan saat ini yang dihadapi Indonesia adalah terkait kebutuhan dan mindset, bukan hanya masalah teknis. Beberapa hal yang bisa diupayakan untuk mencegah dan menanggulangi bahaya siber oleh individu pengguna internet, seperti memerhatikan kompleksitas kata sandi, penggunaan password manager, penggunaan MIFA (Multi-Factor Authentication), perbanyak literasi untuk mengetahui karakteristik phising, tidak membuka tautan dari email mencurigakan, dan rutin memperbaharui program anti-virus. 

Security bukan sebuah produk, tapi proses yang berkelanjutan karena walaupun kita invest miliran untuk membuat security system, jika tidak bisa membedakan phising, tetap saja cyber crime tidak akan terelakkan. Jadi, kita perlu feedback dari sistem yang dibuat” imbuh Ismail. 

Menyambung dari pemaparan Ismail, Irnasya Shafira menekankan pentingnya menumbuhkan kebiasaan digital hygiene yang baik oleh pengguna internet. Digital hygiene sendiri dapat dipahami sebagai kegiatan dimana pengguna sistem elektronik senantiasa menjaga sistem tetap sehat dengan rutin memperbaharui keamanan data daringnya.  Masalahnya bukan hanya sekedar insiden siber semata, tetapi juga sosio-politik, sehingga untuk mempraktekan digital hygiene menjadi lebih penting lagi karena RUU PDP sampai saat ini belum juga disahkan. Praktek-praktek ini menjadi sangat penting karena Indonesia merupakan negara yang menduduki urutan ke-empat dalam Top Targeted Country menghadapi ancaman siber berdasarkan laporan threatmap.checkpoint.com. 

“Jika kita tidak mempraktekkan digital hygiene, kita hanya bisa menjadi spectator saat data kita tersebar dan akan mengubah selamanya attention-span kita sebagai manusia. Sebagai generasi muda cara mudah yang bisa dilakukan salah satunya dengan menggiatkan kampanye pentingnya menjaga data pribadi di dunia siber” ujar Irnasya.